Iklan Layanan

Cuplikan

Muda-mudi Banyuwangi Penggerak Toleransi

Pemuda pelestari warisan leluhur adat itu tampak mengenakan ikat kepala khas Suku Using. Ikat kepala, atau orang Jawa dan Bali biasa menamakannya udeng, ini bermotif batik. Warnanya biru dengan tiga segitiga yang tampil serasi. Satu berbentuk terbalik di dahi antara dua mata, sedangkan dua lainnya di bagian kiri dan kanan kepala.

Ialah Vanedio Nala Ardisa, salah satu pemuda Using, suku asli Banyuwangi. Vanedio yang kerap disapa Dio ini merupakan anggota Mocoan Lontar Yusup (MLY) Milenial. Lontar Yusup merupakan salah satu manuskrip puisi naratif karya agung Suku Using (pelafalannya osing) tentang keteladanan Nabi Yusuf. Bersama kawan-kawannya, pemuda berusia 22 tahun ini rutin berkhidmat dalam melantunkan larik-larik tembang yang mereka sebut sebagai mocoan, di antaranya dari manuskrip Using: Lontar Yusup.

“MLY Milenial penting dirawat agar bacaan Lontar Yusup dan pesan-pesan kebaikan di dalamnya tidak hilang tergerus zaman,” tutur Dio kepada aL-Millah secara daring (Senin, 16/11).

Dalam dialek Using, tidak terdapat huruf ‘f’, sehingga penamaan lontar dan juga komunitas menggunakan huruf ‘p’ berupa Mocoan Lontar Yusup, bukan Yusuf.

Komunitas yang fokus pada pelestarian budaya membaca Lontar Yusup itu berdiri sejak 2018. MLY hanya satu bagian dari kontribusi pemuda untuk merawat keberagaman di Banyuwangi.

Menjaga Api Budaya

MLY Milenial memiliki sekitar 45 anggota yang secara etnis tidak terbatas pada pemuda suku Osing saja. Setiap tahun, papar Dio, MLY Milenial mengadakan agenda pelatihan membaca lontar. Dalam agenda tahunan ini kemudian dilaksanakan pembacaan rutin setiap Rabu dan Sabtu. 

Foto oleh: Dio (Pemuda anggota MLY Milenial membaca Lontar Yusup)

Selain aktif di MLY, Dio juga menginisiasi sekaligus menggerakkan komunitas Pemuda Adat Cungking (Pemacu) di desanya, Cungking. Anggotanya beragam usia, mulai dari usia SMP hingga SMA maupun kuliah. Perkumpulan semacam Karang Taruna ini lebih fokus pada kegiatan adat. Mereka secara rutin melakukan pertemuan di Balai Tajuk. Ini semua dilakukan dengan rasa bangga atas adat di desa kelahirannya.

“Desa Cungking ini tertua di Banyuwangi, seperti mini Indonesia, karena terdapat beragam suku dan agama,” kata Dio membanggakan kampung halamannya.

Pemacu juga membuat agenda yang memfasilitasi kegiatan lintas budaya, yang tidak hanya terpaku pada Suku Using. Mereka mengadakan bazar dan pentas budaya serta kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat umum lintas suku atau etnis, agama dan budaya. Jika ada ritual adat di kampung, Pemacu pun akan ikut berpartisipasi aktif.

Inisiatif-inisiatif anak muda Using ini terhubung secara apik dengan senior-senior mereka yang tak kalah tekun dan konsisten merawat tradisi berbagai seni beserta upacara ritual Using dan meruwat kedalaman maknanya agar tidak menjadi banal, terseret dalam festival-festival.  

Sekretaris Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) PD Osing Wiwin Indriarti melihat perlunya penguatan anak muda dalam pelestarian budaya. Menurutnya, tidak perlu menyalahkan pemuda jika mereka lebih tertarik dengan budaya daerah atau bangsa lain. Karena itulah, ia memilih untuk memberikan wadah agar pemuda bisa belajar. Salah satunya, Wiwin turut berkontribusi membentuk MLY Milenial sebagai wadah muda-mudi belajar mengenai Lontar Yusup.

