Iklan Layanan

Cuplikan

Launching Majalah Edisi 38, LPM aL-Millah Lakukan Dialog Interaktif Digitalisasi Pendidikan

(Foto: Tim Dokumentasi LPM aL-Millah)

  lpmalmillah.com - Selasa (25/01/22), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) aL-Millah mengadakan launching majalah edisi ke-38 dengan judul Sengkarut di Balik Jendela Pendidikan. Pelaksanaan launching juga dirangkaikan dengan dialog interaktif dengan tema ‘Urgensi dan Tantangan Digitalisasi Pendidikan’ guna mengupas digitalisasi pendidikan yang ada di Indonesia, khususnya wilayah Ponorogo. Dialog ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Andri Wahyu Pradhana selaku Koordinator Tim IT Smart School Dinas Pendidikan Ponorogo dan Sudarmaji yang merupakan Koordinator Instruktur IT SLCC PGRI Ponorogo. 

Pelaksanaan launching yang bertempat di Graha Watoe Dhakon ini diikuti oleh 94 peserta dan tamu undangan. Dimulai pukul 09.00 WIB, acara diawali dengan pemotongan tumpeng oleh Muchlis Daroini selaku pembina LPM aL-Millah dan Dhamuri, Pimpinan Umum LPM aL-Millah. Pemotongan tumpeng ini merupakan wujud simbolis atas rasa syukur terhadap keberhasilan launching majalah tersebut.

Ryan Fergi Zakaria selaku Pemimpin Redaksi majalah mengungkapkan alasan memilih tema pendidikan tersebut karena momentum yang tepat saat pandemi dan mengacu pada situasi pendidikan saat ini. “Alasan pertama itu karena momentual, kedua karena kondisi situasi, dan tidak terlambat banget. Dan alasan lain seperti apa kondisi digitalisasi di Ponorogo. Sudah normal atau sudah maksimal pelaksanaannya?” tutur Riyan.

Dalam majalah edisi ke-38 ini, ada tiga topik utama yang dibahas meliputi bahasan utama, laporan utama, dan liputan khusus. Riyan menjelaskan tentang alasan pemilihan tiga pembahasan tersebut itu semua didasari karena situasi dan kondisi pendidikan sekarang. “Semua dilatarbelakangi oleh kondisi dan situasi yang sedang dialami oleh para pelajar. Walau agak terlambat isu ini kami angkat, tapi tidak mungkin kesiapan teknologi (seperti pada salah satu bahasan majalah, red.) untuk pembelajaran ditinggalkan begitu saja,” jelas Ryan.

Bahasan utama yang berjudul Pendidikan Indonesia dalam Digitalisasi, Sejauh Mana Kesiapan Kita? Akibat pandemi Covid-19 yang menimpa, pemerintah segera mengambil tindakan terkait proses pembelajaran di Indonesia sebagaimana dalam surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan dalam Masa Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) yang membuat proses pembelajaran beralih dilaksanakan secara dalam jaringan (daring). Dalam pembelajaran daring, tentunya ada hal yang perlu dipersiapkan seperti media pembelajaran, tenaga pendidik, hingga jaringan internet. Namun, pelaksanaan daring yang mendadak memunculkan berbagai macam kendala, mulai dari kurangnya literasi digital hingga akses internet yang tidak merata. Hal-hal tersebut pun justru menyebabkan berbagai dampak, salah satunya learning loss. Berdasarkan kondisi tersebut, penulis mempertanyakan sejauh mana kesiapan Indonesia dalam menghadapi digitalisasi pendidikan.

Laporan utama berjudul Dilematis Pendidikan: Asinkron Kebijakan Kemendikbudristek dan Kemenag. Di Indonesia terdapat dua lembaga kementerian yang menaungi pendidikan di bawahnya, yakni Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan Kementerian Agama (Kemenag). Meskipun memiliki tujuan sama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, namun ada ketidakselarasan antara dua lembaga tersebut. Kemenag sendiri lebih fokus mengurusi pendidikan yang berkaitan dengan agama, sementara Kemendikbudristek lebih ke pendidikan umum. Selain itu, ada pula perbedaan dalam kebijakan dan pengimplementasiannya sehingga menyebabkan pelaksanaan pendidikan kurang maksimal. 

Terakhir, terdapat liputan khusus dengan judul Sekolah Swasta Menjamur, Banyak SD Negeri di Ponorogo Tutup Karena Sepi Peminat. Di dalamnya, terdapat pemaparan terkait penurunan jumlah pendaftar di Sekolah Dasar Negeri (SDN). Salah satu penyebabnya karena orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke Sekolah Dasar berbasis Islam milik swasta. Kondisi infrastruktur yang kurang mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan setempat pun turut memperparah keadaan hingga menyebabkan banyak sekolah ditutup.

