Kuliah, Organisasi dan Bertahan Hidup
Masuk kuliah sering kali terasa seperti memasuki gerbang menuju masa depan. Setelah bertahun-tahun memakai seragam sekolah, kini seseorang mulai mengenakan jaket almamater, duduk di ruang kuliah, mengenal dosen, mencari teman baru, dan perlahan membayangkan satu hari nanti berdiri di panggung wisuda.
Di kepala mahasiswa baru, urutannya mungkin sederhana: kuliah dengan baik, mendapatkan nilai bagus, lulus, kemudian bekerja.
Sayangnya, kehidupan tidak selalu sesederhana itu.
Kuliah memang penting. Nilai juga penting. Tetapi kuliah bukan hanya tentang mendapatkan IPK bagus. Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang perlu dipelajari mahasiswa selama berada di kampus, yaitu bagaimana mempersiapkan diri untuk hidup ketika kampus sudah tidak lagi menyediakan jadwal kuliah, dosen, dan ruang untuk bertanya.
Sebab setelah wisuda, kehidupan yang sesungguhnya justru dimulai.
Kampus Bukan Balai Latihan Kerja
Ada anggapan bahwa kuliah adalah semacam jalan lurus menuju pekerjaan. Masuk perguruan tinggi, memilih jurusan, belajar beberapa tahun, mendapatkan ijazah, kemudian mencari pekerjaan.
Padahal, kampus bukan Balai Latihan Kerja (BLK) yang menjamin lulusannya langsung mendapatkan pekerjaan.
Wong BLK saja tidak menjamin lulus langsung kerja. 😊
Jadi, mengapa kita berharap ijazah perguruan tinggi otomatis menjadi tiket masuk dunia kerja?
Kampus memberikan ilmu, pengalaman akademik, ruang untuk berdiskusi, kesempatan berorganisasi, dan lingkungan untuk berkembang. Tetapi setelah itu, mahasiswa tetap harus menemukan jalannya sendiri.
Terlebih bagi mahasiswa perguruan tinggi keagamaan seperti UIN. Ada kegelisahan yang kerap muncul di kalangan mahasiswa tentang bagaimana ijazah mereka akan diterima di dunia kerja. Kekhawatiran itu tidak perlu dijawab dengan pesimisme, tetapi juga tidak bijak jika diabaikan.
Ijazah tetap penting, tetapi ijazah saja belum tentu cukup. Ilmu yang diperoleh selama kuliah perlu diterjemahkan menjadi kemampuan yang bisa digunakan dalam kehidupan nyata.
Perusahaan, lembaga, sekolah, media, organisasi, maupun dunia usaha tidak selalu berhenti pada pertanyaan, “Lulusan mana?” Mereka juga bisa bertanya, “Bisa apa?”
Bisa menulis? Bisa berbicara di depan orang? Bisa mengajar? Bisa membuat konten? Bisa mengelola media sosial? Bisa melakukan riset? Bisa mengoperasikan teknologi? Bisa mengelola administrasi? Bisa bekerja dalam tim? Bisa berkomunikasi dengan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang kelak mungkin dihadapi setelah ijazah berada di tangan.
IPK Penting, Tetapi Bukan Satu-Satunya Bekal
Karena itu, mahasiswa tidak perlu memilih antara menjadi pintar secara akademik atau aktif di luar kelas. Keduanya bisa berjalan bersama.
Nilai tetap perlu diperjuangkan. Kuliah tetap harus serius. Jangan sampai alasan ingin aktif organisasi justru membuat kuliah terbengkalai.
Tetapi kehidupan kampus juga seharusnya menjadi tempat untuk mengembangkan kemampuan lain.
Organisasi, misalnya.
Organisasi bukan hanya tempat mencari jabatan, memasang foto memakai jas almamater, atau menambah daftar kegiatan di CV. Jika dijalani dengan sehat, organisasi adalah tempat belajar menghadapi manusia.
Di sana mahasiswa belajar berbicara, bernegosiasi, membuat keputusan, mengelola kegiatan, menghadapi konflik, menerima kritik, bekerja dalam tim, dan bertanggung jawab ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Pengalaman seperti itu mungkin tidak muncul dalam soal ujian. Tetapi kelak sangat mungkin berguna ketika seseorang memasuki dunia kerja.
Bertahan Hidup Juga Harus Dipelajari
Ada satu pelajaran lain yang sering tidak masuk dalam mata kuliah: bertahan hidup.
Terutama bagi mahasiswa yang tidak lahir dari keluarga dengan banyak privilege.
Ada mahasiswa yang bisa kuliah dengan dukungan ekonomi orang tua secara penuh. Ada pula yang harus menghitung uang makan sampai akhir bulan. Ada yang bisa membeli laptop ketika perangkatnya rusak. Ada yang harus mencari cara lain ketika laptop tiba-tiba bermasalah.
Ada yang setelah lulus masih bisa mencari pekerjaan selama beberapa bulan tanpa terlalu memikirkan biaya hidup. Ada pula yang baru menerima ijazah sudah harus memikirkan bagaimana membantu orang tua.
Titik awal setiap mahasiswa memang tidak selalu sama.
