Iklan Layanan

Cuplikan

Tahun Ajaran Baru : Gunakan E-learning dan Beri Subsidi Kuota (?)

 

Sumber Gambar : http://topbusiness.id/

     lpmalmillah.com – Pembelajaran online menjadi alternatif yang banyak diterapkan pada masa pandemi oleh lembaga pendidikan, tak terkecuali IAIN Ponorogo. Untuk menunjang perkuliahan daring, IAIN Ponorogo mewajibkan penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran. Selain itu IAIN Ponorogo juga memberikan fasilitas berupa kuota internet. Namun penggunaan e-learning ini masih menimbulkan pro kontra dari mahasiswa dan dosen. Pemberian kuota internet juga masih menyisakan keluhan oleh beberapa mahasiswa.

    Dalam surat edaran nomor B-3805/In.32.1/PP.00.9/08/2020 tentang kuliah perdana, UTS, UAS ujian skripsi/tesis dan pelaksanaan wisuda semester gasal tahun akademik 2020/2021 disebutkan beberapa poin, dua diantaranya adalah pedoman daring dan subsidi kuota internet. Dalam surat edaran tersebut, pedoman daring yang dimaksud adalah mengenai penggunaan e-learning, Google Classroom, dan WhatsApp. Sedangkan subsidi kuota internet akan diberikan kepada seluruh mahasiswa S1 dan S2.

Penggunaan e-learning sebagai Media Wajib

    Penggunaan e-learning ini masih menjadi perbincangan, alasannya karena media ini baru diterapkan. Selain itu banyak mahasiswa yang masih bingung dengan penggunaannya walaupun sudah ada tutorialnya. Hal tersebut dikarenakan tata letak tool yang berbeda pada setiap mata kuliahnya.

    Aldi Nicko Awailun Firmansyah, mahasiswa jurusan Tadris Bahasa Inggris semester III, mengaku lebih memilih mengunakan media selain e-learning. “Saya dan beberapa teman saya lebih enjoy menggunakan media selain e-learning. Karena biasanya jika dibuka servernya down tidak mau masuk sehingga membuat saya bingung,” terangnya.

    Tak jauh berbeda dengan Aldi, Altin Choliatus, mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam semester V merasa bahwa pengunaan e-learning dirasa kurang efektif jika dibandingkan dengan Google Classroom. “Dibanding Google Classroom, e-learning kurang efektif menurut saya, jika di Google Clasroom kan ada fitur notifikasinya, sedangkan e-learning tidak ada,” ungkapnya.

    Rizqi Rahmawati, salah satu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam mengaku tak hanya menggunakan e-learning saja sebagai media pembelajaran, namun ada media lain sebagai penunjangnya. “Saya menggunakan WA grup, e-learning, dan Google Classroom. karena kouta jumlah pengakses e-learning terbatas, jadi saya mem-back up di Google Classroom dan untuk diskusi tetap di WA grub karena gampang,” tuturnya.


    Lebih lanjut, Rizqi menjelaskan kendala yang menjadi pertimbangannya menggunakan media lain sebagai penunjang proses pembelajaran online. “Sebenarnya e-learning itu bagus cuma permasalahannya lemot lah, error lah, dan servernya belum mampu jadinya sering down, gitu,” tambahnya.

    Menanggapi hal tersebut, Ahmad Zainal Abdi, kepala bagian akademik dan kemahasiswaan menuturkan bahwa lembaga lebih menganjurkan e-learning di bandingkan dengan media lain seagai media pembeajaran. “Google Classroom, Zoom dan lain sebagainya memang mudah, tetapi tidak bisa diukur secara kualitas (akreditasi). Sedangkan e-learning pasti terukur,” ujarnya.

    Sama halnya dengan Rizqi, dalam proses pembelajarannya, Amila juga menggunakan media penunjang e-learning. “Untuk mengantisipasi kondisi e-learning yang sering error, makanya saya berjaga jaga dengan menggunakan google classroom atau WA grup,” tuturnya

    Menurut Abdi, penggunaan media merupakan wewenang dosen. “Memang masih ada beberapa dosen yang belum menggunakan metode ini, tapi jumlahya cukup sedikit. Sebenarnya semua dosen harus menggunakan e-learning, tapi ketika ada yang tidak mau menggunakan ya monggo, itu kewenangan dosen,” jelasnya.

    Lebih lanjut, Abdi menambahkan bahwa media selain e-learning tidak bisa dinilai untuk akreditasi. “Bahwa kemudian metode dia tidak dapat dinilai oleh akreditasi, namun itu sebuah konsekuensi yang harus diterima lembaga,” tambahnya.

    Di samping itu, Abdi meminta agar semuanya bisa memaklumi, karena terkait metode yang baru pertama kali diterapkan. “Sekali lagi harus dimaklumi, kita itu baru pertama kali menerapkan metode ini secara masif. Basic kita juga bukan di dunia IT.  Ya mau gak mau kita kegaduk-gaduk (kejedot), Tapi tetap kita akan berupaya mencarikan solusinya,”  jelasnya.

Pemberian Subsidi Kuota Internet

    Sesuai dengan Surat Edaran di atas, IAIN Ponorogo memberikan subsidi kouta internet sebesar 30 GB per bulan untuk setiap mahasiswa selama tiga bulan, yaitu Agustus-September, September-Oktober, Oktober-November. Hal tersebut sebagai penunjang proses pembelajaran online yang diberikan secara bertahap.

    Abdi mengungkapkan untuk provider, kampus memilih menggunakan Indosat, karena terkait ketersediaan paket dan jangkauan. “Bahwa hari ini yang memiliki paket pendidikan yang bisa diakses selama 3 bulan berturut-turut hanya Indosat. Selain itu untuk cover area dipekirakan jangkauannya luas, meskipun di bawah Telkomsel,” jelasnya.

    Aldi mengaku masih ada rasa kecewa atas pemberian subsidi, karena subsidi kuota internet tersebut hanya dapat mengakses platform tertentu saja. “Awalnya saya berpikir subsidi itu bagus ketika masa pademi seperti sekarang. Tapi saya sedikit kecewa karena kouta tersebut hanya kouta edukasi saja, Jadi hanya dapat digunakan untuk mengakses platform tertentu saja,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa mahasiswa juga sering mencari sumber informasi tambahan dari platform lain. “Sedangkan mahasiswa mencari sumber informasi tambahan biasanya melalui Google, Youtube dan lain sebagainya, yang mana platform tersebut tidak termasuk dalam paket edukasi,” tambahnya

    Menanggapi hal itu, Abdi menegaskan bahwa pihak kampus peduli dengan mahasiswa. “Padahal subsidi, sampai sejauh itu kita memikirkan mahasiswa, seharusnya jika subsidi tidak harus penuh, minimal 50% lah. Tapi ini kita berikan sampai 3 bulan,” terangnya.


Reporter: Erfin, Hanif

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.