Cuplikan

Alienasi di Antara Sorakan

Sabtu, Agustus 17, 2024

 

(Ilustrasi: Hai.grid.id)

Cerpen: Zhalma

Kring...!

Suara alarm berbunyi tepat di samping telinga. Dafa terbangun karena terkejut. Alarmnya menunjukkan waktu pagi pukul 04.30 WIB. Ia bergegas bangun dan mandi untuk mengikuti ospek hari kedua. Melangkahkan kaki untuk mengikuti serangkaian kegiatan ospek merupakan sesuatu yang membosankan bagi Dafa. Hari kemarin sangat menjenuhkan hanya duduk mendengarkan materi, kaki pegal, panas, dan mengantuk.

Waktu menunjukkan pukul 05.45 WIB, 15 menit sebelum pembukaan dimulai. Dafa makin tergesa-gesa menuju kampus, ia tidak ingin terlambat. Ia orang yang disiplin, dididik selalu menaati peraturan. Dafa berbaris paling depan diikuti oleh teman-teman mahasiswa baru lainnya dua banjar di setiap kelompok.

Serangkaian acara telah berlalu, ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 12.00 WIB, waktunya istirahat tiba.

“Daf, duduk sini!” panggil Agas setelah ishoma.

Dafa menghampiri Agas bercakap-cakap mengenai kegiatan hari ini. “Aku ga sabar nunggu orasi nanti, pasti akan ada problem dari kampus. Seru, nih, buat konten, hehe,” ucap Agas.

“Setau aku kita ga boleh dokumentasi waktu orasi, sih. Itu kan nyangkut nama baik kampus, kalau ada orang di luar yang salah tangkap bisa kena masalah kita,” jawab Dafa menanggapi ucapan Agas dengan santai.

“Kenapa masih bersantai duduk di situ?! Sudah tau ini jam berapa?” teriakan lantang terdengar dari parkiran sebelah utara. Dafa dan Agas bergegas masuk gedung karena mendengar teriakan itu.

“Udah waktunya mulai, Gas. Ayo masuk daripada kena semprot,” Dafa bergegas dari tempatnya duduk sambil mengajak Agas.

Wiu... wiu ... wiuu...!

Suara peringatan untuk mahasiswa baru berkumpul di halaman depan berbunyi dengan nyaring. Semua mahasiswa baru kebingungan. Untuk apa mereka dikumpulkan? Apa ada yang berbuat salah? Pertanyaan-pertanyaan yang terlintas riuh di kepala. Teriakan keras membuat mereka ketakutan, jantung yang berdebar menebak-nebak apa yang terjadi. Panitia memancing emosi para mahasiswa baru, sehingga terjadi keributan karena mereka tidak setuju dengan apa yang dikatakan.

Dafa belum terlalu paham dengan orasi yang ada di daftar agenda ospek ini. Ia menganggap ini keterlaluan, tetapi ia juga tidak berani mengungkapkan.

“Cari aman aja, lah, tidak usah ikut-ikutan. Bawa nama kampus mah berat, kalau ada yang nanya bilang aja bagus semua,” gumam Dafa lirih.

Ia hanya terdiam tidak mengungkapkan kritiknya terkait berjalannya ospek kampus. Sorakan demi sorakan terdengar, Dafa hanya mendengarkan dan terus membatin dalam hati.

“Benar, cari aman ajalah,”


Editor: Cantrisah

Hari Pertama Arga dan Makan Siang Gratisnya

Jumat, Agustus 16, 2024

 

(Ilustrasi: Pinterest.com)
Cerpen: Krisna

Arga terbangun dengan perasaan campur aduk. Degup jantungnya berdebar kencang, diiringi rasa gugup dan antusiasme yang sama kuatnya. Hari ini adalah hari pertama PBAK, awal dari petualangan barunya sebagai mahasiswa. Ia melirik jam di dinding, pukul 06.30 WIB. Apel pagi dijadwalkan pukul 06.00 WIB. Sudah terlambat 30 menit dan Arga harus bergegas.

Arga buru-buru mandi dan berpakaian. Ia tergesa-gesa, tapi tetap berusaha untuk rapi dan bersemangat. Ia keluar dari kamar kost dan menuju lapangan apel. Sesampainya di sana, ia melihat ratusan mahasiswa baru lainnya sudah berbaris rapi. Arga terlambat.

“Maaf, Kak!” Arga berlari terengah-engah menuju barisan paling belakang. Panitia yang bertugas mengawasi langsung menegurnya dengan nada keras. “Kenapa kamu telat?! Apa alasanmu?”

“Maaf, Kak. S-saya terlambat bangun,” jawab Arga dengan suara terbata.

“Terlambat bangun? Ini PBAK, bukan tempat buat malas-malas! Sebagai hukumannya, kamu baris sendiri di sebelah sana terus nyanyi lagu Indonesia Raya di depan teman-temanmu yang telat itu!”

Arga terdiam. Ia merasa malu dan tidak percaya diri dengan hukuman yang diberikan. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima. Dengan jantung berdebar kencang, ia berdiri di depan barisan mahasiswa baru, menatap ratusan pasang mata yang menyorotinya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mulai menyanyikan lagu kebangsaan dengan suara yang sedikit gemetar.

Setelah hukuman selesai, Arga kembali ke barisan. Ia merasa lelah dan jenuh. PBAK baru dimulai, tapi ia sudah merasakan kejenuhan. Acara demi acara berlangsung dengan monoton. Ceramah panjang tentang sejarah kampus, peraturan kampus, dan organisasi mahasiswa membuat Arga mengantuk. Ia mencoba untuk fokus, tapi pikirannya melayang ke mana-mana.

“Kapan ini selesai?” gumam Arga dalam hati. Ia melirik jam tangannya. Sudah pukul 11.30 WIB. Perutnya mulai keroncongan. Ia belum sarapan karena terburu-buru ingin sampai di kampus, agar keterlambatannya tidak makin siang.

“Eh, Arga, kamu mau makan siang ga? Aku udah laper banget ini,” tanya Rian, teman yang akan menjadi teman satu kelasnya.

