Iklan Layanan

Cuplikan

Kurang Maksimal Pengelolaan Mete, Masyarakat Bisa Apa?

(gambar: Tribunnews.com)

Opini oleh: Rizki

Di balik masyhurnya industri genting yang ada di desa, Wringinanom menyimpan potensi lain yang bisa mendongkrak perekonomian masyarakat. Perkebunan menjadi salah satu pilihan untuk hal tersebut. Banyak masyarakat yang mengembangkan perkebunan mete karena kondisi geografis yang sangat cocok. Karakter tanah yang kering dan suhu daerah yang tidak terlalu dingin maupun panas, sangatlah mendukung tanaman mete untuk bisa tumbuh secara optimal. 

Masyarakat Wringinanom memanfaatkan bagian biji dari mete tersebut. Biji mete yang sudah dipetik, kemudian dijual ke berbagai tempat. Kualitasnya yang bagus membuat biji mete di Wringinanom berhasil dipasarkan ke daerah lain, seperti Wonogiri dan Sidoarjo.  Adanya hal tersebut bisa menjadi alasan bahwa perkebunan mete bisa membantu dalam meningkatkan ekonominya.

Perkebunan mete dipandang memiliki potensi yang lebih besar jika terus dikembangkan. Apalagi pohon mete termasuk tumbuhan multifungsi. Hampir seluruh bagian pohon dapat dimanfaatkan dan bisa bernilai ekonomi. Mengutip dari laman mediaperkebunan.id, Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Ali Jamil menyampaikan bahwa jambu mete bisa dimanfaatkan mulai dari akar, batang, daun, buah, hingga ke bijinya. 

Daun mete yang masih muda bisa dimanfaatkan sebagai lalapan maupun obat. Buahnya  bisa diolah menjadi sari buah, selai, manisan, dan abon. Selain itu, buah jambu mete juga bisa digunakan untuk pakan ternak. Biji mete juga dapat diolah menjadi berbagai produk makanan ringan yang banyak diminati. Kulit mete bisa diolah menjadi bahan pelumas dan cat. Tidak hanya itu, getah dari pohon mete juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan lem perekat.

Salah satu daerah yang sudah berhasil mengolah bagian mete menjadi berbagai produk yang bernilai jual tinggi adalah Kabupaten Wonogiri. Daerah tersebut berhasil mengolah mete menjadi berbagai olahan. Seperti camilan kacang mete dengan berbagai varian rasa, minyak mete (Cashew Nut Shell Liquid atau CNSL), lalapan daun mete, dan oseng buah mete yang menjadi makanan khasnya. 

Seandainya pengelolaan dan pemanfaatan mete di Wringinanom bisa dilakukan secara optimal, maka besar kemungkinan Ponorogo bisa menyusul Kabupaten Wonogiri. Berbagai produk olahan dari pohon mete bisa dihasilkan. Sehingga para pekebun tidak hanya mengandalkan panen raya setahun sekali. Terlebih keberhasilan panen mete sangat bergantung pada musim yang pada nyatanya tidak menentu. 

Kurang maksimalnya pengelolaan disebabkan minimnya informasi terkait pemanfaatan bagian lain dari tumbuhan mete. Sehingga, para pekebun lebih memilih memasarkan biji mete saja. Hal tersebut dikarenakan menurut mereka hal tersebut yang sudah pasti bisa dijual dengan mudah. Mereka lebih senang berada di zona nyamannya. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah terkait pembudidayaan pohon mete dan peluang pasarnya agar dapat meningkatkan jangkauan pengelolaan.  

Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Katirin, menjelaskan bahwa seandainya dalam forum LMDH diberikan informasi mengenai pembudidayaan dan pemasaran seluruh bagian dari pohon mete, maka pekebun akan dengan senang hati memaksimalkan pengelolaannya. Ditambah lagi sampai saat ini bagian lain dari biji mete hanya dibuang begitu saja, tanpa adanya pengelolaan ataupun pemanfaatan yang berarti. Sangat disayangkan jika barang yang aslinya bisa dimanfaatkan justru hanya berakhir menjadi sampah.

Dapat dilihat bahwa suatu kemajuan memang sangat memerlukan dukungan dan kerjasama yang baik dari berbagai pihak, tidak terkecuali pemerintah. Pengelolaan yang optimal sebenarnya dapat dilakukan jika dari pihak pemerintah memberikan ruang pasar dan pendampingan kepada para pekebun. Terlebih dari pihak LMDH sudah memiliki tekad dan minat untuk melakukan peningkatan perkebunan. Selain itu, jika pengoptimalan bisa direalisasikan maka perekonomian masyarakat juga pasti mengalami perubahan.

PJTD 2023


No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.