Iklan Layanan

Cuplikan

Launching Majalah Edisi Ke-37, LPM aL-Millah Lakukan Dialog Bertema Kekerasan Seksual


  lpmalmillah.com - Senin (14/06/2021), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) aL-Millah IAIN Ponorogo telah melaksanakan launching majalah edisi ke-37 dengan judul "Perempuan Bicara Atas Nama Merdeka" dan dialog interaktif yang bertema "Kekerasan Seksual Mengancam: Lindungi Diri Dengan Paham Gender dan Kekerasan Seksual" yang menghadirkan Evi Muafiah selaku Rektor IAIN Ponorogo, Haniek Hidayati dari Woman Crisis Center (WCC) Amita Ponorogo, dan Walida Asitasari selaku relawan dari P2TP2A Dinsos Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten Ponorogo.

Acara yang diikuti oleh 127 peserta dan undangan di Graha Watoe Dhakon IAIN Ponorogo ini dimulai pukul 09.07 WIB dengan pemotongan tumpeng oleh Muchlis Daroini, pembina LPM aL-Millah, sebagai simbolis rasa syukur LPM aL-Millah atas launching-nya majalah tersebut.

Dendy Pramana Putra selaku pemimpin redaksi majalah mengungkapkan alasan memilih judul itu karena perempuan yang identik dengan kehidupan serba lemah mulai mendapat ruang bicara dalam memperjuangkan hak-haknya untuk meraih kemerdekaan. “Perempuan kerap diidentikkan dengan kehidupan yang serba lemah, mulai tingkah laku hingga perlakuan masyarakat terhadapnya. Dalam lingkup masyarakat modern, perempuan tidak lagi dikenal sebagai manusia yang lemah, tetapi juga bisa segala hal. Oleh karenanya, perempuan lambat laun memperoleh ruang bicara di masyarakat dan memperjuangkan hak-haknya untuk meraih kemerdekaan,” jelas Dendy.

Majalah tersebut launching dengan tiga topik utama yang meliputi: bahasan utama, laporan utama, dan liputan khusus. "Ini membahas tiga topik, pada bahasan utama, majalah ini menjelaskan tentang Gerakan Perempuan dari Masa ke Masa: Melawan Domestikasi, Menumbangkan Patriarki; pada laporan utama Polemik Pemenuhan Hak Pekerja Perempuan, Sudahkah Dilakukan (?); dan liputan khusus mengangkat Marak Kasus Pelecehan Seksual di Berbagai Kampus, IAIN Ponorogo Belum Aman," ujar Dendy. 

Pada bahasan utama yang bertajuk Gerakan Perempuan dari Masa ke Masa: Melawan Domestikasi, Menumbangkan Patriarki menerangkan bahwa gerakan perempuan telah mengalami kemajuan. 

Seperti halnya yang diungkapkan Haniek Hidayah selaku ketua WCC Ponorogo bahwa keseteraan gender sudah jamak dipahami oleh masyarakat. Sebab, persepsi masyarakat soal kualitas kepemimpinan sudah tidak lagi dipandang berdasarkan jenis kelamin. "Buktinya sekarang di tingkat desa banyak kepala desa yang perempuan. Artinya kan di situ masyarakat secara umum sudah menerima bahwa perempuan juga punya kualitas, kemampuan yang sama dengan laki-laki," jelas Haniek.

Sedangkan pada laporan utama yang berjudul Polemik Pemenuhan Hak Pekerja Perempuan, Sudahkah Dilakukan (?) menjelaskan bahwa banyak pabrik di Indonesia yang tidak memenuhi atau menerapkan peraturan hak-hak pekerja perempuan meskipun telah diatur di dalam UU Ketenagakerjaan. Buktinya, tidak adanya kebijakan yang dilakukan Pabrik Minyak Kayu Putih (PMKP) terkait pemberian cuti haid dan melahirkan pada pekerja perempuan. 

Pada liputan khusus dengan judul Marak Kasus Pelecehan Seksual di Berbagai Kampus, IAIN Ponorogo Belum Aman mengungkapkan bahwa kekerasan seksual saat ini marak di dunia pendidikan. Kekerasan di dunia pendidikan kini tidak memandang tampilan fisik korban ataupun tampilan dan status sebuah instansi pendidikan. Seperti kasus alumnus Universitas Islam Indonesia (UII), kasus yang terjadi di UGM yang dilakukan oleh teman satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga pelecehan seksual di IAIN Ponorogo yang dilakukan oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kepada mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FATIK) yang tidak ingin disebut namanya.

(Majalah LPM aL-Millah Edisi 37)

Terkait dialog interaktif, Dendy mengatakan bahwa alasan memilih tema itu karena seseorang harus bisa melindungi diri sendiri dari kekerasan seksual sebelum melindungi sekitar. "Karena kekerasan seksual itu dekat dengan kita. Jadi, siapapun kita itu dapat terkena kekerasan seksual baik itu secara verbal maupun secara non-verbal. Dengan adanya itu, kita harus paham dulu mengenai kesetaraan gender dari kita sendiri. Jadi kalau diri kita paham, kita bisa melindungi diri kita sendiri. Nah, kalau kita bisa melindungi diri kita, nanti kita bisa melindungi orang lain. Soalnya kalau kita saja tidak bisa melindungi diri kita sendiri, bagaimana bisa melindung orang lain?" ungkapnya.