“Mau banget, Ri. Perutku udah kayak drum, berisik banget.” Arga menanggapi pertanyaan temannya sambil mengelus perutnya dari balik baju batik kuningnya.

“Di sini ada bazar makanan. Tapi, katanya maba dapat makan siang gratis kok. Kita tunggu aja deh,” jawab Rian.

Arga mengangguk. Ia berharap makan siang gratis itu benar-benar ada. Namun, harapannya pupus ketika panitia mengumumkan bahwa makan siang tidak disediakan dan bagi mahasiswa baru yang lapar disuruh membeli makanan di bazar yang disediakan. Karena lapar yang tak tertahankan, Arga dan Rian akhirnya melangkahkan kaki untuk antri membeli makanan di bazar.

“Ini mahal banget, anjir. Harganya lebih mahal dari biasanya,” keluh Arga.

“Ya, gimana lagi? Udah kelaparan juga ini,” jawab Rian.

Arga menghela napas. Ia merasa PBAK ini sangat melelahkan, baik secara fisik maupun mental. Ia merindukan suasana rumah, tempat ia bisa bersantai dan menikmati makanan buatan ibunya.

Arga kembali ke tempat duduknya. Ia merasa kecewa dengan PBAK hari ini. Ia berharap acara ini lebih interaktif dan menyenangkan. Ia juga berharap panitia lebih memperhatikan kebutuhan mahasiswa baru, seperti menyediakan makan siang.

Semoga besok lebih baik!

Arga bergumam dalam hati. Ia memunculkan harapan PBAK besok akan lebih seru dan menyenangkan dan tentunya ia tidak terlambat mengikuti apel pagi lagi. Ah, rasanya memalukan jika harus solo concert di depan mahasiswa baru lainnya.

Editor: Cantrisah

Hikayat Mata Air Penyelamat

Selasa, Juni 04, 2024
(Ilustrasi: bing.ai.com)

Cerpen: Krisna

Sendang Beji merupakan sebuah sumber mata air pada zaman Kerajaan Kediri Kuno. Tempat ini digunakan sebagai tempat pemandian khusus yang diperuntukkan bagi keluarga kerajaan. Di Sendang Beji terdapat kolam yang disusun dari batu bata. Selain kolam, juga terdapat patung-patung yang letaknya berada di pinggir sendang tersebut. Salah satunya adalah Dwarapala, sebuah arca berukuran besar dengan raut muka yang menakutkan, dengan mata melotot, bertaring panjang, sambil berlutut dengan memegang sebuah gada, senjata tumpul dari kelapa bundar yang ditancapkan pada sebuah batang dengan duri di atasnya. Dwarapala adalah simbol penolak bala.

Hanya kalangan keluarga kerajaan saja yang boleh mandi di sendang, sedangkan masyarakat biasa yang bukan bagian dari kerajaan, dilarang mandi di sendang tersebut. Bilamana melanggarnya, maka akan mendapatkan hukuman langsung dari pihak kerajaan.

Ada salah satu anak dari Raja Kediri yang sering menggunakan sendang ini untuk mandi. Dia bernama Raden Bimasena. Bimasena merupakan seorang yang tegas dan bijaksana. Dari kebijaksanaannya itu ia sangat disegani oleh warga sekitar. Tak hanya rakyatnya, Raden Bimasena juga sangat dihormati oleh kalangan kerajaan bahkan dari kerajaan-kerajaan lain. Salah satu bukti kebijaksanaannya adalah ketika ia berhasil menangani sengketa tanah makam yang telah lama tidak dapat terselesaikan.

Suatu hari, ada seorang penjual rempah-rempah yang sangat keras kepala bernama Dewani. Ia sudah mengetahui peraturan bahwa rakyat biasa atau bukan dari kalangan Kerajaan Kediri dilarang mandi di Sendang Beji. Namun, penjual rempah ini memilih untuk melanggar peraturan tersebut. Ia merasa bahwa sendang tersebut adalah milik semua orang dan tidak ada alasan untuk membatasi aksesnya.

Di sisi lain, Raden Bimasena diiringi prajurit kerajaan yang dipimpin senapati sedang dalam perjalanan menuju Sendang Beji untuk mandi. Ketika sampai di sana, ia melihat penjual rempah sedang mandi di sendang yang seharusnya hanya digunakan oleh keluarga kerajaan. Bimasena merasa heran dan terkejut setelah melihat perilaku yang dilakukan penjual rempah tersebut. Sedangkan senapati, segera mendekati penjual rempah tersebut dengan wajah murka dan menegurnya.

“Apakah kau tidak tahu bahwa sendang ini hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan?” tanya senapati dengan suara yang tegas.

Penjual rempah itu tersenyum sinis. “Aku tidak peduli dengan peraturan itu. Sendang ini adalah milik semua orang, termasuk aku!” jawabnya tak kalah lantang.

Mendengar jawaban itu, Raden Bimasena yang masih berada di atas kudanya merasa dilema. Di satu sisi, ia harus menjaga peraturan dan martabat kerajaan. Namun di sisi lain, ia juga merasa bahwa sendang ini seharusnya dapat dinikmati oleh semua orang dan tidak hanya dari keluarga kerajaan saja. Sebagai keluarga kerajaan, ia merasa harus menjaga peraturan dan sebagai seorang pemimpin, ia merasa harus memakmurkan rakyatnya.

Senapati yang geram dengan tingkah rakyat jelata kurang ajar itu segera memberikan pelajaran kepada penjual rempah tersebut. Kemudian senapati mengutus seorang prajurit untuk mengamankan si penjual rempah tersebut untuk dijebloskan ke dalam sel tahanan sebelum kemudian diberikan hukuman sebagaimana aturan yang berlaku.

Penjual rempah itu merasa kebingungan dan takut setelah seorang prajurit mengikat kedua tangannya dan membawanya untuk dijebloskan ke dalam penjara. Ia merasa bahwa hal itu sudah keterlaluan. Namun ia tetap diam, karena takut akan mendapatkan hukuman yang lebih berat. Raden Bimasena yang menyaksikan semuanya, merasa prihatin dengan keadaan rakyat di sekitar sendang. Ia sadar bahwa mereka juga membutuhkan akses air yang cukup untuk keperluan irigasi dan sanitasi.

