Iklan Layanan

Cuplikan

Apakah Kita Generasi Terakhir?

duniaandromedaku.blogspot.com

Oleh: Rangga 
    Sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu bumi diciptakan, yang mana telah mengalami berbagai macam evolusi hingga bermunculan teori yang membahas tentang keragamannya. Banyak mahkluk hidup yang pernah mendiami bumi, seperti penghuni pertama Nabi Adam hingga penghuni yang sekarang ini. Namun pernakah kita bertanya sampai berapa lama lagi bumi ini bisa bertahan? Dari hujan meteor yang mengakhiri masa Jurassic sampai wabah Covid-19 yang sampai saat ini masih banyak memakan korban. Banyak spekulasi mengatakan bahwa, apakah mungkin kita sedang di fase akhir zaman?

    Sebelum berbicara mengenai masalah ini lebih jauh, mari kita sejenak kembali pada masa lalu. Peradaban awal muncul pertama kali di Mesopotamia Hulu (3500 SM), diikuti dengan peradaban Mesir di sepanjang Sungai Nil (3300 SM) dan peradaban Harappa di lembah Sungai Indus (pada masa kini merupakan wilayah Pakistan, 3300 SM).

    Dari sejarah singkat di atas gagasan awal atau munculnya peradaban diyakini oleh Arkeolog dari University of Chichago, James Henry yang menyebutkan bahwa awal dari semua peradaban di seluruh dunia dimulai dari satu tempat yang mana tempat tersebut dikenal dengan nama Lembah Indus (daerah Pakistan). Namun jauh sebelum ditemukannya peradaban modern, suku Maya dari Peru lah yang lebih dulu mengenal tentang hal ini, dibuktikan dengan ditemukannya suatu artefak kuno yang berumur sama dengan Mesopotamia (3000 SM).

    Bergeser sedikit lebih jauh ke depan di tahun 1000 SM dimana kekaisaran berkuasa di zaman ini. Muncul berbagai kaisar besar yang saling berebut daerah kekuasaan, zaman ini lebih dikenal dengan zaman dinasti kuno yang mana masih saling berperang untuk kekuasaan. Pada tahun 500 M atau abad pertengahan disini adalah masa di mana peralihan dari masa orang berperang dengan pedang dan tameng ke berperang dengan senjata api.

    Tahun ini dikenal dengan tahun mulai adanya gedung-gedung dan mulai adanya kendaraan yang diciptakan. Semakin maju dan pesatnya perekonomian membuat banyak pihak berlomba-lomba dalam membuat suatu barang produksi guna meningkatkan profit mereka tahun demi tahun. Revolusi industri dikaitkan erat dengan masa ini karena banyaknya pabrik yang beroperasi di daratan Eropa yang membuat pekerjaan manusia semakin mudah. 

    Pada tahun 1862 Alexander Parkes memperkenalkan plastik yang fungsi awalnya adalah untuk membantu masyarakat, karena mulanya masyarakat menebang pohon yang kemudian diolah dan digunakan sebagai bahan pembungkus makanan. Namun kenyataan berkata lain bahwa Alexander tidak mengetahui dampak dari ciptaanya di masa depan. Menurut Bank Dunia, sebanyak 270 juta Ton sampah plastik diproduksi pada tahun 2010 yang mana 3,2 Ton adalah sampah sedotan. Sebanyak 60% sampah plastik hanyut ke laut setiap tahunnya dan menyebabkan matinya beberapa biota laut. Diketahui, China menjadi penyumbang sampah nomor 1 setiap tahunnya.

    Perkembangan zaman juga menyebabkan banyak bermunculan gedung-gedung bertingkat yang banyak menggunakan kaca sebagai eksteriornya, sehingga dapat menyebabkan global warming di seluruh dunia. Dampak dari global warming tersebut dapat dirasakan mulai dari tahun 1998 hingga sekarang. Naiknya permukaan air laut setiap tahunnya menjadi masalah serius, mengingat pada zaman dulu antara Pulau Jawa dan Sumatra terhubung tanpa dipisahkan oleh Selat Sunda seperti sekarang. Tidak menutup kemungkinan beberapa ratus tahun ke depan kita menyaksikan waterworld karena semua pulau tertutup permukaan air laut. 

    Peneliti dari WHO memperingatkan tentang ancaman bahwa di dalam es yang mencair setiap tahunnya ada suatu virus dari masa lalu yang belum diketahui jenisnya. Selain itu dapat membahayakan masyarakat karena permukaan es yang mencair akan menguap menjadi air hujan dan jatuh di tengah-tengah masyarkat.

    Munculnya wabah yang diperkirakan setiap 100 tahun yang sebagian orang berpikir bahwa konspirasi elite global untuk menjatuhkan lawan dari negara lain. Sebut saja wabah Sampar (1720) di Perancis, wabah ini merupakan wabah pertama dalam sejarah yang banyak memakan korban jiwa, sebanyak seratus ribu warga di pinggiran kota Perancis tewas karena wabah ini.

    Dilansir dari Kompas.com, Kolera (1820) di Negara Bollywood ini tercatat ratusan ribu orang meninggal karena wabah ini dan berefek sampai ke daerah Asia tidak terkecuali Indonesia. Di Bangkok, Thailand diperkirakan lebih dari 30.000 korban jiwa. Kemudian wabah Flu Spanyol (1920), kematian dari wabah ini bahkan lebih besar daripada korban jiwa perang dunia I. Sebelum tahun 1920 penyebab dari flu ini adalah Virus H1N1 yang telah mengalami mutasi genetikal sehingga lebih berbahaya dari flu biasa. Tercatat lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia meninggal akibat virus ini, tak terkecuali di tempat terpencil seperti di Antartika.

    Wabah Corona Tahun (2020) seolah menjadi tanda tanya besar, bagaimana mungkin setiap 100 tahun bisa sama? Inilah yang terjadi sekarang mutasi virus yang diklaim berasal dari Laboratorim Biologi China bocor sehingga menyebabkan pandemi global virus ini. Dikutip dari World O Meter per 8 Mei 2019 tercatat lebih dari 3 juta masyarakat dunia positif terinfeksi virus yang berasal dari mutasi Sars tersebut. Sebanyak 270 ribu orang meninggal, dan 1,3 juta pasien sembuh, sedangkan jutaan warga lainnya terdampak.

    Vaksin dari virus ini baru akan diuji coba kepada manusia dalam waktu paling cepat akhir tahun, entah berapa banyak nyawa manusia lagi yang akan menjadi korban. Mungkinkah Tuhan memberi peringatan kepada manusia dalam kurun waktu setiap 100 tahun agar mereka ingat untuk apa mereka dicipatkan? Ataukah memang virus tersebut diciptakan untuk tujuan yang lain? Bukan tidak mungkin, bisa jadi kita generasi terakhir yang mendiami bumi ini sebelum kiamat datang, atau mungkin kita yang terlebih dahulu meninggal sebelum berjihad.

    Para ahli berpendapat bahwa umur bumi masih sekitar 6 miliar tahun lagi. Mengingat sifat manusia yang tidak pernah puas dengan eksploitasi sumber daya alam yang tanpa batas, maka kelak sumber daya sekarang tidak bisa dinikmati oleh anak cucu di kemudian hari jika memang bumi masih bisa bertahan. Sebagai manusia sudah selayaknya kita merawat alam dengan sebaik mungkin agar tempat dimana manusia berpijak ini tetap lestari.

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.

banner