Iklan Layanan

Cuplikan

Yamiati : Pelita Pendidikan Bagi Siswa Luar Biasa

     

 

Features oleh : Febri,Ika / Crew

    Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Pepatah tersebut seolah memberi nasihat kepada kita agar senantiasa tolong menolong terhadap sesama. Seperti yang dilakukan oleh Yamiati atau biasa dipanggil Bu Maman, sosok guru sekaligus Kepala SLB (Sekolah Luar Biasa) Pertiwi Dusun Bangunsari, Ponorogo. Semangat tinggi dan hati tulus merupakan modal utama mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus.

    Tidak segampang mengedipkan mata, perjuangannya merawat dan mendidik siswa di  SLB Pertiwi bak ibu Kartini di era sekarang. Di tengah pandemi Covid-19 ini, Yamiati melakukan pembelajaran dengan dua cara yaitu online dan offline. Yamiati melakukan pembelajaran daring sebagai upaya untuk mencegah wabah Covid-19 semakin merebak. Sesuai aturan pemerintah yang mengambil kebijakan memberhentikan proses belajar dan mengajar sekolah dan mengalihkannya ke belajar dari rumah. Sedangkan cara offline ia lakukan dengan mendatangi rumah muridnya. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan siswa karena tidak semua siswa dapat menerima pembelajaran secara online.

    Muridnya ialah seorang penyandang tunagrahita atau memiliki keterbatasan dalam berpikir dan kekurangan mental. Hati Yamiati terketuk untuk berusaha mendampinginya secara langsung. Tak peduli terik matahari menyengat, Yamiati tetap semangat menuju rumah muridnya agar meraka tidak tertinggal pelajaran. Salah satu siswa yang ia hampiri berada di Desa Padas, Kecamatan Bungkal. Keterbatasan dari orang tua yang kondisinya sama dengan sang anak membuat ia semakin gigih untuk menyalurkan ilmu secara langsung.

    Pembelajaran online tidak sepenuhnya berjalan mulus. Perempuan paruh baya yang tinggal di Kelurahan Glagah, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo ini mengungkapkan terdapat banyak kendala yang dihadapinya selama melakukan pembelajaran online. Seperti orang tua yang tidak mampu membaca pesan Whatsapp, keterbatasan signal yang ada di rumah siswa, ada pula orang tua yang tidak memiliki ponsel android, bahkan murid yang orang tuanya menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) sehingga menitipkan anaknya ke saudaranya.
 
    Beberapa kendala tersebut membuat pembelajaran dari rumah kurang maksimal. “Ada diantara kedua orang tuanya yang daya tangkapnya kurang seperti tidak dapat membaca dan tidak dapat mengoperasikan hp. Kami memaklumi kondisi mereka,” ungkap Yamiati. Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup Yamiati, ia akan tetap berusaha semampunya untuk memberikan yang terbaik demi murid yang ia cintai.

    Setiap berkunjung ke rumah muridnya, Yamiati selalu menanyakan tugas yang sebelumnya diberikan. Dengan sentuhan tangan yang lembut ia duduk bersama muridnya dan memulai menjelaskan materi dengan sabar. Tidak ada rasa marah dan jengkel ketika muridnya melakukan kesalahan dalam mengerjakan tugas. Suatu ketika Yamiati pernah menyuruh sang murid untuk menggambar pisang tetapi tak disangka malah gambarnya menjadi seperti tikus. Bukannya marah ia dengan lembut menasehati sembari tersenyum. Dengan telaten ia membimbing muridnya agar bisa berusaha lebih baik lagi.

    Yamiati sangat dekat dengan muridnya sampai hafal karakter dan kemampuannya. Seperti di dalam mata pelajaran matematika, ia bersyukur muridnya mampu menghitung dari satu sampai sepuluh. Walaupun terlihat sederhana namun hal seperti ini membuat hatinya bangga. Perempuan berkacamata ini semakin semangat mengajarkan lebih banyak ilmu demi kemajuan anak didiknya.

     Yamiati meng-handle enam murid yang berkebutuhan khusus, semuanya masih berjenjang SMP. Yamiati mengatakan jika muridnya kurang diterima di masyarakat. Hal tersebut berbeda ketika berada di lingkungan SLB Pertiwi, muridnya merasa memiliki teman dan dihargai. “Anak-anak SLB ini kan di masyarakat kurang diterima, jadi kalau di sekolah sesama temannya yg seperti itu ia nyaman dan merasa diharga jadi seneng kalau sekolah,” kata Yamiati. Hubungan murid SLB Pertiwi dengan sekitar juga sangat erat. Ketika lebaran murid beserta para guru saling silaturahmi dengan warga sekitar. Juga saat hari raya Idul Adha mereka selalu berbagi daging kurban dengan masyarakat.

    Pandemi Covid-19 membuat muridnya merasa rindu dengan suasana sekolah dan gurunya. Bahkan ada yang memaksa untuk mengunjungi sekolah. Dengan sabar Yamiati memberikan pengertian bahwa saat ini sebenarnya belum diperbolehkan untuk mengunjungi sekolah. Tetapi Yamiati merasa iba dan akhirnya memberi izin kepada muridnya untuk berhati-hati dan menjaga protokol kesehatan ketika menunjungi sekolah.


    Yamiati juga sering berkomunikasi dengan muridnya untuk tetap menjaga silaturahmi di masa pandemi. Jika ada yang rindu dengan Yamiati maka ia tidak segan untuk menelepon muridnya, saling berbagi kabar. Meskipun mereka tidak begitu lancar menjawab, Yamiati tetap semangat memotivasi muridnya. Hal itu membuat muridnya terlihat bahagia.

    Masa pandemi ini juga, Yamiati merasakan kesiapan pembelajaran daring di SLB memang kurang. Karena pandemi bertepatan dengan sekolah yang baru memulai proses pembelajaran. Yamiati mengira jika hanya memberi tugas muridnya mereka akan paham, tetapi ia salah, muridnya membutuhkan peran guru untuk menjelaskan setiap materi secara langsung. Maka Yamiati memutuskan untuk mendatangi rumah muridnya walau rumah muridnya cukup jauh. “Persiapan guru di sekolah kita juga kurang matang, kita membuat tugas saja tetapi murid kita menginginkan untuk guru-guru menjelaskan materi untuk tugas yang akan kita berikan seperti belajar tatap muka,” jelasnya.

    Pembelajaran tahun ajaran baru yang akan datang, Yamiati masih akan melakukan proses pembelajaran dengan cara offline maupun online sesuai kemampuan muridnya. Yamiati berharap orang tua siswa turut berperan memberi bukti proses belajar anaknya kepada guru. “Kalau kita menerapkan seperti yang di harapkan dan juga keadaan harus seperti itu mau tidak mau pembelajaran ditekan seperti itu ya, kita semampunya saja di imbangi dengan kemapuan murid dan orang tua tersebut,” ujar Yamiati.

    Yamiati patut disanjung sebagai sosok wanita teladan dengan hati yang penuh kesabaran. Keuletan dan ketekunan menjelaskan materi membuat muridnya mudah memahami pelajaran. Kasih sayang yang tulus membuat muridnya nyaman dan mencintai Yamiati dengan luar biasa. Tidak ada yang sempurna di dunia. Semua manusia adalah makhluk berharga dengan segala ketidaksempurnaannya. Hargai, rangkul dan jangan jauhi mereka yang berbeda karena sejatinya mereka tetaplah manusia yang sama seperti kita.






No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.

banner