Dalam dialog interaktif, ada dua materi yang disampaikan oleh narasumber. Materi pertama disampaikan oleh Andri. Ia menyampaikan materi terkait ‘Transformasi Dunia Pendidikan menuju Digital.’ Seperti yang dipaparkan oleh Andri, sekolah digital adalah migrasi data-data tradisional menjadi data digital. Tujuan digitalisasi pendidikan tentunya untuk mempermudah pendidikan. Ada tiga fase sekolah digital; Tahap 1.0: mempersiapkan, tahap 2.0: mulai diterapkan lebih menyeluruh dan tahap 3.0: pengembangan lebih dioptimalisasi. Artinya, seluruh sistem sudah berbasis IT. 

Di Ponorogo pun, Andri menjelaskan bahwa setiap sekolah memiliki beberapa opsi untuk melaksanakan sistem pembelajaran di era digital. Apalagi, sekolah di Ponorogo memiliki kondisi geografis yang variatif. “Ada empat opsi yang ditawarkan oleh Dinas Pendidikan ke sekolah, sesuai kesiapan dari masing-masing sekolah. Pertama dimulai dari administrasi pembelajaran guru. Kedua dari media pembelajaran. Ketiga dari evaluasi pembelajaran, dan yang keempat dari otomatisasi dan informasi pembelajaran. Sekolah boleh mengambil satu atau langsung keempatnya sesuai dengan kesiapan setiap sekolah. Kesiapan dari SDM, infrastruktur dan lain-lain,” ungkap Andri.

Sementara itu, Sudarmaji dari IT SLCC PGRI Ponorogo menerangkan materi mengenai ‘Menuju Digitalisasi Sekolah Melalui Sekolah Penggerak.’ Dalam pengembangan digitalisasi pendidikan, terdapat salah satu program Dinas Pendidikan bernama Sekolah Penggerak. Sekolah dalam program ini diberikan pelatihan terkait teknologi digital sehingga tiap elemennya menjadi lebih siap dalam melaksanakan pendidikan digital. Hingga saat ini, terdapat 2500 sekolah penggerak di seluruh Indonesia. Ponorogo sendiri akan menjadi sasaran Sekolah Penggerak di angkatan 3 atau 4 pada bulan Maret hingga bulan Juli mendatang.

Kemudian, sebagai penutup dari dialog interaktif kali ini, dilakukan dengan sesi tanya jawab. Ada tiga orang yang mengajukan pertanyaan, salah satunya adalah pertanyaan dari Gondo Puspito, seorang budayawan asal Ponorogo yang mengutarakan keresahannya sebagai orang tua. Ia mengatakan bahwa sekarang tugas orang tua bertambah karena turut membantu mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan oleh anaknya. Padahal, pemahaman orang tua terkait teknologi pun minim. Lalu, ia bertanya terkait tanggapan pemateri mengenai kondisi tersebut. “Bagaimana tanggapan dan juga tindakan dari dinas pendidikan mengenai keadaan seperti ini, apalagi bagi orang tua yang tidak memahami ilmu teknologi?” ungkapnya.

Andri menjawab bahwasanya tidak hanya orang tua yang merasakan dampak pandemi dalam dunia pendidikan, tetapi para guru juga merasakan dampaknya. Maka dari itu, guru diminta untuk menjelaskan dalam bentuk video yang kemudian bisa diakses oleh siswa. “Pandemi datang tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, di mana kita dipaksa untuk melakukan perubahan di berbagai bidang, salah satunya di dunia pendidikan. Pembelajaran yang biasanya dilakukan dengan tatap muka, terpaksa harus dilakukan secara online. Dan ketika kondisi ini datang, tidak hanya siswa dan orang tua, tetapi guru juga kemampuannya masih terbatas. Maka dari itu kita meminta untuk guru membuat recording video, dia harus menjelaskan dan bisa diakses oleh siswa,” jelas Andri.

Pelaksanaan launching majalah ini mendapat tanggapan dari peserta, salah satunya dari Awal Hidayat Marwan. Awal mengatakan acara tersebut cukup menarik untuk dibahas saat ini karena sesuai dengan problematika pendidikan Indonesia saat ini.  “Menurut saya, acaranya sudah bagus, tema yang diangkat sudah sesuai dengan problematika yang dihadapi pendidikan di Indonesia,” ungkap mahasiswa Ekonomi Syariah semester dua tersebut.

Terakhir, Itsna Rahmawati selaku ketua panitia merasa sangat bersyukur karena acara pada hari ini bisa berjalan dengan lancar, meskipun ada sedikit kendala selama pra-acara. “Alhamdulillah acara bisa berjalan dengan lancar. Mungkin kendalanya, acara tidak bisa dimulai sesuai yang telah dijadwalkan karena banyak kursi belum terisi. Jadi tidak memungkinkan untuk membuka acara tanpa adanya peserta. Antusiasme peserta juga cukup baik,” ujarnya. 

Reporter: Chusnul, Febi, Ulfa

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.

banner