Perempuan yang sering dipanggil Mbok Wiwin ini juga menekankan pentingnya kesadaran pemuda agar kembali percaya diri pada identitas atau jati dirinya.

“Anak muda harus berperan aktif dalam menjaga warisan leluhur,” tegas dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Banyuwangi itu.

Mbok Wiwin tidak lelah memberi dorongan kuat terhadap pemuda karena cara seperti itu sekaligus menjadi antisipasi bersama seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi gerakan intoleransi kelompok yang mengancam tradisi-tradisi Using yang mengatasnamakan agama dan mewaspadai program Pemerintah Kabupaten agar tidak menjadikan seni dan tradisi ritual bumi Blambangan sebatas festival dan menghilangkan kedalaman makna spiritual.

Melebur dalam Beda

Setiap perbedaan merupakan anugerah dari Tuhan yang perlu disyukuri. Hal tersebut dituturkan dengan penuh penekanan oleh Pendeta Kristanto, Pendeta Baku di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Banyuwangi.

“Orang kalau memahami keberagaman itu berkat, disyukuri, bukan dikutuk,” tegas Kristanto yang mengemban tugas sebagai Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Banyuwangi.

Foto oleh: Nana (Pemuda-pemudi Kristen mewarnai liturgi GKJW Banyuwangi)

Di gereja yang dipimpin oleh Pendeta Kris, begitu sapaan hariannya, rutin dilakukan pergantian suasana bernuansa etnis setiap minggunya, ketika menggelar bulan budaya. Semua terjadwal rapi dan gereja mengakomodir berbagai etnis di Banyuwangi secara bergantian. Misal, lanjut Kris, jika minggu ini etnis Osing, minggu selanjutnya Madura, kemudian Jawa, dan Bali.

Pendeta yang menjabat Wakil Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kecamatan Banyuwangi ini juga menuturkan, untuk menguatkan jalinan persaudaraan lintas iman, gerejanya kerap dipergunakan untuk agenda di luar jamaat Kristen. PMII pernah mengadakan agenda peringatan hari lahir (Harlah) ke-58. LESBUMI juga pernah menggelar konser jazz. Semua disambut baik dan dinikmati bersama.

Tentunya, ini tidak lepas dari kontribusi kalangan muda-mudi Kristen. Krisana Murniati yang memangku Komisi Pembinaan Pemuda dan Mahasiswa (KPPM) di GKJW Kecamatan Banyuwangi aktif mengambil peran dalam menguatkan identitas di kalangan anak muda.

KPPM GKJW Banyuwangi memiliki kurang lebih 50 anggota. Biasanya, ujar perempuan yang akrab disapa Nana ini, mereka berkumpul setiap malam Minggu untuk ibadah bersama. Di forum itu, pemuda KPPM akan saling berbagi pengalaman dan refleksi. Forum itu juga menjadi tempat mencari solusi untuk setiap masalah yang sedang dihadapi.

“Setelah itu, di forum KPPM pemuda bisa saling menyemangati dan merefleksikan pengalamannya masing-masing sembari mendengarkan pembacaan firman,” lanjut Nana.

Liturgi di gereja turut memberi kesempatan pada anak muda untuk berproses. Setiap bulan Oktober yang diperingati sebagai bulan pemuda, mereka melaksanakan tugas-tugas majelis gereja seperti among tamu, pembacaan firman, persembahan, dan lain-lain.

Perempuan berusia 25 tahun ini menceritakan KPPM yang sering anjangsana untuk bakti sosial, baik ke sesama kalangan Kristen maupun umum. Di kalangan Kristen biasanya mereka akan mengunjungi panti asuhan, TK, dan juga kalangan lanjut usia (lansia). Sedangkan kegiatan terbaru untuk masyarakat umum diadakan KPPM saat pandemi Covid-19. Mereka membagikan masker dan nasi kotak kepada tukang becak.

“Kalau masalah keberagaman yang meresahkan itu adalah fanatisme. Karena mereka akan menjadi egois,” tutur Nana dengan nada mengingatkan.

