Iklan Layanan

Cuplikan

Minim Pendanaan, Pengembangan Wisata Tubing Kali Kajar Kurang Maksimal

(Foto: Alya)

  lpmalmillah.com - Desa Paringan yang terletak di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur merupakan sebuah desa yang berprestasi. Desa ini menjadi juara lomba desa yang diadakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD). Bahkan, pada tanggal 9 April 2021 juga mewakili Kabupaten Ponorogo untuk mengikuti lomba desa tingkat Jawa Timur. Selain itu, desa ini juga merupakan salah satu desa pariwisata dengan dikelolanya sebuah objek wisata bernama tubing Kali Kajar.

Wisata tubing Kali Kajar ini terletak di Dusun Krangkungan. Awalnya, sungai ini biasa digunakan anak sekitar untuk bermain, sehingga pada tahun 2017 diresmikan menjadi objek wisata di bawah naungan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), salah satu unit Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang menangani wisata. Tubing sendiri merupakan aktivitas olahraga air yang dilakukan di medan sungai, aliran irigasi, dan sungai yang mengalir di dalam goa. Sarana atau alat yang digunakan untuk river tubing adalah ban karet. Ban inilah yang digunakan untuk hanyut menyusuri sungai.

Dalam pengelolaannya, Tubing Kali Kajar awalnya dikelola oleh Pokdarwis. Karena keanggotaan Pokdarwis terdiri dari Karang Taruna seluruh dusun di Desa Paringan, maka pada tahun 2020 pengelolaan tubing Kali Kajar diserahkan kepada karang taruna Dusun Krungkungan untuk mempermudah koordinasi. “Hal tersebut dikarenakan keanggotaan Pokdarwis yang tidak hanya dari Dusun Krungkungan saja, tetapi dari semua dusun yang ada di Desa Paringan, membuat mereka kesulitan dalam koordinasi pengelolaan tubing Kali Kajar,” ucap Sumawan selaku Kepala Dusun Krangkungan.

Durasi satu rute perjalanan tubing yang dulunya kurang lebih 45 menit dengan panjang dua kilometer, kini diperpendek menjadi satu kilometer dengan durasi sekitar 20 menit. Hal ini dilakukan karena medan yang terlalu ekstrem dan beresiko untuk dilewati oleh pemula. “Diperpendeknya rute perjalanan karena terlalu ekstrem medannya dan gelap karena dikelilingi banyak bambu yang pastinya terlalu berisiko untuk pemula,” jelas Budi yang juga merupakan salah satu operator tubing Kali Kajar.

Wisata tubing Kali Kajar buka mulai dari pukul 07.00-17.00 WIB setiap hari Sabtu dan Minggu. Dalam setahun wisata ini buka hanya pada musim kemarau. Hal ini disebabkan karena tidak stabilnya arus air pada musim penghujan. “Arus air pada musim penghujan tidak stabil. Maka dari itu, wisata tubing hanya buka pada musim kemarau,” ungkap Budi.

Wisata ini menawarkan beberapa varian paket dengan bentuk pelayanan yang berbeda. Mulai dari yang sederhana, ada paket asik dengan harga Rp. 25.000,- dan paket gembira dengan harga Rp. 55.000,-. Kemudian ada paket suka dengan harga Rp. 65.000,- dan yang terakhir ada paket cinta dengan harga Rp. 120.000,-.

Wisata yang sudah beroperasi sekitar empat tahun ini sudah mendapatkan sekitar 4000 jumlah pengunjung. Biasanya, dana dari pengunjung ini dikumpulkan pihak karang taruna yang nantinya dibagikan ke pihak BUMDes sebesar 10% dan 30% untuk biaya operasional seperti perbaikan dan pemeliharaan ban yang gampang bocor. Sisanya, sebesar 60% dialokasikan untuk gaji pihak operator yang juga merupakan anggota karang taruna. “Dari tubing, BUMDes dapat 10% dana hasil dari pengunjung. Lalu, karena ban gampang bocor, jadi 30% dialokasikan untuk fasilitas dan sisanya untuk gaji operator tubing,” jelasnya.

(Data pengunjung tubing Kali Kajar)

Berdasarkan data, 85% pengunjung berasal dari Ponorogo, sisanya berasal dari sekitaran Madiun dan Magetan. Hal ini terjadi dikarenakan kurangnya promosi baik secara sosial media maupun secara langsung, seperti memasang banner di berbagai tempat. Bahkan, selama empat tahun ini pihak dari Karang Taruna hanya melakukan promosi lewat Facebook masing-masing dan belum membuat akun khusus untuk wisata tubing. Mereka juga tidak memasang banner di luar Desa Paringan, sementara banner yang mereka pasang di sekitar desa pun tidak mencantumkan contact person yang bisa dihubungi. Belum dibuatkanya banner ini dikarenakan kurangnya dana untuk wisata tubing. “Belum buat banner karena kurang dana. Soalnya dananya banyak dihabiskan untuk perbaikan ban yang gampang bocor dan pembuatan beberapa hiasan untuk Tubing Kali Kajar seperti gubuk peristirahatan,” ucapnya.

Kurangnya dana ini memang menjadi kendala tersendiri sehingga mengakibatkan kurang maksimalnya ketersediaan fasilitas, seperti tidak adanya tempat parkir khusus dan sedikitnya kamar mandi. Selain fasilitas, akses jalan sepanjang 500 meter menuju ke wisata tubing Kali Kajar juga tergolong kurang belum baik. Meskipun demikian, Suwendi mengungkapkan bahwa masalah tersebut telah dilaporkan kepada pihak kabupaten. “Kendala ini sudah diusulkan ke pihak kabupaten untuk memperbaiki wisata tubing, baik itu menambah fasilitas atau memperbaiki akses jalan yang tidak lancar,” ucap Suwendi selaku Kepala desa.

Kenyamanan akses tentu akan menjadi salah satu pertimbangan ketika hendak mengunjungi suatu tempat wisata. Oleh karena itu, akses jalan yang belum memadai ini selain menjadi kendala transportasi bagi pengunjung juga menjadi penghalang meningkatnya perekonomian masyarakat. “Akses jalan yang tidak lancar terkadang membuat orang yang akan berwisata ke tubing mengurungkan niatnya karena jalan yang sulit dilalui dan akhirnya membuat pedagang di sekitar Tubing jarang adanya pembeli.” jelas Ria Puspita Sari selaku warga sekitar.

Terlepas dari itu, Suwendi berharap adanya wisata tubing Kali Kajar ini bisa menjadi ikon wisata Ponorogo. Terlebih, wisata tubing Kali Kajar merupakan satu-satunya wisata tubing di Kabupaten Ponorogo. “Harapannya wisata tubing ini bisa menjadi salah satu ikon wisata di Ponorogo, karena tidak semua desa mempunyai tubing dan di Ponorogo ini salah satunya ada di desa Paringan,” harapnya.


Reporter: Alya, Itsna, Fatah

Penulis: Alya

PJTD 2021

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.