Evi Muafiah selaku pemateri pertama menjelaskan bahwa kampus IAIN Ponorogo sudah mulai menuju ke kampus yang responsif gender. “Yang jelas kampus kita ini sudah mulai menuju ke kampus yang responsif gender. Di tahun 2016, kita sudah kerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kita mendapatkan perlindungan dalam bentuk kegiatan,” ungkap Rektor IAIN Ponorogo ini. 

Selain itu, Evi menuturkan untuk menambah pemahaman mengenai kesetaraan gender bisa dilakukan dengan menambahkan mata kuliah yang terdapat kesetaraan gender bagi mahasiswa di perguruan tinggi. “Ada 4 cara, salah satunya dengan memunculkan di mata kuliah; kemudian mata-mata kuliah yang tidak bergender, tetapi materi yang diajarkan itu ada nuansa perempuannya," tambahnya

Sementara itu, Haniek Hidayati dari Amita WCC menjelaskan sikap yang harus diambil jika orang terdekat kita menjadi korban kekerasan seksual. “Ketika orang terdekat kita menjadi korban kekerasan seksual, hal pertama yang perlu kita lakukan jangan menghakimi atau memojokkan korban dengan kata-kata yang malah membuat jatuh si korban,” jelasnya.

Lebih lanjut, Haniek menyarankan untuk pergi ke P3A jika korban tidak mampu membuat keputusan sendiri terkait hal yang dialaminya. “Jika si korban dapat menyampaikan atau melaporkan dengan orang terdekatnya, itu sudah luar biasa, serta serahkan semua keputusannya padanya, namun bila si korban tidak bisa memberikan keputusan silakan pergi ke pusat pelayanan yang menangani perlindungan yang menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tambahnya.

Terakhir, Walida Asitasari dari P2TP2A Dinas Sosial, P3A Kabupaten Ponorogo menekankan untuk tidak menganggap remeh perbuatan yang dilakukan orang, karena bisa saja hal tersebut menjadi pemicu kekerasan. “Berbagai macam bentuk kekerasan itu pada mulanya adalah berakar dari keseharian, jangan dianggap remeh dari apa yang dilakukan oleh orang lain, bisa jadi menjadi pemicu atau kita yang justru menguatkan terjadinya kekerasan yang mungkin dan akhirnya krusial,” tutur relawan tersebut.

Kegiatan dialog interaktif diakhiri dengan sesi tanya jawab oleh peserta dan pemateri. Pada sesi tersebut Muhammad Syamsudin dari jurusan Manajemen Pendidikan Islam semester 4 menanyakan terkait upaya yang bisa dilakukan dari pihak luar kampus dalam menyadarkan tentang kesetaraan gender dan menerapkan mengenai penanganan kekerasan seksual. 

Haniek menjawab bahwasanya dalam menerapkan penyadaran kesetaraan gender dan penanganan kekerasan seksual dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan WCC. "Langkah yang dapat dilakukan yaitu menganalisis kampus mengenai potensi yang bisa menimbulkan kekerasan seksual dan kesetaraan gender dengan bekerjasama dengan WCC. Sebab, potensi kekerasan seksual yang bisa disebabkan dengan minimnya kesadaran gender itu bisa mudah dilihat oleh orang luar. Sedangkan orang dalam mungkin akan sulit melihat mengenai potensi tersebut," jelas Haniek.

Acara tersebut mendapatkan berbagai tanggapan dari peserta, salah satunya Novi Tri Sholihah. Novi mengungkapkan bahwasanya acara tersebut sangat menarik untuk diadakan, khususnya di lingkungan kampus. "Menurut saya, acara yang membahas tentang kesetaraan gender dan kekerasan seksual seperti ini sangat menarik. Sebab, jarang kampus yang membahas hal seperti ini di kampus. Acara ini juga membuat kita melihat bahwa kesetaraan gender di IAIN Ponorogo itu sudah sama rata," ungkap ketua umum Koperasi Mahasiswa (KOPMA) Al-Hikmah IAIN Ponorogo tersebut.

Dengan dilaksanakannya acara launching majalah yang bertema perempuan ini, Dendy berharap mahasiswa dapat menjaga diri dari kekerasan seksual dan meminimalisir kekerasan seksual pada mahasiswa. "Adanya launching majalah mengenai perempuan ini diharapkan mahasiswa IAIN lebih sadar gender dan kekerasan seksual. Sehingga itu dapat meminimalisir kejadian kekerasan seksual dan mahasiswa juga dapat menjaga diri dari kekerasan,” harapnya.

Reporter: Dewi Ayuni, Dela, Winddy

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.

banner