Karena itu, kemampuan mengatur uang, mengatur waktu, menjaga kesehatan, membangun pertemanan, mencari informasi, memanfaatkan peluang, dan berani mencoba sesuatu yang baru juga merupakan bagian dari pendidikan.
Belajar menghemat uang saku hari ini mungkin terlihat sepele. Tetapi sebenarnya itu adalah latihan mengelola keuangan.
Belajar mengatur jadwal kuliah, organisasi, tugas, dan istirahat adalah latihan mengelola kehidupan.
Belajar menghadapi teman yang berbeda karakter adalah latihan menghadapi masyarakat.
Belajar menerima nilai yang tidak sesuai harapan adalah latihan menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu memberikan hasil sesuai keinginan.
Jangan Menunggu Lulus untuk Bertanya: “Saya Bisa Apa?”
Pertanyaan yang mungkin perlu mulai dipikirkan mahasiswa baru bukan hanya, “Berapa IPK yang ingin saya dapatkan?”
Tetapi juga:
“Ketika saya lulus nanti, saya bisa menawarkan apa?”
Pertanyaan itu bukan untuk menakut-nakuti. Justru semakin cepat ditanyakan, semakin banyak waktu untuk mempersiapkan jawabannya.
Kalau suka menulis, asah kemampuan menulis.
Kalau tertarik pada media, pelajari bagaimana media bekerja.
Kalau senang berbicara, latih kemampuan komunikasi.
Kalau tertarik bisnis, mulai belajar mengelola usaha kecil.
Kalau ingin menjadi guru, jangan hanya memahami teori pendidikan, tetapi belajar bagaimana menghadapi manusia yang akan diajar.
Kalau tertarik dunia digital, jangan berhenti menjadi pengguna. Belajarlah menjadi orang yang mampu menghasilkan sesuatu.
Dan kalau belum tahu ingin menjadi apa, tidak masalah. Kampus justru salah satu tempat terbaik untuk mencoba, gagal, kemudian mencoba lagi.
Mahasiswa Biasa Juga Bisa Punya Modal
Mahasiswa dari keluarga sederhana mungkin tidak memiliki modal ekonomi yang besar. Tidak punya usaha keluarga yang bisa diteruskan. Tidak memiliki jaringan profesional yang luas. Tidak memiliki orang tua yang bisa langsung mencarikan pekerjaan setelah wisuda.
Tetapi masih ada modal lain yang bisa dibangun selama kuliah.
Pengetahuan, keterampilan, pengalaman, pertemanan, reputasi, portofolio, dan keberanian untuk mencoba.
Modal-modal itu tidak selalu membutuhkan uang dalam jumlah besar. Tetapi membutuhkan waktu, kemauan belajar, dan konsistensi.
Karena itu, jangan sampai empat tahun kuliah hanya menghasilkan sebuah ijazah.
Usahakan masa kuliah juga menghasilkan sesuatu yang lain: kemampuan, pengalaman, jaringan, karya, dan kedewasaan.
Kuliah Adalah Latihan Sebelum Kehidupan Sesungguhnya
Pada akhirnya, kuliah memang tentang mendapatkan ilmu. Nilai tetap penting. IPK tetap perlu diperjuangkan. Ijazah tetap dibutuhkan.
Tetapi kehidupan setelah wisuda jauh lebih luas daripada angka di transkrip nilai.
Hari ini mahasiswa belajar mengatur uang saku. Besok harus belajar mengatur gaji.
Hari ini belajar mengatur jadwal kuliah dan rapat organisasi. Besok harus mengatur pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Hari ini belajar menghadapi dosen dan teman yang berbeda karakter. Besok akan menghadapi atasan, rekan kerja, pelanggan, masyarakat, dan berbagai macam manusia.
Hari ini belajar menerima nilai yang kurang bagus. Besok mungkin harus belajar menerima penolakan pekerjaan.
Semua itu sebenarnya adalah latihan.
Maka jangan melihat kuliah hanya sebagai jalan mendapatkan gelar sarjana.
Kuliah adalah masa untuk belajar berdiri di atas kaki sendiri.
Bagi mereka yang lahir dengan banyak privilege, perjalanan itu mungkin memiliki lebih banyak ruang untuk mencoba. Tetapi bagi mereka yang harus membangun semuanya dari bawah, kemampuan bertahan, beradaptasi, dan menciptakan peluang bisa menjadi bekal yang sangat berharga.
Sebab setelah wisuda, tidak ada lagi yang bisa menjamin semuanya akan baik-baik saja.
Ijazah bukan jaminan pekerjaan. Kampus bukan mesin pencetak pekerja. Bahkan BLK saja tidak menjamin lulus langsung kerja.
Yang bisa dipersiapkan selama kuliah adalah diri sendiri.
Jadi, kuliahlah dengan sungguh-sungguh. Berorganisasilah dengan sehat. Bangun keterampilan. Perluas pertemanan. Belajar mengelola hidup.
Karena pada akhirnya, pertanyaan terbesar setelah wisuda bukan hanya, “Apa gelar yang kita dapat?”
Melainkan:
“Setelah semua fasilitas kampus berhenti, apakah kita sudah cukup siap untuk menjalani hidup sendiri?”

Tidak ada komentar
Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.