Oleh sebab itu, KPPM ikut mengambil bagian pada Harlah Pancasila pada 1 Juni yang rutin diadakan GKJW. Dalam agenda itu, masyarakat lintas agama diundang berdo’a bersama untuk kesejahteraan negara.

Di samping itu, tokoh agama yang ikut mengambil peran menguatkan toleransi di akar rumput Banyuwangi adalah Romo Triburtius Catur Wibawa. Sebagaimana Pendeta Kristanto, Ia juga mengamini bahwa keberagaman agama di ujung timur Jawa ini bukan masalah.

Romo Catur, demikian ia dipanggil, bercermin dari tradisi dan sejarah Katolik dengan merujuk Konsili Vatikan II yang sudah menegaskan bahwa dalam agama lain bisa ada kebenaran. Artinya, kebenaran tidak hanya milik Katolik atau satu agama tertentu. Banyak kebenaran di luar gereja, sehingga gereja juga harus membuka diri untuk bekerja sama dengan agama-agama lainnya.

Maka, ia mengimbuhkan, gereja bukan hanya tentang iman saja, tetapi bagaimana bisa berkontribusi dalam membangun dunia. Romo Catur menjadi salah satu pengurus Griya Ekologi Kelir yang secara baik dan terbuka bekerja sama dengan penduduk suku Using untuk membangun tempat-tempat meditasi sekaligus melestarikan bentuk rumah tradisi Using.

Griya Ekologi Kelir yang dikelolanya juga mengampanyekan pemenuhan pangan lokal dengan mengajak semua pihak mengamalkan ungkapan lulusan program sarjana dan magister di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana Malang ini: menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam.  

“Saya harap anak muda terus berbuat kebaikan pada siapa pun, tanpa melihat latar belakang. Karena kebaikan jauh melampaui identitas apapun,” Romo Catur menegaskan.

Tak terbatas pada 6 agama yang diakui negara, komunitas penganut agama Baha’i di Banyuwangi juga turut menghidupkan semangat toleransi untuk menyikapi keberagaman agama di masyarakat. Pasangan penganut Baha’i Ponirin dan Mursiti, adalah warga negara yang tergerak turut berkontribusi dalam membangun Banyuwangi yang harmoni.

Upaya ini mereka lakukan berdasarkan tuntunan dari nabi agama Baha’i, yakni Baha’u’llah, yang mengajarkan keyakinan tentang kesatuan umat manusia.

“Semua agama di dunia ini berasal dari satu Tuhan, dan semua manusia sama,” kata Ponirin.

Untuk memahami, menggali, dan menghidupkan ajaran Baha’i tentang perdamaian umat manusia, di Banyuwangi mereka memiliki tempat edukasi bernama Institut Ruhi. Mursiti adalah salah satu masyarakat Baha'i yang mengajar di Institut Ruhi.

Mursiti menyampaikan, di Institut Ruhi ada kurikulum khusus berupa pembelajaran ilmu pengetahuan. Dari proses pembelajaran itu, sambung Mursiti, yang paling utama adalah bagaimana bisa berkontribusi pada masyarakat. Ini dilakukan agar Baha’i bisa merangkul semua kalangan untuk bersama membangun kesejahteraan.

Komunikasi adalah Kunci

Elemen muda di Banyuwangi yang membangun interaksi dan kerja sama lintas agama, etnis, dan budaya adalah jaringan Gusdurian. Mereka menganggap keberagaman Banyuwangi sebagai hal yang menyenangkan dan menambah warna-warni dunia. Karena itulah, meraka sangat meyakini, dari keberagaman selalu ada ruang dialog yang perlu untuk selalu dibuka lebar.

“Dari semua pertikaian, awalnya persoalan miskomunikasi. Nah, ketika komunikasi bagus, lancar semuanya,” ujar koordinator Gusdurian Banyuwangi Fatchan Himami Hasan.


Foto oleh: Fatchan (Rutinan Gesah Gayeng Gusdurian)

Baginya, ketika muncul ketegangan di masyarakat, maka harus mendahulukan dialog dua arah. Sebab, respon atas konflik yang dilakukan dengan tenang, lebih baik daripada menanggapi dengan amarah. Untuk itu, dalam upaya menjaga kerukunan antaragama khususnya, mereka rutin melaksanakan silaturahmi ke tokoh budaya dan agama di Banyuwangi.