Warga desa hidup serba kesusahan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka harus mengambil air dari sumber mata air yang berada di sebuah bukit yang jauh dengan berjalan kaki dari desa. Oleh sebab itu, ia bermaksud mengubah fungsi Sendang Beji agar bisa dimanfaatkan rakyatnya. Malam itu, ia berdiskusi dengan senapati kepercayaannya.

“Aku merasa sendang ini seharusnya tidak hanya dinikmati oleh keluarga kerajaan saja, Senapati. Mengapa tidak kita mengubahnya menjadi sumber air bersih untuk rakyat sekitar? Rakyatku butuh air yang cukup untuk memenuhi petak-petak sawah mereka, agar bisa tumbuh subur dan ranum. Barangkali air sendang juga menjadi sumber penghidupan yang paling rakyatku inginkan,” ujar Raden Bimasena pada Senapati.

Senapati mengangguk paham dengan usulan Raden Bimasena, akan tetapi ia merasa niat baik tuannya itu akan sulit dilaksanakan. “Kendati demikian, bagaimana dengan peraturan dari kerajaan, Raden? Apakah kita bisa mengubah peraturan tersebut?” tanya Senapati.

Raden Bimasena tersenyum. “Aku akan membicarakannya dengan raja. Aku yakin raja akan setuju jika ia mengetahui manfaat yang bisa didapat dari keputusan ini,” jawabnya.

Setelah Raden Bimasena berbicara dengan Senapati, ia kemudian segera mengajukan permintaan untuk mengubah fungsi Sendang Beji kepada Raja Kediri. Dengan langkah mantap, Bimasena masuk ke aula kerajaan lalu bersimpuh sambil menundukkan kepala. Salam penuh hormat ia sampaikan kepada sang ayah sebelum mengutarakan maksud hatinya.

“Salam hormat Raja. Semoga kesejahteraan mengalir dalam kehidupanmu.”

“Hamba menghadap dengan maksud melakukan permohonan khusus. Kiranya demi kesejahteraan rakyat Kediri, Sendang Beji tidak hanya dinikmati oleh keluarga kerajaan saja. Tampaknya cukup egois apabila tidak membaginya dengan rakyat Kediri yang membutuhkan sumber air murni untuk menyokong persawahan dan penghidupan mereka,” ucap Bimasena.

Raja Kediri terlihat agak ragu dengan permintaan tersebut. “Kau tahu sendiri Raden Bimasena, rakyat biasa tidak diperkenankan untuk menggunakan sendang itu, Putraku. Jika kita mengubah aturan itu, bagaimana dengan martabat keluarga kerajaan?”

Raden Bimasena menjawab dengan tegas, “Rajaku, Raja Kediri ayahku, hamba mengerti bahwa sebelumnya hal yang demikian merupakan peraturan yang harus dijaga, tetapi rakyat sedang membutuhkan bantuan kita. Mengubah sendang menjadi sumber air bersih untuk rakyat Kediri, akan memberikan dampak yang besar bagi mereka dan ini akan memperkuat hubungan baik antara kerajaan dan rakyat. Hamba percaya hal ini juga akan membuat keluarga kerajaan lebih dihormati.”

Mendengar kata-kata tersebut, Raja Kediri akhirnya setuju untuk mengubah fungsi Sendang Beji. “Baiklah, aku akan menyetujuinya. Namun, kau harus memastikan bahwa air dari sendang tersebut tetap bersih dan terjaga dengan baik,” titah Raja Kediri.

“Kami akan membentuk sebuah komite khusus untuk menjaga dan mengelolanya, Raja. Hamba sendirilah yang akan memimpin komite tersebut,” jawab Bimasena berusaha meyakinkan ayahnya.

“Baiklah jika kau bersedia bertanggung jawab menjaga sendang. Aku izinkan kau mengubah fungsi sendang, Raden Bimasena. Kelola dengan baik, karena kau mengerti sanksi yang akan kau dapat jika membuatnya berantakan,” pesan raja.

Raden Bimasena merasa senang dan bersyukur atas keputusan ayahnya. “Terima kasih, Raja. Hamba akan memastikan bahwa sendang tersebut terjaga dengan baik dan memberikan manfaat yang maksimal bagi rakyat sekitar,” ucapnya.

Setelah diputuskan oleh Raja Kediri, sendang Beji pun resmi diubah fungsi menjadi sumber air bersih untuk rakyat sekitar. Rakyat boleh mengambil air dari sendang itu setiap mereka membutuhkan. Penjual rempah Dewani pun diampuni dan dibebaskan oleh Raden Bimasena dan ia diberikan kesempatan untuk bergabung dengan komunitas rakyat yang bekerja untuk mengelola dan menjaga kebersihan sendang tersebut.

Ketika masyarakat sekitar mengetahui adanya perubahan tersebut, mereka merasa sangat gembira dan berterima kasih kepada Raden Bimasena dan Raja Kediri. Dari sinilah warga mulai dapat menggunakan air dari sendang dan lingkungan menjadi sehat. Suatu keputusan kecil yang Raden Bimasena buat, membawa perubahan besar bagi kehidupan rakyat Kediri. Ternyata, peraturan yang mengikat di masa lalu, bisa berubah menjadi sebuah manfaat jika digunakan secara bijaksana.


Editor: Cantrisah





Bukan Sekadar Pertarungan Suara

Rabu, Februari 21, 2024

 

(Ilustrasi: www.bing.ai.com)

Cerpen: Albhet

Hiruk pikuk aktifitas mahasiswa di kampus pergerakan terdengar membara. Para calon pemimpin berteriak menggaungkan ide dan gagasan-gagasannya. Poster tersebar di segala sudut ruang kampus bersama visi-misi terbaik mereka. Joko, salah satu mahasiswa kampus itu turut berpartisipasi dalam dinamika politik kampus, ia mengutarakan paslon pilihannya, memprovokasi para mahasiswa agar memiliki pemahaman yang selaras dengan gagasan Galih, paslon dukungan Joko.

