Iklan Layanan

Cuplikan

Pra-magang KPI’17: Mahasiswa Kritik Kurikulum Lama KPI

Foto: Fanka KPI'17
    Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) angkatan 2017 di IAIN Ponorogo menyelenggarakan kegiatan Pra-magang. Kegiatan ini merupakan bentuk kekecewaan dan ketidakpuasan mahasiswa KPI 2017 atas kurikulum yang diterapkan jurusan KPI.

    Pra-magang berlangsung selama 2 minggu terhitung mulai 18 Februari 2020. Konsep kegiatan ini dengan mengundang para alumni/mahasiswa KPI yang sudah menyelesaikan magang untuk memberi materi tentang skill magang dan share pengalaman mereka. Mulai dari materi editing, jurnalistik hingga peliputan televisi dan radio. Tujuannya adalah agar mahasiswa KPI bisa mengerti dan bisa mempersiapkan diri untuk magang di semester 7 nanti.

   Salah satu mahasiswa KPI semester 6 yang tidak mau disebutkan namanya (sebut saja Arjuna),  mengatakan bahwa materi yang selama ini hanya membahas tentang dakwah, sedangkan materi komunikasi yang lain seolah diabaikan. “Saya merasa mata kuliah di semester 5 itu sudah menjurus ke komunikasi tapi di semester 6 ini lagi-lagi kembali ke dakwah,” katanya.

    Walaupun agenda tersebut mendapat dukungan dari Ketua Jurusan (Kajur) KPI dan dosen lainnya, namun kekecewaan serta rasa tidak puas tetap mereka rasakan. “Saya dan teman-teman berinisiatif mengadakan ini. Kami merasa ketika semester 6 ini belum mendapatkan apa yang kami inginkan sedangkan kita sebentar lagi di semester 7 mau ada magang,” terang Arjuna.

    Penyelenggaraan Pra-magang tersebut menuai tanggapan dari Iswahyudi selaku Kajur KPI. Iswahyudi menanggapi terkait materi dakwah. “Materi dakwah selama ini disalahartikan sebagai dakwah panggung, sebenarnya dakwah di sini adalah mentransformasikan kebaikan kepada orang lain melalui media,” ucapnya.

    Iswahyudi juga menanggapi mengenai kurikulum yang selalu dipertanyakan oleh mahasiswa. Menurutnya perubahan kurikulum tidak serta merta, namun ada ketentuannya. “Kurikulum hanya bisa dirubah setelah 4 tahun berjalan, setelah itu baru bisa mengalami perubahan, kalau ada kekurangan nanti diperbaiki karena tidak ada kurikulum yang sempurna,” jelas ia.

    Mahasiswa juga menuntut untuk diberikan kelas penjurusan di jurusan KPI, karena mahasiswa ingin mendalami skill mereka. “Yang kita inginkan lebih menjurus seperti ke public speaking, public relation, fotografi dan videografi untuk nantinya,” ujar Arjuna.

    Tanggapan lain muncul dari Joko yang juga mahasiswa KPI semester 6. Ia juga menyesalkan kurangnya praktik. “Praktiknya kurang karena selama ini masih teori-teori yang diberikan,” ujar Joko.

    Menanggapi hal tersebut, Iswahyudi menyampaikan bahwa penjurusan kelas sesuai minat akan dilaksanakan pada tahun 2021 nanti, sedangkan untuk tahun ini masih mengikuti kurikulum yang lama. “Apabila berganti kurikulum di tengah jalan, itu dapat mengganggu penilaian ijazah serta membingungkan saat pembelajaran,” terangnya.

    Selain kurikulum, Arjuna juga menyayangkan keberadaan fasilitas jurusan yang kurang dimanfaatkan dengan baik. “Fasilitas yang ada, pemanfaatannya kurang, seperti kamera HD ditambah tidak adanya materi yang menyangkut kamera HD tersebut. Ini membuat mahasiswa sendiri yang harus berinisiatif sendiri,” terang Arjuna.

    Dengan adanya permasalahan tersebut, Arjuna berharap agar materi yang diberikan, diampu oleh dosen yang benar-benar memiliki skill. “Kalau di penyiaran Islam dosennya kalau bisa lebih memiliki skill bukan hanya di teori sehingga mahasiswa tidak terjun langsung tanpa ada dasar,” harapnya.

Joko juga mengutarakan harapannya agar jurusan KPI lebih ditekankan langsung ke media. “Tahun depan atau mungkin sekarang KPI-nya lebih di tekankan lagi ke media, kalau dakwah kan sudah ada di IAT dan BPI,” jelasnya.

    Iswahyudi membenarkan akan keadaan fasilitas yang dapat digunakan oleh jurusan KPI sendiri sebenarnya masih kurang. Akan tetapi, ia berharap mahasiswa untuk memiliki alat-alat yang mampu menunjang mereka di luar jam kuliah. “Ilmu komunikasi dan ilmu jurnalistik adalah ilmu praktik dan praktik yang dimaksudkan tidak harus praktik mengandalkan kampus tetapi mereka bisa praktik sendiri,” tutur Iswahyudi.

    Melihat permasalahan di atas, Kurnia selaku Ketua SEMA FUAD yang juga jurusan KPI mengaku belum melakukan advokasi kepada pihak fakultas. “Dari SEMA belum ada advokasi terkait itu. Saya sendiri juga belum pernah ikut kegiatan pra-magang tersebut,” ucap Kurnia.
Reporter: Ryan Fergi

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.

banner