Selain itu, Gusdurian juga mengadakan agenda yang melibatkan masyarakat lintas iman, misal, Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG). KPG adalah forum lintas agama untuk mempelajari pemikiran Gus Dur tentang toleransi dan perdamaian. Selain itu, ada pula kegiatan lingkungan dan pelestarian alam yang melibatkan masyarakat lintas iman, yakni agenda tanam pohon.

Sehingga, Fatchan melanjutkan, anggota Gusdurian sendiri terdiri dari berbagai agama, mulai dari Hindu, Konghucu, Katolik, Kristen, Budha, penghayat Kejawen, hingga Islam. Pria berusia 32 tahun ini juga menceritakan, setiap Ramadhan Gusdurian membuka ruang dialog dengan jemaat GKJW dan warga setempat. Mereka melawat ke gereja di bulan Ramadan dan ikut berdialog mengenai pentingnya merawat keberagaman.

Ini sejalan dengan yang dilakukan oleh jaringan Gusdurian secara nasional, yakni agenda rutin setiap Ramadan: sahur keliling dan buka bersama ke gereja dan rumah ibadah lainnya untuk merajut dialog dan menguatkan harmoni.

Di tingkat nasional sahur keliling dilakukan bersama Sinta Nuriyah Wahid, istri mendiang Gus Dur (presiden Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid), yang digelar sepanjang Ramadan ke berbagai rumah ibadah di banyak daerah. Kegiatan ini digelar sudah 20 tahun, sejak Gus Dur menjadi presiden.

Banyuwangi sebenarnya mempunyai agenda tahunan yang menyatukan semua etnis, agama, budaya, dan gender: pelantunan tembang Babad Tawangalun. Kegiatan ini dimulai sejak 2017. Setiap yang terlibat dalam pembacaan Babad Tawangalun memakai baju khas etnis atau budaya asalnya. Mereka masing-masing melantunkan Babad Tawangalun dengan cengkoknya masing-masing namun menggunakan dialek Using, yang khas Banyuwangi. Dalam cengkok atau ragam tembang yang berbeda-beda, yakni Using (mocoan), Jawa (mocopatan), Madura (mamaca), dan Bali (mabasa), bahasa Using tetap menjadi alat komunikasi yang menyatukan keberagaman Banyuwangi.

Bukan sekadar ‘abang-abang lambe’, ungkapan serupa tentang wujud kerja keras dan panjang yang tidak sebatas basa-basi dikatakan banyak pihak tentang Banyuwangi. Tak mengherankan komunikasi aktif dan kerja sama lintas agama, suku, dan budaya ini berbuah Harmony Award dari Kementerian Agama tiga tahun silam.

Hal yang perlu diberi tempat adalah semangat pemuda-pemudinya. Mungkin, saat ini banyak orang tua yang mencemaskan sulitnya mewariskan semangat untuk menjaga tradisi kepada anak muda. Boleh saja menganggap generasi muda jauh lebih tertarik pada budaya popular (pop culture) yang sedang merebak daripada percaya diri menggali kearifan lokal para pendahulu. Tetapi, semua itu tidak terlihat sama sekali pada pemuda Banyuwangi.

Di kalangan pemuda, perbedaan bukan lagi ancaman. Kebinekaan yang mentradisi dan hidup dalam realitas Banyuwangi menjadi tantangan dan kerja sama untuk dirayakan, dengan terus membuka lebar komunikasi.

“Perbedaan membuat dunia lebih berwarna. Kalau dikatakan toleransi, yang ada di Banyuwangi ini lebih dari toleransi. Karena semua pihak ikut terlibat aktif,” ujar Dio. []

Penulis: Adzka Haniina Albarri, LPM aL-Millah IAIN Ponorogo

**

Tulisan ini bagian dari program Workshop Pers Mahasiswa yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) kerja sama dengan Friedrich-Nauman-Stiftung fur die Freiheit (FNF) dan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia.






No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.

banner