Sementara itu di tempat lain, Icha mengumpulkan para mahasiswa untuk berdiskusi tentang gagasan yang akan diusung setelah ia terpilih menjadi Presiden Mahasiswa (PRESMA). Ia memiliki pendapat bahwa pemimpin merupakan alat eksekusi dari setiap cita-cita yang diperjuangkan oleh mahasiswa, pemimpin seharusnya mampu untuk merealisasikannya. Icha juga menjelaskan visi-misi yang akan dilaksanakan ketika dia berhasil menjadi Presiden Mahasiswa.

Bagai di tengah kerumunan orang di swalayan, kampus yang semula tenang kini menjadi ramai dipenuhi perbincangan hangat terkait pemilihan Presiden Mahasiswa, banyak mahasiswa mencoba menerka siapa yang layak menjadi Presiden Mahasiswa. Kubu Galih bersikukuh hanya Galih yang patut diperjuangkan untuk menduduki kursi kepresidenan mahasiswa. Mereka mengganggap rancangan program unggulan Galih untuk mengadakan konser setiap bulan sekali adalah hal yang tepat di tengah kesibukan dan kepenatan mahasiswa akan proses literasi akademik dalam kampus. Namun, pihak Icha menyayangkan gagasan utama dari Galih, mengingat bahwa kampus merupakan ajang untuk menggali ilmu dan alat retorika yang linier dengan dunia luar, sehingga selayaknya kampus digunakan untuk mengkaji dan berdiskusi terkait isu-isu yang berkembang dalam masyarakat.

Joko pun memutuskan untuk mengambil langkah lebih jauh. Dia mulai mengorganisir serangkaian acara yang menampilkan visi dan misi Galih secara langsung kepada mahasiswa. Acara tersebut mencakup diskusi terbuka, pertemuan tatap muka, dan bahkan konser musik untuk menarik lebih banyak perhatian.

Sementara itu, Amer dan pendukung Icha lainnya tidak tinggal diam. Mereka merespons dengan mengampanyekan pentingnya kesehatan mental dan diskusi yang berkelanjutan. Mereka berpendapat bahwa pendekatan Galih terhadap pendidikan terlalu santai dan tidak cukup mempersiapkan mahasiswa untuk tantangan dunia nyata dan konser sebulan sekali hanya menghamburkan uang.

Hari demi hari berlalu, polemik antar kubu semakin memanas. Joko terus mengkampanyekan kubu Galih secara terus-menerus di setiap lorong-lorong kampus. Begitu juga sebaliknya, kubu Icha terus mendengarkan aspirasi mahasiswa dan melakukan diskusi secara masif sebagai perlawanan dari kubu Galih. Perang dingin ini terus berlangsung selama berminggu-minggu, hingga pada puncaknya terjadilah adu mulut antar pendukung masing-masing pihak.

“Memilih itu menggunakan rasio dan logika!” seruan Amer selaku pendukung Icha di depan Risa, salah satu pendukung Galih.

Dengan pandangan mata mendelik, tak terima dengan ucapan Amer, perempuan berkacamata itu meninggikan suaranya, “Buat apa program diskusi setiap hari jika kesehatan mental sudah hilang? Apa yang kamu perjuangkan?!” ucap Risa lantang mempertanyakan.

Dalam keadaan seperti ini, Joko merasa semakin tertantang untuk memperjuangkan pilihan calon politiknya. Meskipun ide-ide Icha menarik bagi sebagian mahasiswa, Joko tetap yakin bahwa Galih adalah sosok pemimpin yang lebih cocok untuk membawa perubahan yang mereka butuhkan. Dia percaya bahwa visi Galih tentang kampus sebagai pusat pembelajaran yang menyenangkan, lebih relevan dengan kebutuhan psikologis masa depan mahasiswa.

“Hidup itu jangan dibikin susah, kalau ada yang seru, kenapa harus monoton? Dalam hidup itu harus ada change. Dengan kita sehat secara mental, kita akan mudah dalam memahami sebuah masalah,” ungkap Galih dalam sesi kampanyenya.

Tak terima dengan ungkapan Galih yang seolah mengatakan pihak Icha tidak peduli dengan kesehatan mental, Amer berdiri dan berjalan menuju podium. Ia mengambil mikrofon dari tangan Galih.

“Dengan segala hormat, Galih,” kata Amer, “Kamu salah paham tentang apa yang kami perjuangkan. Kami tidak menentang perubahan atau kesenangan. Kami hanya percaya bahwa kesehatan mental adalah bagian penting dari pendidikan. Tanpa itu, semua pengetahuan dan keterampilan yang kita peroleh tidak akan berarti!” Semua mata tertuju pada Amer selaku pendukung Icha.

Merasa ini adalah panggung kampanyenya, Galih tak terima, ia mendorong Amer seraya teriak penuh emosi “INI BUKAN PANGGUNGMU! SANA PERGI!”

Amer yang tak terima dengan ungkapan itu, ia menantang, “Ini kampus, bukan milik bapakmu! Aku juga bayar!” suara Amer dengan nada cetus.

Tak terima dengan ungkapan Amer, Galih tersulut emosi hingga para pendukungnya tidak terima dan langsung melakukan tindakan kekerasan berupa pengeroyokan. Suasana menjadi tegang. Semua mata tertuju pada Amer. Ini adalah puncak dari semua konflik dan perdebatan yang telah berlangsung selama ini.

“tiiit…tuuuttt…tiittt…tutttt!” Bunyi sirene keamanan kampus datang setelah mendapatkan laporan dari mahasiswa lain untuk menghentikan serangan pada Amer.

Melihat sengitnya suasana kongres pada tahun ini, Rektor Universitas membuka sesi debat antar calon Presma dengan disaksikan oleh dosen dan mahasiswa. Pada debat pertama, Tim Galih memaparkan fokus isunya, yaitu mental health, diskusi terbuka, dan boot leader. Pihak Icha memaparkan tiga fokus utamanya juga, yakni public disscussion, skill upgrading, dan studi banding antar BEM Universitas.

