Iklan Layanan

Cuplikan

Caraku Bersyukur

Sumber gambar:Vecteezy.com

Oleh : Ika 

“Nikmat Tuhan Mana Lagi Yang Kau Dustakan”
    Ibarat kata tiada kesempurnaan tanpa adanya kekurangan. Aku tidak pernah bisa membayangkan hari-hariku tanpa bertemu dengan mereka. Manusia istimewa yang kutemukan di salah satu daerah di mana aku menempuh studi sarjana. Tetapi, semesta selalu memiliki rencana indah untuk setiap manusia yang dikehendakinya.

    Kali ini aku memilih untuk menetap. Bukan, sekali lagi untuk pamit dan menutup mataku. Tuhan telah memberikan banyak nikmat kepadaku, salah satunya fisik yang sempurna. Aku harus bersyukur bukan seperti dulu yang selalu mencela diri sendiri dan mengumpat karena Tuhan tidak memberi wajah yang tampan dan rambut yang lurus.

    Hari ini akhir bulan Mei. Bulan kelima dari jajaran dua belas bulan lainnya. Aku mendatangi tempat di mana duniaku berubah 180 derajat. Panti Asuhan Cendrawasih yang dulu sangat ramai dan sekarang menjadi sepi karena adanya pandemi virus corona. Air mataku perlahan menetes tatkala melihat laki-laki yang seusia denganku duduk di kursi roda dengan tatapan kosong mengarah ke gedung yang berdiri kokoh di depannya.     “Tuhan, nikmat mana lagi yang akan aku dustakan? Tidak ada.”

    “Kak Rain…” Teriak gadis kecil dari depan kamar asrama.
    Segera kuhapus air mata dan menggantinya dengan senyuman manis. “Hallo”. Sapaku dengan melambaikan tangan ke arahnya. Segera aku menghampirinya. Dapat kulihat dia tersenyum bahagia. Hatiku sungguh menghangat dibuatnya.

    “Kak Rain aku kangen dengan kakak.” Ucapnya.
    Aku tertawa kecil. Bisa-bisanya anak kecil ini menggodaku. “Ana ingin meluk kak Rain!” Pinta Ana.
 
    Ana berjalan dengan mengandalkan tangannya ke arahku. Ana memang nampak sempurna tetapi ketahuilah kakinya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sungguh malang nasibnya. Ana berhasil mendekat dan memelukku. “Kakak juga kangen dengan kamu, cantiknya kak Rain.” Bisikku.

    Ana nampak bahagia sekali bertemu denganku. Entah karena apa, mungkin karena aku tampan dan juga manis seperti Ricky, personil Un1ty. Ah, aku terlalu percaya diri.
Aku mengajak Ana duduk di taman panti. Bougenville merebak mewangi bagai keharuman gadis desa. Sementara akasia sedang tersiksa, karena tiada sengaja terinjak oleh kakiku. Anggrek ungu masih saja tampak malu-malu melihat daunnya gugur.

    “Kok panti sepi dek? Pulang semuanya kah?” Tanyaku kepadanya.
    Ana menganggukkan kepala. “Iya kak semuanya pulang, di panti tinggal empat orang saja termasuk Ana sendiri.” Ucapnya dengan nada berat. Ana sedih.
    “Berarti sekolah libur dong?” Tanyaku dengan nada bercanda.
    Ana tertawa kecil. “Iya kak libur sekolah.” Jawabnya.
    “Bagaimana loh dek sistem pembelajarannya?”
    Ana nampak berpikir. “Kalau aku sendiri kan di panti, tidak pulang ke Surabaya, jadi aku dikasih tugas sama bu guru lalu aku minta bantuan sama ibu panti untuk bantuin ngerjain tugas.” Jawabnya dengan nyengir.
    “Kalau yang lain dek, semisal pulang kampung?”
  “Masih sama, dikasih tugas sama bu guru dengan menelepon orang tuanya, nanti tugasnya dikumpulkan kepada bu guru.”
    Aku menganggukkan kepalaku, paham. “Kalau menurutmu sulit tidak?”
    “Sulit banget kak, karena aku lebih paham ketika ada gurunya langung pelajarannya.” Terangnya.
    Keluhan kesulitan ini juga kualami karena aku juga melakukan pembelajaran daring. Kadang paketan habis dan tidak ada signal yang terkadang menjadi kendala ketika proses pembelajaran berlangung.
    “Nak Rain…” Sapa ibu paruh baya yang bernama ibu Dora, pengurus panti Cendrawasih.
    “Sudah lama to nak di sini?” Tanya bu Dora, kemudian duduk di sampingku.
    Aku menggelengkan kepalaku. “Belum bu, mungkin sudah satu jam duduk di sini.” Jawabku dengan sedikit tertawa.
    Bu Dora ikut tertawa. “Maaf loh ibu tidak tahu kalau nak Rain di sini.” Ucapnya dengan nada bersalah.
    “Tidak apa-apa bu”
    “Panti sepi nak, karena banyak anak-anak yang pulang.” Ujarnya.
    “Nggak apa-apalah bu, sekali-sekali sepi.” Candaku.

    Matahari semakin naik dan akhirnya tenggelam di peraduannya. Aku harus pulang besok, aku ada kegiatan di desaku. Obrolan kami berhenti tepat di kala senja muncul dan adzan Maghrib berkumandang.


No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.

banner