Cuplikan

PBAK FAKULTAS HARI KEDUA TERLAKSANA TUAI SEJUMLAH KENDALA

Foto Shuffa

Rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas telah tiba di hari kedua dan terselenggara di lingkup fakultas masing-masing. Hari kedua ini Kamis (20/8/2026) sekaligus menutup rangkaian PBAK di tingkas fakultas yang telah terselenggara dari kemarin.

Pada PBAK Fakultas hari kedua ini, setiap fakultas memiliki kendala yang berbeda-beda. Salah satunya terjadi pada PBAK Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) yang mengalami kendala dari pihak kampus. Selaras dengan hal tersebut, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) FTIK menyatakan bahwa, “kemarin waktu rapat itu dari kampus itu menyiapkan videotron. Akan tetapi ketika hari pertama, kemarin tiba-tiba katanya videotron itu rusak dan kita (panitia) tidak menyiapkan banner untuk panggung utama. Nah, jadinya panggung utama itu kosong. Itu menjadi salah satu kendala,” tutur Rizki.

Selain itu, kendala lain juga dialami oleh Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), dan FTIK berupa pendanaan dari rektorat yang hanya dapat dicairkan sebanyak 25%. Hal ini menyebabkan kebingungan di ketiga fakultas tersebut. Seperti halnya yang disampaikan oleh Arselna Ahda selaku Ketua Dema FUAD bahwa kendala yang dialami masih berkaitan dengan pendanaan, yang mana dari rektorat hanya memberikan down payment (DP) sebesar 25 %. Sementara itu, beberapa kebutuhan seperti vendor dan suvenir peserta harus dilunasi terlebih dahulu. Akhirnya, panitia memilih untuk melakukan iuran guna membeli barang-barang yang diperlukan.

Arselna juga menyatakan bahwa peraturan terkait dana tersebut bukan merupakan hal baru dari rektorat. Pada acara besar seperti PBAK, biasanya pendanaan akan dicairkan seluruhnya setelah Laporan Pertanggungjawaban (LPJ). Sementara itu terdapat uang muka yang perlu dilunasi terhadap pihak vendor. “Dan ternyata beberapa vendor itu sulit untuk menemukan kesepakatan. Jadi, kayak misalnya sound dan panggung dan lain-lain itu habis 7.800 sekian atau 8 juta, misalnya. Nah, dana DP 25% itu cuma 2 juta. Sedangkan DP yang diminta 4 juta, 50%. Nah, jadi kesulitan di situ. Tapi, kalau enggak salah ini merupakan problem yang sama dari tahun kemarin,” ungkapnya.

Tidak hanya Arselna, Habibi Kurniawan selaku Ketua Umum Dema FEBI juga mengeluhkan proses pencairan dana PBAK yang tidak selaras dengan aturan yang ada. “Dari awal dari awal dikatakan melalui fakultas yang buat fakultas. Nah, terus kembali ke sini lagi yang buat akademik. Nah, itu bingung banget. Kadang yo antara Dema dan akademik itu enggak sinkron,” tuturnya.

Foto: Hilmi

Sementara itu dari panitia PBAK FTIK mengeluhkan bahwa dalam pencairan dana terdapat sedikit kendala yang disinyalir merupakan efek dari tahun lalu. Ini selaras dengan pernyataan Alya selaku ketua pelaksana PBAK FTIK tahun ini. “Kalau pendanaan emang mungkin sekarang agak susah ya kalau dari akademiknya, karena memang dari faktor tahun lalu itu. Jadi setiap barang harus di RAB-kan dan benar-benar kompleks gitu. Misal hari ini ya hari ini ya harus disetorkan gitu. Jadi ketika hari meminta DP besok harus ada DP  dan seperti itu. Dan ketika kita menghubungi dari pihak sananya itu  pihak sananya agak susah dihubungi,” tuturnya.

Selain dari panitia PBAK, kendala juga datang dari mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Haidar Nur Ahdan Rifai dan Muhammad Farid Fu’adi. Keduanya menyoroti perbedaan antara PBAK di kampus mereka dengan universitas lain. Menurut mereka di universitas lain, mahasiswa baru sudah mendapatkan almamater sejak hari pertama, sedangkan di UIN Ponorogo, mahasiswa baru baru mendapatkannya pada hari ketiga. “Buat panitia khususnya univ itu kayak yang bagian almamaternya harap disiapkan jauh-jauh hari. Jadi, dibagikan sebelum PBAK dan hari pertama pembukaan PBAK itu sudah menggunakan almamater, sebagai lambang suatu kebanggaan,” ujar Haidar.


Reporter: Hilmi, Nazala, Shuffa, Putri, Lidya, Zulaikin, Laila

Penulis: Zulaikin, Lidya
Editor:Satrio

Tidak ada komentar

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.