Seiring berjalannya waktu, momentum kampanye semakin meningkat. Forum diskusi tersebut ternyata menjadi titik balik dalam kampanye. Mahasiswa dari berbagai latar belakang mulai menyadari pentingnya mendengarkan pandangan dari semua pihak sebelum membuat keputusan. Rektor merasa bangga bisa berperan dalam menciptakan ruang bagi dialog yang konstruktif. Namun, semakin mendekati hari pemilihan, ketegangan antara kedua kubu semakin terasa. Serangan balik dan pernyataan tajam terus bermunculan dari kedua belah pihak.

Pada hari pemilihan, kampus dipenuhi dengan antusiasme dan kegembiraan. Mahasiswa berkumpul untuk memberikan suara, menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin mereka selama satu periode mendatang. Suasana haru terasa di udara, karena pentingnya momen ini bagi masa depan kampus.

Setelah proses pemungutan suara selesai, kampus hanya dipenuhi keheningan yang tegang. Semua orang menunggu dengan cemas hasil penghitungan suara. Pada akhirnya, saat pengumuman hasil pemilihan disampaikan, kampus amsal kembang api yang disulut, dipenuhi sorak-sorai kegembiraan.

Galih berhasil terpilih sebagai Presiden Mahasiswa dengan dukungan mayoritas suara. Sebuah momen bersejarah bagi kampus, di mana mahasiswa telah memilih pemimpin yang mereka percaya akan membawa perubahan positif bagi masa depan mereka.

Icha merasa bangga dan lega dengan hasilnya. Meskipun dirinya tidak menjadi pemenang, dia merasa puas telah berpartisipasi dalam proses demokrasi kampus dengan sikap oposisi dan konstruktif. Dia selalu ingat pada tulisan Pramoedya Ananta Toer di buku Bumi Manusia, “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”. Pun Icha yakin bahwa dengan Galih sebagai Presiden Mahasiswa, kampus akan menjadi tempat yang lebih baik untuk belajar dan berkembang bagi semua mahasiswa.

Editor: Cantrisah

Sebuah Cerpen yang Mempertaruhkan Idealisme

Sabtu, Februari 10, 2024

 

(Ilustrasi: AI Ilustration)

Cerpen: Krisna

Aji merupakan seorang mahasiswa jurusan sastra yang berada di salah satu Universitas Negeri. Ia memiliki minat yang besar terhadap politik dan sastra. Ia sering menulis puisi, cerpen, dan esai yang mengkritik kondisi politik di Indonesia. Ia juga sering mengikuti diskusi, seminar, dan demonstrasi yang berkaitan dengan isu-isu politik dan sosial. Dalam jiwanya tumbuh keinginan menjadi seorang penulis dan aktivis yang bisa memberikan perubahan bagi bangsa dan negara.

Suatu hari, ia mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah lomba menulis cerpen nasional yang diselenggarakan oleh sebuah majalah terkenal. Ia sangat bersemangat dan tertantang untuk mengikutinya, karena ia berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang baik untuk menunjukkan bakat dan kemampuannya. Ia berharap bisa menulis cerpen yang bisa menyentuh dan menggugah hati para pembaca dan juri. Ia berharap bisa menang, mendapat penghargaan, juga publikasi.

Di luar itu semua, ia tidak menyangka bahwa akan menghadapi dilema dan konflik yang besar dalam proses menulisnya. Ia merasakan tekanan dan godaan yang kuat dari berbagai pihak. Ia sering mendapat saran dan masukan dari teman-temannya, juga dosen-dosen. Tak jarang, Aji mendapat anjuran dan rayuan dari orang-orang yang berkepentingan untuk menulis cerpen yang mendukung dan memuji mereka. Bahkan, ia pernah mendapat ancaman dan pemerasan dari orang-orang yang tidak suka dengan kegiatan menulis cerpen yang ia lakukan, karena dianggap mencemarkan nama baik mereka.

Salah satu konflik yang ia alami adalah dengan Rina, salah satu temannya yang aktif dalam organisasi mahasiswa. Rina memiliki pandangan politik yang berbeda dengan Aji. Ia lebih pragmatis dan oportunis. Ia lebih memilih untuk menulis cerpen yang bisa menguntungkan dan membesarkan dirinya dan organisasinya. Ia berusaha untuk mempengaruhi Aji untuk menulis cerpen yang sesuai dengan harapannya.

"Aji, kamu mau ikut lomba menulis cerpen itu, kan?" tanya Rina.

"Iya, kenapa?"

"Kamu harus hati-hati, lho. Lomba itu, kan, diselenggarakan oleh majalah yang pro-pemerintah. Mereka pasti punya agenda tertentu. Jangan sampai kamu menulis cerpen yang menjelek-jelekkan pemerintah atau menyanjung-nyanjung oposisi. Nanti kamu bisa kena masalah," saran Rina berniat mempengaruhi.

"Apa maksudmu? Aku, kan, cuma mau menulis cerpen yang sesuai dengan pandanganku. Aku, kan, punya hak untuk menyuarakan pendapatku. Aku tidak takut untuk mengkritik pemerintah yang korup dan gagal dalam memimpin. Aku tidak malu untuk mendukung oposisi yang berani dan bersih. Aku tidak mau diam dan pasrah melihat kondisi politik yang buruk," ujar Aji yang keukeuh dengan pendapatnya.

"Ya, tapi kamu harus realistis, Aji. Kamu mau menang lomba, bukan? Kamu harus tahu selera dan keinginan juri. Kamu harus bisa menulis cerpen yang bisa membuat mereka senang dan terkesan. Kamu harus bisa menulis cerpen yang bisa mendapat penghargaan dan publikasi. Kamu harus bisa menulis cerpen yang bisa membuka jalan dan menunjang karirmu." Rina berargumen dengan segala bujuk rayunya.

