Iklan Layanan

Cuplikan

Ala Kadarnya

(Ilustrasi: bobo.id)

Cerpen oleh: Rena

Langit mulai gelap ketika aku sampai di rumah setelah seharian mengikuti PBAK. Ya, meskipun ngaret, untungnya kami dipulangkan sebelum adzan maghrib berkumandang. Sampai di kamar, segera kuluruskan kaki yang terasa pegal karena terlalu lama duduk. Rasanya sedikit membosankan karena hanya duduk dan mendengarkan. Merasa nyaman, aku memejamkan mata hingga perlahan kesadaranku pun menghilang.

Aku terbangun ketika ponselku berbunyi. Dengan sedikit kaget, aku mengambil ponsel untuk melihat siapa yang menelepon. Ternyata ada panggilan masuk dari temanku. Alamak, sudah 8 panggilan masuk darinya. Dikarenakan aku adalah teman yang baik, segera aku menelepon balik nomornya.

“Lama amat, sampai capek telpon,” gerutunya begitu mengangkat panggilanku.

“Hehe, maaf ya. Ketiduran aku tadi. Kenapa, Mbe?” tanyaku setengah mengantuk.

“Masih sempat tidur kamu?! Tugas bikin esai emang udah selesai?” tanya Jimbe sedikit menyentak.

Mendengar pertanyaan Jimbe seketika mataku terbuka lebar. Aku langsung bangkit dari tidurku. Begitu kulihat jam di meja ternyata sudah jam 9. Spontan aku langsung menepuk jidat. Bagaimana bisa aku melupakan tugas PBAK untuk membuat esai?

“Aduh, lupa aku, Mbe. Kamu udah selesai?” tanyaku.

“Belum, ini lagi dikerjain.” Aku hanya berdehem, kukira Jimbe sudah selesai ternyata sama saja.

“Woi, Mbe, ini isinya apaan ya? Gatau aku moderasi tuh apaan,” keluhku yang memang belum paham tentang tema tugas esai kami.

“Kamu kira aku tahu? Tentu tidak, kawan. Pokok dikerjain aja deh. Daripada kena hukuman, kan? Emang ga malu kalau disuruh nyanyi depan umum kaya orang itu?”

Memang sih ada mahasiswa yang dihukum menyanyi karena katanya tidak mengikuti peraturan. Entah peraturan apa yang dia langgar, aku pun tak paham. Seketika aku membayangkan bagaimana jika berada di posisinya. Aduh, gak kebayang malunya. Apalagi ditertawakan satu angkatan, jadi objek komedi dadakan.

“Iya sih, malunya itu loh. Ya udah, aku juga mau ngerjain. Nasib … nasib, begadang kita malam ini,” keluhku. Hanya saja mau sebanyak apapun mengeluh, tugas tidak akan selesai dengan sendirinya.

Segera setelah kumatikan telepon dari Jimbe, kuambil laptop yang berdebu di atas meja. Sayangnya setelah kubuka, aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kutulis. Rasanya otakku sudah buntu duluan. Kubuka aplikasi G untuk mencari informasi tentang tema esai. Kulihat, kubaca, tapi masih tidak paham.

‘Au ah, ketik aja udah. Paham ga paham urusan belakang,’ pikirku kala itu. Lagipula bila dipikir-pikir, tidak mungkin semua karya kami akan dibaca. Karyanya saja ada banyak, ga mungkin kan dilihat one by one? Biasanya sih begitu.

Huruf demi huruf kurangkai hingga menjadi susunan kalimat yang aku pun tidak begitu paham. Diiringi rasa kantuk, aku melanjutkan hingga akhirnya dua paragraf sudah selesai. Bagiku dua pragraf sudah banyak, sayangnya masih sepertiga dari jumlah kata yang ditentukan. Aku menghela napas karena bingung menulis apa lagi.

Tung tak tung

Notifikasi ponselku berbunyi. Ternyata ada pesan dari grup kelompok pbak. Penanggung jawab kelompok kami mengingatkan barang-barang apa yang harus dibawa besok. Kemudian diakhiri dengan pesan penuh kasih sayang agar tidak begadang.

‘Waduh, Kak. Tugas negara belum selesai, gimana ga begadang,’ balas Jimbe. Tugas negara katanya? Ada-ada saja memang makhluk Tuhan satu ini. Merasa penasaran, aku menelepon nomor Jimbe untuk menanyakan progres esainya.

“Gimana, Mbe? Udah selesai punyamu?” tanyaku.

“Wohoho, ya sudah dong. Cepat selesaiin punyamu, jangan sampai tidur kemaleman terus bangun telat, habis lah kau hahaha,” ejeknya. Mentang-mentang dia sudah selesai, seenaknya mengejek. Akan tetapi, benar juga sih kata Jimbe. Kalau tidak segera selesai bisa-bisa aku bangun telat karena begadang.

“Kenapa ya kita disuruh buat ginian?” tanyaku pada Jimbe.

“Ya gatau, kok tanya saya. Hanya Tuhan dan orang atas yang tahu, kita orang bawah diam dan ikut saja,” jawab Jimbe.

“Haha, ada-ada aja.”

“Udah ya, aku mau tidur duluan, sampai jumpa besok dini hari,” ucap Jimbe sebelum mematikan telepon.

Aku pun melanjutkan esai yang sedari tadi belum selesai. Kutuangkan semua yang terlintas di otak. Paragraf demi paragraf aku selesaikan hingga akhirnya selesai juga tugas yang sedikit merepotkan ini. Tanpa kubaca ulang, langsung kubuat judul dan keterangan data diri. Siapa yang peduli aku paham atau tidak? Hal yang terpenting, tugasku sudah selesai. Segera kututup laptop dan bersiap tidur karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ah, sampai jumpa hari esok yang melelahkan.

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.