Loading...

Menulis Tanpa Teori, Bukan Berarti ‘Buta Teori’

Oleh: Ariny Sa’adah


"Apabila pernyataan salah satu dosen di Ponorogo sekaligus penulis buku Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen, Sutejo, mengatakan bahwa menulis itu tanpa teori, maka saya akan mengatakan begini, “Menulis tanpa teori, bukan berarti buta terhadap teori.”
~Ariny~

Menulis adalah salah satu bentuk dari serangkaian proses belajar. Mendengar, membaca, berbicara, dan terakhir adalah menulis. Menulis membutuhkan tingkat pemahaman terhadap berbagai hal dalam ilmu pengetahuan yang luas. Orang dengan gelar mahasiswa, sudah sepatutnya mampu menulis dengan bahasa yang baik dan benar. Para akademisi memang dituntut untuk bisa menulis dengan bentuk apapun seperti jurnal, karya ilmiah, dan minimal mampu menulis sebuah artikel. Karena syarat kelulusan dari sebuah kampus adalah membuat sebuah karya tulis wajib yang disebut skripsi, tesis, dan disertasi.

Akan tetapi fenomena yang terjadi adalah banyak di antara kalangan akademisi tidak mampu menulis. Bahkan kebingungan untuk menulis satu paragraf atau satu halaman pun. Hal ini sudah tidak mengherankan di kalangan mahasiswa. Bahkan ketidakmampuan ini menjadikannya hal yang wajar dengan alasan “menulis bukan hobi saya”. Seketika muncul dalam pikiran penulis, apakah mengerjakan skripsi, tesis, dan disertasi adalah hobi seorang penulis? Jawabannya adalah bukan, semua itu adalah tuntutan yang harus ditempuh bagi yang ingin mencapai goal-nya.

Maka, menulis tidak selamanya dikerjakan oleh orang-orang yang hobi menulis. Akan tetapi setiap akademisi dan profesi tertentu sudah selayaknya mampu menerapkan aktivitas tulis menulis dengan baik sebagai bukti bahwa ia adalah seseorang yang pernah menempuh bangku perkuliahan. Apakah ia tidak malu dengan orang lain yang tidak pernah menyentuh bangku perkuliahan akan tetapi produk tulisan dan karya ilmiahnya melebihi tulisan akademisi?

Ada hal lain yang bikin geram hati juga emosi, yaitu ketika seorang mahasiswa mengaku tidak mampu menulis dengan baik, sedangkan ia memang tidak mau melakukan perbaikan terhadap cara menulisnya. Contohnya, seorang mahasiswa dengan pikirannya yang jenius menghasilkan ide-ide cemerlang dan inovatif. Akan tetapi karena ia tidak bersungguh-sungguh dalam belajar menulis, hasil ide-ide kreatif tersebut dicurahkan dalam bentuk tulisan yang berantakan. Sangat tidak lucu apabila hal ini terjadi pada anak pers mahasiswa. Tidak masuk akal dengan ‘pembekalan’ menulis porsi combo, tetapi faktanya? (periksa sendiri)

Seringkali istilah berantakan ini dibuktikan dengan penyampaian gagasan yang bertele-tele. Pengulangan kata berlebihan pun seringkali dijumpai dalam penulisan. Bahkan, beberapa di antara produk tulisannya tidak memahamkan pembaca. Akan tetapi, bukan berarti tulisan yang tak beraturan strukturnya tersebut dikatakan salah. Karena dalam ilmu pengetahuan tidak menyoal tentang salah dan benar. Disini, hanya akan dikatakan bahwa menulis perlu belajar dan latihan. Apabila pernyataan salah satu dosen di Ponorogo sekaligus penulis buku Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen, Sutejo, mengatakan bahwa menulis itu tanpa teori, maka saya akan mengatakan begini, “Menulis tanpa teori, bukan berarti buta terhadap teori.”

Di samping itu, tokoh-tokoh pemikir yang sering digemari oleh kalangan intelektual mahasiswa, juga menghasilkan karya-karya besar dengan tulisan-tulisannya. Sehingga tulisan dalam karya hebat itu mampu mempengaruhi pikiran pembaca. Tentunya dengan proses penulisan yang teratur dan sesuai kaidah bahasa yang dianutnya, pemikir-pemikir belahan dunia timur dan barat mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan dunia.

Banyak tokoh-tokoh yang mendengungkan untuk menulis. Seperti yang dikatakan oleh pemilik karya ‘Bumi Manusia’, Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah suatu tindakan untuk keabadian. Jika seseorang ingin dikenang maka menulis adalah salah satu solusinya. Bahkan ada satu pepatah yang sering beredar dari seorang filsuf belahan Timur, Imam Al-Ghazali, bahwa jika seseorang tidak memiliki kedudukan yang tinggi dalam struktur sosial, maka menulis adalah salah satu solusi untuk menunjukkan eksistensi. Pepatah yang diungkapkan oleh penulis kitab Ihya’ Ulumuddin tersebut adalah “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”.


Ilustrasi: catatankematiankomandan.blogspot.co.id
Slider 7168011974796716636

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Follow by Email

ADS

Popular Posts

Random