"Aku tidak peduli dengan semua itu, Rin. Aku tidak mau menulis cerpen hanya untuk menyenangkan dan mengesankan orang lain. Aku tidak mau menulis cerpen untuk sekadar mendapat penghargaan dan publikasi. Aku mau menulis cerpen yang bisa memberikan perubahan politik negeri ini," jelas Aji tidak terpengaruh pendapat Rina.

"Dasar idealis. Kamu itu terlalu naif dan keras kepala. Kamu itu tidak tahu diri dan situasi. Kamu itu hanya mau menulis cerpen yang bisa membuatmu puas dan bangga. Kamu hanya mau menulis cerpen yang bisa membuatmu bermasalah dan tersingkir. Kamu tidak sadar bahwa cerpen yang akan kamu tulis hanya akan membuatmu gagal dan menyesal," sindir Rina.

"Dasar oportunis. Kamu itu terlalu pragmatis dan pengecut. Bahkan kamu tidak punya idealis, Rin. Kamu hanya mau menulis cerpen yang bisa membuatmu aman dan nyaman. Kamu hanya mau menulis cerpen yang bisa membuatmu populer dan sukses. Pun kamu menulis cerpen hanya untuk kekayaan dan kekuasaan," balas Aji tak kalah sengit.

Mereka pun beradu argumen dan saling menyalahkan. Mereka tidak bisa mencapai kesepakatan dengan baik. Pada akhirnya mereka berpisah dengan perasaan marah yang membara di dada masing-masing.

Selain dengan Rina, Aji juga mengalami konflik dengan Pak Budi, seorang dosen yang juga anggota partai yang sedang berkuasa. Pak Budi memiliki kepentingan politik yang berbeda dengan Aji. Ia lebih pragmatis dan oportunis dari Rina. Ia juga seorang cerpenis. Namun, cerpen yang ia tulis hanya untuk membesarkan nama dan partainya. Pak Budi berusaha untuk mempengaruhi Aji untuk menulis cerpen yang sesuai dengan harapannya.

"Aji, kamu sudah selesai menulis cerpen untuk lomba itu?" tanya Pak Budi.

"Belum, Pak. Saya masih dalam proses revisi,"

"Revisi apa lagi? Kamu, kan, sudah menulis cerpen yang bagus dan menarik. Kamu juga sudah menulis cerpen yang sesuai dengan tema dan kriteria lomba?” ucap Pak Budi mempertanyakan.

"Maaf, Pak. Saya merasa cerpen saya belum sesuai dengan hati dan pikiran saya. Saya merasa cerpen saya belum sesuai dengan idealisme yang saya bangun,” kata Aji sedikit tidak percaya diri.

"Apa maksudmu? Kamu, kan, sudah menulis cerpen yang sesuai tema dan kriteria, yang tentunya juga bisa membuat saya bangga,” ulang Pak Budi coba meyakinkan.

"Maaf, Pak. Saya tidak setuju dengan cerpen yang telah saya tulis. Saya juga tidak setuju dengan tema dan kriteria lomba yang telah ditentukan, pun terhadap keinginan Bapak," ujar Aji.

"Apa yang tidak kamu setujui? Tema dan kriteria lomba itu, kan, sudah jelas dan logis. Harapan dan keinginan saya terhadap cerpen kamu itu, kan, sudah masuk akal dan wajar?" Pak Budi kembali mempertanyakan pendapat mahasiswanya itu.

"Saya tidak setuju dengan tema lomba yang mengharuskan saya menulis cerpen yang mendukung dan memuji pemerintah. Saya tidak setuju dengan kriteria lomba yang mengharuskan saya menulis cerpen yang tidak mengandung kritik dan sindiran terhadap pemerintah yang berkuasa. Apalagi terhadap keinginan Bapak agar saya memuji partai yang Bapak ikuti, saya tidak mengindahkan sama sekali," tegas Aji.

"Dasar anak muda! Sok idealis!" sindir Pak Budi sambil lalu.

Aji merasa bingung dan gelisah dengan semua itu. Ia mulai meragukan tujuan awal menulis cerpen. Ia sadar bahwa menulis cerpen itu tidak sebebas dan sejujur yang ia kira. Kenikmatan menulis cerpen hanya angan belaka. Namun, ia tidak mau menyerah begitu saja. Ia ingat bahwa ia masih punya idealisme yang selalu ia pegang erat.

Pada akhirnya, ia memutuskan untuk tetap menulis cerpen sesuai keinginan hatinya. Ia berusaha untuk tidak terpengaruh dan terjebak oleh tekanan dan godaan yang ada. Ia berusaha untuk tidak mengikuti dan memenuhi saran dan masukan yang tidak sesuai dengan prinsip dan gayanya. Ia berusaha untuk tidak mendukung dan memuji anjuran dan rayuan yang tidak sejalan dengan nilai dan keyakinannya. Ia berusaha untuk tidak menyerang dan mencemarkan ancaman dan pemerasan yang tidak berdasar dan tidak adil.

Aji menulis cerpen yang bertemakan perubahan politik dalam sudut pandang mahasiswa. Ia menulis tentang bagaimana seorang mahasiswa yang awalnya apatis dan acuh terhadap politik, menjadi sadar dan peduli terhadap politik. Ia menulis tentang bagaimana seorang mahasiswa yang awalnya pasif dan diam terhadap politik, menjadi aktif dan bersuara terhadap politik. Ia menulis tentang bagaimana seorang mahasiswa yang awalnya takut dan ragu terhadap politik, menjadi berani dan yakin terhadap politik.

Dengan cerpen yang ia tulis, ia merasakan kepuasan dan kebanggaan yang besar. Ia merasakan bahwa ia telah menulis cerpen yang sesuai dengan hati dan pikirannya. Ia merasakan bahwa ia telah menulis cerpen yang efektif dan bermanfaat bagi pembaca dan juri. Meski dengan kesadaran penuh, ia telah siap jika bakal dibenci oleh siapa pun, bahkan hilang.

