PBAK-F Hari Pertama: Teknis, Dana, Hingga Perlengkapan Mahasiswa Baru Menjadi Perhatian
lpmalmillah.com - Rabu
(19/08/2026), PBAK hari kedua telah terlaksana di setiap fakultas Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. PBAK Fakultas (PBAK-F) ini dikoordinasi langsung oleh masing-masing
panitia fakultas dan berlangsung pada tanggal 19 sampai 20 Agustus 2026.
Sebagaimana namanya, PBAK-F menjadi awal pengenalan lingkungan kampus pada
ranah fakultas.
Pelaksanaan
PBAK-F terbagi dalam empat tempat yang berbeda di beberapa titik kampus.
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) bertempat di Graha Watoe Dhakon
kampus I, dan Fakultas Syariah (Fasya) menggunakan GOR Ma’had Putri UIN
Ponorogo. Sedangkan, dua fakultas lainnya mengambil di area kampus II, yaitu
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) berada di antara Gedung FUAD dan
Fasya, dan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) bertempat di Masjid
Darussolikin, yang mana lokasi ini berbeda dari tahun sebelumnya yaitu berada
di Gedung Indrakila.
Salah satu
perubahan signifikan terjadi pada pelaksanaan PBAK FUAD. Perbedaan tempat dari Gedung
Indrakila Kampus I ke Masjid Darussolikin di Kampus
II didasari pada pertimbangan teknis yang sebelumnya dirasa kurang
efektif. “Sebenarnya, dari dulu Kabag menyarankan dikampus
II, dikarenakan kalau di Gedung Indrakila lantai 4 beberapa panitia mengeluhkan
teknisi acara yang dirasa merepotkan jika di tempat tersebut,” tutur Satya
Chandra selaku ketua pelaksana PBAK FUAD.
Untuk tahun
ini, PBAK Fasya dan PBAK FTIK memiliki kesamaan dalam tema, yaitu mengedepankan
pendekatan humanis kepada mahasiswa baru. Konsepnya menerapkan dengan
menyesuaikan kegiatan agar mahasiswa baru dapat mengenal lingkungan akademik
dan kemahasiswaan tanpa merasa terbebani. “Kalau PBAK Fasya ini lebih ke saya
tekankan lebih kepada humanis ke maba (mahasiswa baru). Jadi, semua peraturan atau ketentuan itu
sekiranya dibuat segampang mungkin untuk
para peserta atau dari maba itu gampang untuk mencari ataupun tidak
mengeluarkan uang sebesar itu,” tutur Faqih Zainal selaku ketua pelaksana PBAK Fasya.
Demikian pula Alya Nur
Aisyah selaku ketua pelaksana PBAK FTIK mengatakan bahwa konsep humanis dipilih
dengan mengacu pada SK Dirjen. Menurutnya, konsep tersebut juga menjadi pembeda
dari pelaksanaan PBAK pada tahun-tahun sebelumnya yang dinilai lebih menekan
mahasiswa baru. “Kita benar-benar menggunakan kalimat yang humanis itu, kita
memanusiakan. Jadi, kita tidak terlalu menggercepkan atau membuat
anak-anak terlalu terburu-buru,” ujar Alya.
Di sisi
lain, pelaksanaan PBAK FEBI mengalami kendala dalam aspek pendanaan. Muhammad
Habibi Kurniawan selaku Ketua Umum Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) FEBI
menyampaikan bahwa kendala utama bukan berasal dari teknis pelaksanaan,
melainkan pada keterlambatan pencairan dana. Menurut Habibi, dana awal atau down
payment (DP) pelaksanaan PBAK-F baru cair sekitar dua atau tiga hari
sebelum pelaksanaan. Sehingga panitia harus menggunakan kas Dema FEBI untuk
memenuhi DP kebutuhan awal
kegiatan
PBAK. Ia juga menyebutkan bahwa keterlambatan tersebut dipengaruhi oleh konsep
kegiatan yang belum optimal, serta koordinasi antara pihak akademik dengan Dema
Universitas yang belum sepenuhnya selaras.
Meskipun menghadapi sejumlah kendala, panitia FEBI tetap berusaha
menyampaikan kritik dan saran secara profesional. Habibi menegaskan bahwa
penyampaian kritik kepada Dema Universitas dilakukan dengan rasionalisasi yang
jelas tanpa menggunakan cara-cara yang tidak etis, serta tetap menjunjung
tinggi norma organisasi.
Selain itu, terdapat masukan dari mahasiswa baru FUAD terkait kebutuhan
konsumsi seperti sarapan dan lauk yang belum melalui proses pengecekan dengan
baik. Hal ini disampaikan oleh Fahrur Rozi, mahasiswa baru program studi
Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). “Kami sudah mempersiapkan sejak pagi,
bahkan berangkat pukul 05.00. Namun ketika sampai belum dilakukan pengecekan
dengan baik. Hal ini cukup mengecewakan,”ujarnya.
Adapun,
harapan dari beberapa
panitia yakni terjaganya komunikasi yang baik antara panitia maupun mahasiswa
baru. “Harapannya mungkin komunikasinya
paling dijaga. Baik dari panitia maupun maba, kami berharap pihak universitas dan fakultas juga lebih responsif. Karena
jika hanya satu pihak yang responsif, maka pelaksanaan kegiatan bisa terkendala” jelas Alya selaku ketua pelaksana PBAK FTIK.
Reporter: Claudea, Septhina, Nazala, Hilmi, Shuffa, Hani, Putri, Farhan
Penulis: Hilmi, Nazala
Editor: Satrio


Tidak ada komentar
Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.