Iklan Layanan

Cuplikan

Cepat dan Tepat, Jika Ueki Menangani Sampah di Ponorogo

 

(Gambar: Erfin)

Esai oleh: Hanif

    Kosuke Ueki namanya, panggil saja Ueki. Kali pertama melihat, dia masih siswa di SMP Hinokuni, di Jepang, sedangkan saya masih SD, di Indonesia. Dialah salah satu sosok teman di masa kecil saya yang bahagia.
    Andai bersekolah di negara saya, bisa dipastikan, Ueki termasuk siswa nakal. Dia sering berkelahi, tidur di kelas, baju seragamnya tidak pernah dimasukkan, dan sebagainya. Biarpun begitu, bagi saya, Ueki tetaplah anak baik yang suka menolong tanpa pamrih. Dia juga setia kawan dan sangat benci apabila temannya diperlakukan semena-mena oleh orang lain.

Kini, hampir lima belas tahun kami berpisah. Lama tak terdengar kabar tentangnya. Namun, satu hal yang selalu teringat dari Ueki adalah kemampuan spesialnya, yaitu dapat mengubah sampah menjadi pohon. Melalui tangannya, segala jenis sampah bisa diubah menjadi pohon sebagaimana bentuk umumnya sampai yang tidak biasa. 

Tepat, dialah yang saat ini dibutuhkan masyarakat Ponorogo, khususnya pemerintah daerah, dalam menangani sampah. Terlebih, sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Mrican yang sudah berdampak negatif kepada masyarakat. Mereka juga sudah berkali-kali menyuarakan keresahannya. Namun, penanganan tidak kunjung dilakukan. Dan bagi Ueki, seabrek permasalahan sampah itu sangatlah mudah diselesaikan.


(Bukan) Gunung Wisata 

Lain dari yang lain. Begitulah kalimat yang kiranya tepat untuk menggambarkan sebuah gunung di Desa Mrican, Ponorogo. 

Apabila gunung selalu diidentikkan dengan warna kehijauan, maka dengan tegas, ia menampiknya. Jelas, ia memiliki rupa-rupa warna. Dari warna terang sampai yang kehitam-hitaman, semua ada di sana.

Ia juga tidak bernasib nahas seperti gunung lain akibat eksploitasi air. Justru di gunung itu, air mengalir secara cuma-cuma sampai luber kemana-mana. Cukup disayangkan, airnya tidak dikelola dengan baik. Padahal, kaya akan kandungan senyawa organik maupun anorganik. 

Tidak pernah sepi. Begitulah suasana di sekitar gunung itu. Setiap hari, ia didatangi sejumlah orang yang mencari rezeki. Alat transportasi beserta penumpangnya juga tidak pernah absen tiap pagi. Bahkan, kendaraan mewah berpenumpang para petinggi pemerintah pun pernah ke sana.

Meskipun begitu, ia muskil dijadikan objek wisata. Kondisinya memang tidak memungkinkan, berbahaya dan berpotensi bencana. Ia bukanlah gunung dari susunan bebatuan, melainkan sesampahan. Ya, itulah sampah yang menggunung di TPA Mrican karena sudah melebihi kapasitas. 

Masyarakat sekitar sudah menuai berbagai musibah dari TPA Mrican. Gatal-gatal akibat pencemaran air, gagal panen, bau tidak sedap, hanyalah sebagian dampak yang sudah mereka rasakan. Jika terus diabaikan, makin lama tentu akan makin parah.


Sampah (di) Ponorogo

Fatal akibatnya jika tidak tepat dalam mengelola sesuatu, termasuk sampah. Bandung Raya pernah menuainya dari TPA Leuwigajah, 2005 silam. Bencana dari TPA yang terletak di Cimahi itu setidaknya merenggut 157 nyawa. Kota Bandung juga kena getahnya. Julukan “Bandung Lautan Api” berganti “Bandung Lautan Sampah”. Berbagai penjuru kota dipenuhi sampah karena ketiadaan TPA.   