Editor: Cantrisah

Suara-Suara yang Dihiraukan

Minggu, Agustus 13, 2023
(Ilustrasi: canva.com)

Cerpen oleh: Rokhim


Suara ayam jago terdengar masuk telingaku. Pagi pun telah tiba dengan menggugah semangat. Mataku masih tertutup, tapi aku mencoba untuk memaksa membukanya sambil sedikit berjalan menuju kamar mandi.

Bruaakk!

Suaranya terdengar sangat keras, aku pun seketika teriak, “Aduhhh….”.

Dengan rasa sakit yang membelenggu tubuhku, aku sedikit melirik. Oh, ternyata kakiku menabrak meja yang berada di depan kamarku. Melihat hal tersebut, aku hanya bisa sedikit senyum menertawakan diri. 

Bersamaan dengan suara ‘bruaak’ tadi, terdengar suara Si Mbok berteriak. “Nyapo wi Leeee? (Kenapa, Nak?).” 

“Ndak ada apa-apa, Mbok,” jawabku dengan sedikit menahan rasa sakit. 

Si Mbok menggelengkan kepalanya melihat sikapku. “Nek mlaku ke alon-alon to, Leeee. Wong dalan gedhene sak mono moso gak ketok. (Kalau jalan hati-hati, Nak. Padahal jalannya lebarnya segitu, masa gak kelihatan),” ujarnya.

Aku hanya menggaruk kepalaku, sambil meringis. Antara menahan sakit dan malu. Kemudian, aku segera bergegas menuju ke kamar mandi dengan kesadaran penuh akibat menabrak meja depan kamarku. Ternyata, ada untungnya ternyata menabrak meja tadi.

Ting..ting..ting!

Pukul enam pun tiba, bunyi bel jam terdengar keras dari bilik air. Aku pun tetap tenang menanggapi bunyi bel itu. Padahal hari ini ada kegiatan PBAK di kampus yang dijuluki sebagai kampus hijau. 

Selang beberapa menit, Robi, temanku, tiba menghampiri rumahku dengan sedikit wajah yang panik sambil berkata, “Ayo, segera! Keburu telat ini.” 

Aku pun segera memakai seragam yang sudah diamanatkan oleh panitia PBAK. Segeralah aku menghampiri Robi yang berada di depan rumah sambil bertanya.

“Kenapa kok buru-buru, santai aja,” ujarku dengan raut muka yang tenang. 

“Lho, kamu lupa ya? Kan nanti PBAK Universitas jadwal datangnya harus jam enam,” balas Robi.

“Lah, iya. Ayo,” balasku. Dengan wajah panik aku segera berangkat.

Suara angin kencang masuk ke kupingku. Robi mengendarai motor dengan kecepatan melebihi rata-rata. Beberapa kali suara bel motor sering dinyalakan oleh Robi, dengan maksud mengisyaratkan untuk memberikan jalan. 

Tak lama, tibalah kami di kampus dengan segera kami memarkirkan motor. Melihat parkiran motor sepi orang, aku dan Robi langsung lari sekencang-kencangnya menuju lokasi PBAK Universitas yang berada di lapangan belakang kampus.

Sampai di dekat pintu masuk lapangan, aku sedikit kaget melihat acara yang belum mulai. “Lho, kok belum mulai?” 

Aku bertanya kepada Robi “Lho, Bi katanya jam enam sudah mulai?” 

 “Halah biasa, Indonesia kan jam karet,” jawab Robi dengan sedikit tertawa.   

Kami pun menuju ke lapangan itu dengan santainya. Di situ kami disuruh bergabung sama teman-teman lainnya dan melihat penampilan organisasi kampus yang diberi nama UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Di tengah penampilan UKM itu aku sempat berbicara pada Robi.

“Wah, ini nanti seru acaranya!” ucapku Dengan sangat gembiranya

Robi menjawab “Lha iya, kelihatannya seru sampai akhir.”

Waktu terus berjalan, matahari pun menepi ke arah tenggelamnya. Tibalah ke penampilan UKM terakhir. Kami sangat girang melihat penampilan UKM yang terakhir ini, yang mengadopsi kebudayaan di kampus hijau. UKM Seni Reyog-lah namanya. Penarinya sangat gemulai dengan menikmati lantunan lagu-lagu yang bernuansa kejawen.  

Akhir penampilan UKM telah usai. Waktu sore tiba, lantunan-lantunan adzan pun telah berkumandang. Namun, mengapa acara masih belum usai? Aku menunggu dengan pikiran positif bahwa sebentar lagi acara akan usai. Namun, kunanti-nanti sampai pukul setengah lima sore, acara belum usai.

Tak lama, ada seorang mahasiswa baru sebagai peserta bersuara dengan lantang. “Woi, wes jam berapa iki?! Waktunya sholat!” teriaknya dengan nada tinggi.

Lalu, suara-suara dari mahasiswa baru lainnya menyusul, bersautan meminta acara selesai. Karena, waktu sudah menunjukan pukul setengah lima. 

Namun, panitia tidak menghiraukan suara dari mahasiswa baru tersebut, hingga mendekati waktu maghrib. Sampai di situ, ada yang memberontak untuk keluar dari tempat acara itu. Ada juga yang berteriak kepada panitia untuk menyelesaikan acara. Di situ pun aku juga ikut menyuarakan hal serupa dengan ucapan mahasiswa baru itu.

 “Udah gede mosok nggak tau waktu sholat!” Teriakku.

Panitia akhirnya mulai kewalahan dan mulai menanggapi teriakan-teriakan mahasiswa baru.

“Mohon tenang semuanya. Sebentar lagi ya, tinggal penyerahan simbolis terhadap mahasiswa baru,” ujar salah satu panita.

Dengan berat hati dan kecewa mahasiswa baru tersebut mengikuti perintah dari panitia. Beruntungnya penyerahan simbolis terhadap mahasiswa baru itu tidak memakan waktu yang lama, sehingga masih ada waktu sedikit untuk melaksanakan sholat ashar. 

