Debat Pemira sebagai Ajang Adu Gagasan, Ketidakhadiran Sejumlah Paslon Jadi Sorotan
lpmalmillah.com - Pada hari ini (16/02/2026) agenda Pemilihan Umum Raya (Pemira) telah memasuki tahapan Debat Kandidat di ranah Universitas. Sebelumnya di tanggal 12-13 Februari 2026 telah diselenggarakan Debat Kandidat yang diikuti para peserta dari tingkat fakultas. Dalam pelaksanaannya Debat Kandidat ranah Universitas ini bertempat di Mini Hall Gedung Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) lantai 3. Agenda tersebut dilangsungkan kurang lebih pada pukul 09.30 WIB.
Agenda Debat Kandidat di tingkat Universitas ini diikuti oleh peserta dari Senat Mahasiswa Universitas (Sema-U) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema-U). Peserta dari Sema-U kali ini berasal dari berbagai Daerah Pilihan (Dapil), yaitu Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) dengan 3 orang peserta, Fakultas Syariah (Fasya) yang terdiri atas 3 orang peserta, terakhir Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) terdapat 1 orang peserta. Kemudian berbeda dari tahun sebelumnya, peserta dari Dema-U pada tahun ini terdapat 2 paslon.
Debat hari ini terselenggara dengan ketidakhadiran beberapa peserta. Kealpaan tersebut beberapa memberikan konfirmasi, sedangkan lainnya tidak terdapat keterangan. Mereka yang tidak hadir terdiri atas 2 peserta dari Sema-U Dapil FUAD dan paslon wakil ketua Dema-U nomor urut 02. Walaupun demikian dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (PKPUM) Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Nomor 1 Tahun 2026 dalam pasal 13 ayat 2 yang selaras dengan pernyataan ketua KPUM-U bahwa tidak adanya peraturan yang mewajibkan kehadiran peserta dalam debat. “Tidak ada regulasi yang mewajibkan peserta pemira untuk hadir dalam debat kandidat karena debat itu salah satu instrument kampanye yang difasilitasi oleh KPUM”, ujar Muhammad Al-Fatih sebagai ketua KPUM-U.
Rangkaian acara debat dimulai dari pembukaan secara seremonial, lalu sambutan oleh ketua KPUM Universitas sekaligus membuka acara. Agenda debat ini dimulai dari Sema-U Dapil FUAD, dilanjutkan Dapil FEBI, dan terakhir Dapil Fasya. Setelah debat dari Sema-U selesai terdapat jeda 5 menit untuk persiapan Debat Kandidat Dema-U. Setelahnya 2 paslon peserta Dema-U naik ke podium untuk menyampaikan visi, misi dan gagasan yang mereka usung. Dalam rangkaian acara Debat Kandidat tersebut terdapat 2 orang panelis dari unsur alumni yang melontarkan berbagai pertanyaan kepada para peserta, yaitu yang Abdullah Muiz dan Rian Gunawan.
Terkait
mekanisme debat kandidat pada hari ini, paslon ketua SEMA-U nomor urut 01,
Rizky Ardiansyah menanggapi bahwa
secara teknis berjalan semestinya. “Allhamdulillah
kongres kali ini sudah berjalan secara teknis dan sistematis. Tapi
permasalahannya adalah mahasiswa yang kurang minat untuk melihat kontestasi
kali ini,” ujarnya.
Mengenai kesiapan para peserta debat kali ini, mereka sudah cukup mempersiapakan diri sebelumnya dengan berbagai cara seperti yang dikatakan oleh Faros Mujahidin peserta debat Sema-U dari Dapil Fasya, “sebelum ini saya begitu banyak menganalisis bagaimana kondisi masyarakat kampus yang sedang mengalami transisi dari IAIN menjadi UIN, bagaimana kesehatan akademik dan non-akademik mahasiswa, apakah sudah sesuai dengan apa yang mereka inginkan atau tidak, kemudian saya kumpulkan aspirasi-aspirasi mereka melalui media digital dan kemudian saya diskusikan bersama teman-teman,” paparnya.
Tanggapan lainnya datang dari pasangan calon Dema-U nomor urut 02, Yahya Eka Agung yang hadir tanpa wakilnya, M. Fajar Romdoni. Ketidakhadiran Fajar dalam debat ini beralasan personal yang jelas dan rasional serta telah disepakati oleh paslon tersebut. Meskipun demikian, Yahya menyampaikan bahwa ia dan wakilnya memiliki pemahaman dan pengetahuan yang sejalan. ”Yang mana di sini saya dan wakil saya mempunyai pemahaman yang sama, pengetahuan yang sama di wilayah arah gerak yang akan kita bawa di wilayah Dema Universitas,” tegasnya.
Pada agenda
Debat Kandidat kali ini ketua KPUM-U mengungkapkan harapannya pada acara pemira
kedepannya, “harapannya, saya ingin
kontestasi ini dimaknai sebagai pesta demokrasi yang selayaknya, jadi
memilih pemimpin tidak asal pilih. Dan sebetulnya kesadaran politik
masing-masing itu juga seharusnya tumbuh dari personal masing-masing, Ketika
dua sisi tersebut bisa saling bersinergi, kemudian bisa memunculkan ekosistem
politik yang bagus di kampus kita,” pungkas Al-Fatih.
Reporter: Lidya, Putri, Ovan,

Tidak ada komentar
Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.