Herawati Diah dan Tantangan Menjaga Integritas Pers di Era Digital
lpmalmillah.com - Usia pers Indonesia di tahun 2026 ini
resmi menginjak angka 80 tahun. Belum genap satu tahun Indonesia
memproklamasikan kemerdekaannya, tepatnya pada 9 Februari 1946, pers nasional
lahir yang ditandai oleh momentum historis berdirinya Persatuan Wartawan
Indonesia (PWI) di Surakarta. Tanggal bersejarah tersebut kemudian dikukuhkan
secara formal oleh pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985
sebagai Hari Pers Nasional. Secara historiografis, sebagaimana ditegaskan oleh
Daniel Dhakidae dalam karyanya Indonesia dalam Rekayasa Kebudayaan, pers
Indonesia sejak awal tidak pernah dirancang sekadar sebagai entitas bisnis
komersial atau sarana industri informasi yang netral-pasif. Pers lahir sebagai
instrumen perjuangan ideologis (pers perjuangan) yang bertaut erat dengan
pembentukan kesadaran kebangsaan, konsolidasi demokrasi, dan pengawalan
kedaulatan warga negara di tengah ancaman kembalinya kolonialisme.
Sejarah panjang pers Indonesia tidak
hanya dibentuk oleh barisan kata di atas kertas koran, melainkan oleh
keberanian moral serta kejernihan intelektual para perintisnya. Namun, di
tengah catatan sejarah yang sering kali didominasi oleh narasi arus utama,
sosok Siti Latifah Herawati Diah ironisnya kerap menjadi nama yang terasing
atau jarang dikenal oleh generasi muda hari ini. Padahal, di tengah riuh rendah
perjuangan mempertahankan kemerdekaan hingga era diplomasi pasca-proklamasi
yang sarat ketegangan geopolitik global, Herawati berdiri tegak sebagai simbol
integritas, intelektualisme, dan komitmen etis pers tanpa kompromi. Ironi dilupakannya
figur ini mencerminkan betapa kolektivitas ingatan publik kita sering mengalami
kelupaan terhadap pelopor pers perempuan yang justru meletakkan fondasi etis
dan profesionalitas kewartawanan nasional.
Sebagai wanita Indonesia pertama yang
menimba ilmu jurnalistik secara formal di Barnard College, Columbia University,
Herawati tidak sekadar membawa pulang ijazah akademis. Bersama suaminya, B.M.
Diah, ia mendirikan Harian Merdeka pada akhir 1945 serta surat kabar berbahasa Inggris
The Indonesian Observer pada kurun 1954/1955. Dua saluran media ini bukan
sekadar alat propaganda politik sipil, melainkan wujud nyata dari instrumen
wacana tanding (counter-hegemonic discourse). Melalui kiprahnya,
Herawati membuktikan bahwa peninggalan pers tidak hanya sebatas mesin cetak
atau lembaran koran, melainkan peletakan pers sebagai pilar bagian paling
krusial bagi sebuah negara sebuah fourth estate (pilar keempat
demokrasi) yang bertugas mengawasi kekuasaan, menyampaikan kebenaran fungsional
kepada publik, sekaligus menjadi alat diplomasi kebudayaan internasional
Indonesia pada momentum bersejarah Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung.
Namun, jika kita berefleksi secara
kritis pada ekosistem media hari ini yang tengah diterjang gelombang disrupsi
teknologi digital, warisan terbesar Herawati Diah bukan sekadar nama besar
media yang ia dirikan atau catatan autobiografinya, An Endless Journey. Warisan
paling esensial dari peninggalan beliau adalah penegasan bahwa pers hanya bisa
menjalankan fungsinya sebagai pilar negara jika loyalitas utamanya ditambatkan
penuh kepada warga negara (citizens). Sebagaimana dirumuskan oleh Bill Kovach
dan Tom Rosenstiel dalam karya monumental The Elements of Journalism,
elemen paling mendasar yang membedakan jurnalisme dari bentuk komunikasi massa
lainnya adalah kewajiban utamanya pada kebenaran dan loyalitas pertamanya
kepada publik (Citizenship loyalty), bukan kepada pemilik modal,
kekuatan partai politik, maupun pemegang saham entitas bisnis.
Di era komersialisasi pers modern dan dominasi
algoritma media sosial yang kerap mendegradasi berita menjadi komoditas clickbait,
integritas pers sedang mengalami pengujian yang amat berat. Denis Mcquail dalam
Media Performance telah mengingatkan bahwa ketika media sepenuhnya ditundukkan
oleh logika pasar (market-driven journalism), fungsi sosial media
sebagai ruang publik yang demokratis (public sphere) akan terdistorsi
secara masif. Algoritma platform digital hari ini memaksa pers mengejar lalu
lintas clicks, kecepatan, dan sensasionalisme demi mengejar monetisasi iklan
semata. Akibatnya, logika pasar kerap menggeser fokus media dari "disiplin
verifikasi" yang merupakan inti sejati jurnalisme menuju kecepatan dangkal
dan sensasi instan yang mengabaikan ketelitian fakta.
Di titik kritis inilah cermin ketokohan dan pemikiran Herawati Diah menjadi amat krusial untuk dihadirkan kembali dari ruang kelupaan sejarah. Herawati membuktikan bahwa pers yang bereputasi, berdaya tahan, dan dihormati tidak lahir dari sensasionalisme dangkal, melainkan dari kedalaman reportase, keberanian menyuarakan hak-hak publik serta kelompok rentan (voicing the voiceless), dan independensi yang kokoh dari tekanan kekuasaan politik maupun otoritas kapital. Keaktifannya dalam isu pemberdayaan perempuan serta pelestarian warisan budaya seperti keterlibatannya dalam panitia pemugaran Candi Borobudur membuktikan bahwa jurnalisme memiliki fungsi ekologis: membangun peradaban dan merawat kesadaran publik. Sebagaimana perspektif sosiologi komunikasi Eriyanto dalam Analisis Wacana , media massa tidak sekadar memantulkan realitas sosial secara pasif, melainkan secara aktif ikut mengonstruksi tatanan nilai, merawat ingatan sejarah, dan memperjuangkan keadilan sosial di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, mengenalkan kembali dan meneladani Herawati Diah di tengah gelombang disrupsi media modern bukanlah bentuk romantisasi masa lalu yang nostalgik, melainkan sebuah panggilan moral untuk menyelamatkan pers sebagai pilar penting keberlangsungan bangsa. Pers hari ini harus menyadari bahwa independensinya hanya bisa dirawat jika loyalitasnya tidak diintervensi oleh kekuasaan atau dibeli oleh pemilik modal, melainkan diabdikan sepenuhnya pada pencarian kebenaran fungsional dan perlindungan hak-hak warga negara. Tanpa pegangan moral dan peninggalan etis Herawati Diah, jurnalisme akan kehilangan ruh kemanusiaannya, terasing dari publik yang seharusnya dibelanya, dan akhirnya tenggelam dalam lautan disinformasi serta kebisingan digital tanpa makna.
Penulis: Js Tsamrul Fuadi Gusanto
Editor: Satrio

Tidak ada komentar
Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.