Akhirnya kami dari mahasiswa baru pulang dengan rasa kecewa terhadap jadwal yang semestinya selesai, tapi ternyata tidak. Akibatnya kami harus berburu waktu untuk menunaikan ibadah sholat ashar. Seharusnya sebagai panitia, mereka paham bahwa kampus hijau yang seluruh mahasiswanya memeluk agama Islam, tidak sepantasnya menghiraukan kewajiban agamanya. Apalagi mengenai sholat. Ahh, itu salah satu hal yang mengecewakan bagiku.

Ala Kadarnya

Jumat, Agustus 11, 2023
(Ilustrasi: bobo.id)

Cerpen oleh: Rena

Langit mulai gelap ketika aku sampai di rumah setelah seharian mengikuti PBAK. Ya, meskipun ngaret, untungnya kami dipulangkan sebelum adzan maghrib berkumandang. Sampai di kamar, segera kuluruskan kaki yang terasa pegal karena terlalu lama duduk. Rasanya sedikit membosankan karena hanya duduk dan mendengarkan. Merasa nyaman, aku memejamkan mata hingga perlahan kesadaranku pun menghilang.

Aku terbangun ketika ponselku berbunyi. Dengan sedikit kaget, aku mengambil ponsel untuk melihat siapa yang menelepon. Ternyata ada panggilan masuk dari temanku. Alamak, sudah 8 panggilan masuk darinya. Dikarenakan aku adalah teman yang baik, segera aku menelepon balik nomornya.

“Lama amat, sampai capek telpon,” gerutunya begitu mengangkat panggilanku.

“Hehe, maaf ya. Ketiduran aku tadi. Kenapa, Mbe?” tanyaku setengah mengantuk.

“Masih sempat tidur kamu?! Tugas bikin esai emang udah selesai?” tanya Jimbe sedikit menyentak.

Mendengar pertanyaan Jimbe seketika mataku terbuka lebar. Aku langsung bangkit dari tidurku. Begitu kulihat jam di meja ternyata sudah jam 9. Spontan aku langsung menepuk jidat. Bagaimana bisa aku melupakan tugas PBAK untuk membuat esai?

“Aduh, lupa aku, Mbe. Kamu udah selesai?” tanyaku.

“Belum, ini lagi dikerjain.” Aku hanya berdehem, kukira Jimbe sudah selesai ternyata sama saja.

“Woi, Mbe, ini isinya apaan ya? Gatau aku moderasi tuh apaan,” keluhku yang memang belum paham tentang tema tugas esai kami.

“Kamu kira aku tahu? Tentu tidak, kawan. Pokok dikerjain aja deh. Daripada kena hukuman, kan? Emang ga malu kalau disuruh nyanyi depan umum kaya orang itu?”

Memang sih ada mahasiswa yang dihukum menyanyi karena katanya tidak mengikuti peraturan. Entah peraturan apa yang dia langgar, aku pun tak paham. Seketika aku membayangkan bagaimana jika berada di posisinya. Aduh, gak kebayang malunya. Apalagi ditertawakan satu angkatan, jadi objek komedi dadakan.

“Iya sih, malunya itu loh. Ya udah, aku juga mau ngerjain. Nasib … nasib, begadang kita malam ini,” keluhku. Hanya saja mau sebanyak apapun mengeluh, tugas tidak akan selesai dengan sendirinya.

Segera setelah kumatikan telepon dari Jimbe, kuambil laptop yang berdebu di atas meja. Sayangnya setelah kubuka, aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kutulis. Rasanya otakku sudah buntu duluan. Kubuka aplikasi G untuk mencari informasi tentang tema esai. Kulihat, kubaca, tapi masih tidak paham.

‘Au ah, ketik aja udah. Paham ga paham urusan belakang,’ pikirku kala itu. Lagipula bila dipikir-pikir, tidak mungkin semua karya kami akan dibaca. Karyanya saja ada banyak, ga mungkin kan dilihat one by one? Biasanya sih begitu.

Huruf demi huruf kurangkai hingga menjadi susunan kalimat yang aku pun tidak begitu paham. Diiringi rasa kantuk, aku melanjutkan hingga akhirnya dua paragraf sudah selesai. Bagiku dua pragraf sudah banyak, sayangnya masih sepertiga dari jumlah kata yang ditentukan. Aku menghela napas karena bingung menulis apa lagi.

Tung tak tung

Notifikasi ponselku berbunyi. Ternyata ada pesan dari grup kelompok pbak. Penanggung jawab kelompok kami mengingatkan barang-barang apa yang harus dibawa besok. Kemudian diakhiri dengan pesan penuh kasih sayang agar tidak begadang.

‘Waduh, Kak. Tugas negara belum selesai, gimana ga begadang,’ balas Jimbe. Tugas negara katanya? Ada-ada saja memang makhluk Tuhan satu ini. Merasa penasaran, aku menelepon nomor Jimbe untuk menanyakan progres esainya.

“Gimana, Mbe? Udah selesai punyamu?” tanyaku.

“Wohoho, ya sudah dong. Cepat selesaiin punyamu, jangan sampai tidur kemaleman terus bangun telat, habis lah kau hahaha,” ejeknya. Mentang-mentang dia sudah selesai, seenaknya mengejek. Akan tetapi, benar juga sih kata Jimbe. Kalau tidak segera selesai bisa-bisa aku bangun telat karena begadang.

“Kenapa ya kita disuruh buat ginian?” tanyaku pada Jimbe.

“Ya gatau, kok tanya saya. Hanya Tuhan dan orang atas yang tahu, kita orang bawah diam dan ikut saja,” jawab Jimbe.

“Haha, ada-ada aja.”

“Udah ya, aku mau tidur duluan, sampai jumpa besok dini hari,” ucap Jimbe sebelum mematikan telepon.

Aku pun melanjutkan esai yang sedari tadi belum selesai. Kutuangkan semua yang terlintas di otak. Paragraf demi paragraf aku selesaikan hingga akhirnya selesai juga tugas yang sedikit merepotkan ini. Tanpa kubaca ulang, langsung kubuat judul dan keterangan data diri. Siapa yang peduli aku paham atau tidak? Hal yang terpenting, tugasku sudah selesai. Segera kututup laptop dan bersiap tidur karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ah, sampai jumpa hari esok yang melelahkan.