Rangkaian peristiwa serupa di TPA Leuwigajah mungkin akan terjadi di TPA Mrican jika tidak segera ditangani. Bisa jadi, kelak, muncul “Kota Sampah” mengganti “Kota Reog” untuk menjuluki Ponorogo akibat mengabaikan sampah. Reog yang dipertahankan mati-matian dari Malaysia, tentu tidak rela tergeser oleh sampah. Pastilah kita tidak ingin hal itu terjadi. 

Sayang seribu sayang, kenyataan berkata lain. TPA Mrican tidak melakukan pengolahan sebagaimana yang tercantum dalam UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Disebutkan, TPA adalah tempat untuk memroses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan. Artinya, TPA harus mengelola sampah dengan tepat agar tidak menimbulkan bahaya. 

Namun, sampah di TPA Mrican hanya terus ditimbun tanpa pengelolaan yang signifikan. Dulu, memang pernah ada pengelolaan di sana. Dua di antaranya adalah mengelola gas metana dari timbunan sampah menjadi biogas dan mengolah sampah menjadi briket. Sayangnya, hal itu tidak berlangsung lama. Lagi-lagi, sampah hanya terus ditimbun tanpa memilah jenisnya. 

Saat ini, daya tampung sampah TPA Mrican dinyatakan melebihi batas. Meski begitu, sampah terus dipasok berton-ton setiap hari. Tentu, hal ini berimbas terhadap sekitar, termasuk masyarakat. Atas berbagai dampak yang juga sudah kelewat batas, mereka melayangkan protes kepada pemerintah daerah yang dinilai harus bertanggung jawab. Dua di antaranya adalah aksi bakar padi oleh petani dan demonstrasi para mahasiswa dari beberapa kampus di Ponorogo.  

Pemerintah pun terpaksa memutar otak demi mencari solusi. Perluasan lahan TPA Mrican sudah tidak memungkinkan. Warga setempat juga enggan menjual tanahnya. Maka, tercetuslah rencana membuat TPA baru. Namun, rencana ini rupanya juga terkendala soal lahan.

Membuat TPA baru bukanlah solusi jitu jika tetap menihilkan pengelolaan. Lagi-lagi, masyarakat dan lingkunganlah yang akan menuai musibahnya. Poin utamanya adalah pengelolaan yang tepat. Sehingga, timbulnya bahaya dapat diminimalisasi. Lebih baik lagi jika TPA bisa memberi kesempatan kedua bagi sampah agar bermanfaat. 


***

Begitulah secuil dari seabrek permasalahan sampah di Ponorogo. Kita masih berbicara sampah di TPA Mrican, belum lagi tentang penanganan sampah di berbagai lini. Meskipun begitu, Ueki pasti bisa menyelesaikannya dengan mudah serta minim biaya. Sehingga, pemerintah tidak perlu lagi mengalokasikan dana yang besar untuk menangani sampah.

Tidak hanya sampah, Ueki juga bisa membantu menangani masalah lingkungan lain. Sampah yang diubahnya menjadi pohon, sangat bermanfaat dalam pemulihan alam. Misalnya memulihkan keasrian di jalanan HOS Cokroaminoto yang pohonnya tidak lagi rindang. Permasalahan sampah pun beres, Ponorogo bersih, dan Adipura kembali ke pelukan. 

Cepat dan tepat, jika Ueki turun tangan dalam permasalahan sampah di Ponorogo. Dialah satu-satunya harapan saat penanganan pemerintah setempat tidak kunjung terlihat. Sialnya, Ueki hanyalah tokoh fiksi dalam kartun The Law of Ueki. Lalu, kemanakah kita melabuhkan harap pada penanganan sampah?

Maka, yang paling memungkinkan adalah mengawalinya dari diri sendiri. Kurangi penggunaan barang sekali pakai, gunakan bahan ramah lingkungan, atau perilaku lain yang bisa mengurangi jumlah sampah. Penanganan sampah akan sangat efektif jika dimulai dari sumbernya, termasuk kita sendiri. Ingat, selama kita hidup, selama itu pula kita menghasilkan sampah.


No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.