Debat Kandidat Pemira Fakulas Digelar, Kesiapan Calon dan Partisipasi Mahasiswa Jadi Sorotan
lpmalmillah.com - Agenda Pemira saat ini
telah memasuki tahapan Debat Kandidat di ranah Fakultas. Pelaksanaan Debat
Kandidat tingkat Fakultas dimulai sejak (12/02/2026) di Fakultas Ushuluddin,
Adab, dan Dakwah (FUAD). Sedangkan hari ini (13/02/2026) pelaksanaan debat
kandidat di lingkup tiga fakultas, yaitu Fakultas Syariah (Fasya), Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), dan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
(FTIK).
Forum debat kandidat
menjadi ruang krusial untuk menguji gagasan, visi, dan kesiapan para calon
pemimpin organisasi mahasiswa. Momentum ini bukan sekadar agenda seremonial,
tetapi juga wujud komitmen bersama dalam menjaga kualitas proses demokrasi
kampus yang transparan, partisipatif, dan berintegritas. Menindaklanjuti
rangkaian acara tersebut, debat kandidat di masing-masing fakultas berlangsung
dengan susunan acara yang telah ditetapkan. Rangkaian acara debat dimulai dari
pembukaan formal, pembacaan tata tertib, penjelasan mekanisme, lalu sesi debat
berurutan untuk Senat Mahasiswa (Sema), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dan
Dewan Ekseekutif Mahasiswa (Dema), dengan dua panelis dari unsur alumni.
Selanjutnya, dalam
kesiapan para peserta debat kali ini bisa dibilang biasa saja bahkan terdapat calon kandidat yang tidak
mempersiapkan apapun, seperti yang dialami oleh Hirfan Zain Muzaki calon Wakil
Ketua HMJ Tadris Matematika. “Kalau persiapan untuk debat ini biasa aja ya seperti mendalami materi debat dan mendalami visi-misi. Nanti pas debat kan ya itu (visi-misi) yang diperdebatkan. Jadi kalau sudah paham
visi-misinya ya aman aja debatnya.” ucapnya.
Tanggapan selanjutnya dari
calon Wakil Ketua Dema FTIK yang menyatakan bahwa adanya sedikit ketakutan
mengenai lawannya berupa kotak kosong. “Sebenarnya agak takut sih, Mbak.
Soalnya melawan kotak kosong, otomatis yang menjadi lawan saya bukan orang,
tapi kotak,” ungkap Fanda Syahida Ade Putri.
Debat kandidat merupakan agenda Pemira yang terbuka secara umum. Akan tetapi, partisipasi mahasiswa terbilang masih kurang. Salah satunya yang terjadi pada debat di FTIK. Menurut penuturan Fanda, partisipan kali ini tidak berimbang dengan jumlah keseluruhan mahasiswa FTIK. “Kalau menurut saya audiensnya kurang, apalagi mahasiswa FTIK jumlahnya banyak. Dan saya lihat (sewaktu acara berlangsung) audiens dari mahasiswa umum masih kurang,” tuturnya.
Selanjutnya, penyelenggaraan debat di hari Jumat juga menjadi salah satu alasan minimnya partisipasi mahasiswa. Sebab kebanyakan mahasiswa jarang mempunyai jadwal kuliah di hari Jum’at, seperti yang dirasakan oleh Muhammad Habibi Kurniawan. Calon Ketua Dema FEBI. Habibi merasa bahwa adanya debat kandidat tidak memberikan manfaat dan terkesan acara privat. “Sebenarnya saya mengkritisi sistem debat yang dibuat KPUM, karena tidak memberikan manfaat kepada para paslon dan mahasiswa. Menurut saya, konsep debat sekarang itu terkesan privat. Apalagi dilaksanakan di hari Jumat yang kebanyakan mahasiswa tidak ada jadwal kuliah. Sehingga debat tidak bisa dijangkau seluruh mahasiswa, dan terkesan membuang-buang waktu,” katanya.
Peran audiens dalam terselenggaranya debat sangat penting karena nantinya mereka yang akan dinaungi oleh kepemimpinan terpilih, seperti yang dipaparkan oleh Muhammad Habibi Kurniawan. "Sangat penting karena nanti merekalah yang akan kita naungi. Jadi mereka itu harus tahu grand plan dari kepemimpinan kita yang akan datang gitu. Dan mungkin Setelah mereka mengetahui, mereka bisa memberikan kritik dan saran kepada kita untuk dapat mengatakan apa apa hal-hal yang diperlukan untuk mahasiswa itu sendiri,” ujarnya.
Reporter: Hilmi, Hani, Septhina, Shuffa, Arfian, Nazala, Nadya, Fania, Zulaikin, Putri, Laisya
Penulis: Hani, NazalaEditor: Rio

Tidak ada komentar
Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.