Iklan Layanan

Cuplikan

Era New Normal, PBAK Abnormal

 

Sumber gambar: unpaders.id

Opini oleh: Rifa

    Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) adalah kegiatan pembekalan bagi mahasiswa baru untuk memperkenalkan antropologi kampus. PBAK dilakukan setiap awal tahun ajaran baru dan diikuti oleh mahasiswa baru (Maba). Namun PBAK tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, PBAK  kali ini dilakukan secara online dengan media sosial pendukung yang ditentukan oleh panitia. Mulai dari presensi sampai penyampaian materi dilakukan secara online, melalui live streaming, recording, Zoom, Google Meet, sampai dengan Google Form.

    Memang PBAK tahun ini merupakan suatu hal yang baru bagi semua elemen-elemen yang ada di kampus. Bagaimana tidak, yang biasanya PBAK dimulai sejak matahari belum terbit sampai matahari hampir terbenam, dengan dihadiri oleh ribuan mahasiswa, kini tidak kita temui lagi, tidak ada lagi teriakan-teriakan panitia bagi mahasiswa yang terlambat, tidak ada lagi orasi dari mahasiswa senior. Tentunya tidak ada lagi panitia yang mencari-cari kesalahan dari peserta. Mahasiswa cukup “stay at home” dan memperhatikan PBAK yang dilakukan secara online. Meskipun memungkinkan mahasiswa tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh pemateri saat penyampaian materi-materi.

    Setiap hal baru pasti memiliki sisi entah itu lebih baik maupun lebih buruk atau mungkin sama. Tetapi menurut penulis, pelaksanaan PBAK kali ini tidak lebih baik dari pada sebelumnya. Dilihat dari segi panitianya, panitia kurang mendapatkan pengalaman lebih serta pembatasan panitia. Namun mungkin dirasa lebih praktis meskipun tidak ada yang tidak membingungkan. Karena dalam satu kasus masih dijumpai masalah yang serupa yaitu regristrasi maba yang masih belum tuntas padahal PBAK sudah berjalan. Dalam hal kecil seperti pembagian kelompok PBAK juga mengalami kerancuan.  

    Dalam PBAK kali ini mahasiswa tidak merasakan kebingungannya serta tidak merasakan kerancuan dalam pembagian kelompok flashmoop, dimana flashmoop seakan menjadi agenda rutin dalam pelaksanaan PBAK, karena jika tanpanya PBAK dirasa kurang lengkap. Namun kerancuan pada PBAK online kali ini lebih berdampak pada komplain-komplain mahasiswa baru berupa NIM atau pembagian kelompok PBAK yang belum jelas, padahal sudah kita ketahui bahwa pihak kampuslah yang membagi NIM bagi mahasiswa baru.

    Jika begini siapa yang bisa disalahkan, mahasiswa baru atau dari pihak kampus yang kurang tegas? Anehnya lagi hal-hal seperti ini selalu menjadi problem ketika PBAK  dilaksanakan.

    Berdasarkan penuturan dari Ahmad Zainal Abdi selaku ketua PBAK, menurutnya PBAK kali ini lebih baik dari pada PBAK normal sebelumnya dengan alasan penyampaian materi yang lebih maksimal serta meminimalisir pengeluaran dana PBAK dari pihak kampus (whattt?). “PBAK ini jauh lebih bagus karena di hari pertama kita recording, materi yang disampaikan bisa lebih maksimal karena pada proses recording andai kata ada suasana yang kurang hidup bisa direcord ulang. Dari sisi materinya jadi lebih runtut, lebih rapi, semua peserta bisa fokus melihat itu. Sedangkan ketika itu dilakukan secara offline dan harus mengkoordinasikan 2000 orang," ungkapnya.

    Bahkan ia juga lebih setuju jika PBAK institut di tahun yang akan datang, akan dilaksankan secara online lagi. “Untuk pelaksanaan tahun depan lebih cenderung kepada online walaupun pandemi sudah berakhir. Hasilnya lebih maksimal. Tapi sebagian khusus untuk materi institut itu saya lebih cenderung online. Untuk fakultas ya monggo,”” ujarnya.

    Apakah iya, lebih efektif dilakukan secara online? Mulai dari pengondisian mahasiswa sampai tersampaikannya materi kepada mahasiswa. Apakah tidak lebih mudah dilakukan secara offline untuk memaksimalkan materi secara tatap muka? Bukankah pengenalan akan jauh lebih baik jika bisa bertatap muka secara langsung? Ahh sudahlah....

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.

banner