Iklan Layanan

Cuplikan

Tak Hilangkan Makna, Kesenian Gong Gumbeng Digelar Sederhana


Foto oleh Darmanto
    Pelaksanaan kegiatan tahunan bersih desa dengan kesenian Gong Gumbeng digelar hari ini (17/07/20). Kegiatan ini diikuti oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, mahasiswa, masyarakat setempat, PAKOSO (Paguyuban Keluargo Surakarto) hingga pengamat seni budaya. Bersih desa dilakukan di Telaga Mantili Dirdjo, Dusun Banyuripan Desa Wringinanom Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo. Prosesi bersih desa tahun ini dilakukan dengan sederhana, mengingat pandemi Covid-19 yang belum kunjung reda.

    Gong Gumbeng merupakan kesenian asli dari Desa Wringinanom yang seluruh alat musiknya berasal dari bambu. Tujuan diadakan kegiatan ini ialah untuk melestarikan seni budaya yang ada, serta wujud rasa syukur kepada sang Penguasa karena sudah memberikan sumber daya alam dan kenikmatan yang melimpah.

    Bersih desa ini dimulai pukul 13.15 WIB, setelah Sholat Jum’at. Mulanya, perangkat desa dan sesepuh desa berjalan dari arah pintu masuk telaga sampai ke sekitar telaga Mantili Dirdjo. Rombongan tersebut membawa ambengan yang berisi sesaji yang kemudian diletakkan di salah satu tempat di pinggir telaga, tepatnya di utara pohon Trembesi yang besar. Setelah mempersiapkan posisi masing-masing, kepala desa mulai membakar kemenyan dan menaburkan beras kuning ke telaga. Acara selanjutnya yaitu kenduri sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dilanjutkan dengan pagelaran Gong Gumbeng yang diiringi tari Tayub.
   
    Darmanto, sesepuh Desa Wringinanom mengatakan bahwa prosesi bersih desa tahun ini dilakukan dengan sederhana. Tak banyak masyarakat yang turut berpartisipasi, biasanya perangkat desa melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mengikuti acara, maka tahun ini berbeda. Perangkat desa tidak melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk wajib datang karena pandemi Covid-19, jadi masyarakat yang datang pun juga dibatasi. Pembacaan naskah maupun do’a-do’a tidak seperti biasanya namun dilakukan dengan singkat. Demikian dengan tari Tayub yang juga digelar singkat. “Warga sementara dibatasi, makanya kita tidak woro-woro. Tapi sekarang generasi muda sudah canggih seperti facebook nah dari itu mereka menginformasikan kegiatan,” ujar Darmanto.

    Meskipun demikian, menurut Darmanto hal ini tidak menghilangkan makna dari adat budaya peninggalan nenek moyang. “Walaupun sederhana, kegiatan ini tidak menghilangkan makna adat budaya dari nenek moyang,” terangnya.
   
    Di samping itu, perangkat desa Wringinanom tetap mengindahkan protokol kesehatan guna mencegah penularan Covid-19. Mulai dari menyediakan tempat cuci tangan di depan pintu masuk, di sekitar panggung utama, serta di belakang Telaga Mantili Dirdjo. Selain itu juga memberikan pengarahan agar tetap menjaga jarak minimal satu meter.
   
    Kedepannya, Darmanto berharap agar kesenian ini tetap dilestarikaan. “Semoga wabah yang membuat menderita semua warga di dunia ini segera hilang. Juga kegiatan bersih desa ini agar tetap dilestarikan dan semoga Telaga Mantili Dirdjo dapat berkembang menjadi sebuah wisata,” harapnya.

Reporter: Siti Umi, Fanisa Rifda

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.