Cuplikan

Sebuah Cerpen yang Mempertaruhkan Idealisme

Sabtu, Februari 10, 2024

 

(Ilustrasi: AI Ilustration)

Cerpen: Krisna

Aji merupakan seorang mahasiswa jurusan sastra yang berada di salah satu Universitas Negeri. Ia memiliki minat yang besar terhadap politik dan sastra. Ia sering menulis puisi, cerpen, dan esai yang mengkritik kondisi politik di Indonesia. Ia juga sering mengikuti diskusi, seminar, dan demonstrasi yang berkaitan dengan isu-isu politik dan sosial. Dalam jiwanya tumbuh keinginan menjadi seorang penulis dan aktivis yang bisa memberikan perubahan bagi bangsa dan negara.

Suatu hari, ia mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah lomba menulis cerpen nasional yang diselenggarakan oleh sebuah majalah terkenal. Ia sangat bersemangat dan tertantang untuk mengikutinya, karena ia berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang baik untuk menunjukkan bakat dan kemampuannya. Ia berharap bisa menulis cerpen yang bisa menyentuh dan menggugah hati para pembaca dan juri. Ia berharap bisa menang, mendapat penghargaan, juga publikasi.

Di luar itu semua, ia tidak menyangka bahwa akan menghadapi dilema dan konflik yang besar dalam proses menulisnya. Ia merasakan tekanan dan godaan yang kuat dari berbagai pihak. Ia sering mendapat saran dan masukan dari teman-temannya, juga dosen-dosen. Tak jarang, Aji mendapat anjuran dan rayuan dari orang-orang yang berkepentingan untuk menulis cerpen yang mendukung dan memuji mereka. Bahkan, ia pernah mendapat ancaman dan pemerasan dari orang-orang yang tidak suka dengan kegiatan menulis cerpen yang ia lakukan, karena dianggap mencemarkan nama baik mereka.

Salah satu konflik yang ia alami adalah dengan Rina, salah satu temannya yang aktif dalam organisasi mahasiswa. Rina memiliki pandangan politik yang berbeda dengan Aji. Ia lebih pragmatis dan oportunis. Ia lebih memilih untuk menulis cerpen yang bisa menguntungkan dan membesarkan dirinya dan organisasinya. Ia berusaha untuk mempengaruhi Aji untuk menulis cerpen yang sesuai dengan harapannya.

"Aji, kamu mau ikut lomba menulis cerpen itu, kan?" tanya Rina.

"Iya, kenapa?"

"Kamu harus hati-hati, lho. Lomba itu, kan, diselenggarakan oleh majalah yang pro-pemerintah. Mereka pasti punya agenda tertentu. Jangan sampai kamu menulis cerpen yang menjelek-jelekkan pemerintah atau menyanjung-nyanjung oposisi. Nanti kamu bisa kena masalah," saran Rina berniat mempengaruhi.

"Apa maksudmu? Aku, kan, cuma mau menulis cerpen yang sesuai dengan pandanganku. Aku, kan, punya hak untuk menyuarakan pendapatku. Aku tidak takut untuk mengkritik pemerintah yang korup dan gagal dalam memimpin. Aku tidak malu untuk mendukung oposisi yang berani dan bersih. Aku tidak mau diam dan pasrah melihat kondisi politik yang buruk," ujar Aji yang keukeuh dengan pendapatnya.

"Ya, tapi kamu harus realistis, Aji. Kamu mau menang lomba, bukan? Kamu harus tahu selera dan keinginan juri. Kamu harus bisa menulis cerpen yang bisa membuat mereka senang dan terkesan. Kamu harus bisa menulis cerpen yang bisa mendapat penghargaan dan publikasi. Kamu harus bisa menulis cerpen yang bisa membuka jalan dan menunjang karirmu." Rina berargumen dengan segala bujuk rayunya.

"Aku tidak peduli dengan semua itu, Rin. Aku tidak mau menulis cerpen hanya untuk menyenangkan dan mengesankan orang lain. Aku tidak mau menulis cerpen untuk sekadar mendapat penghargaan dan publikasi. Aku mau menulis cerpen yang bisa memberikan perubahan politik negeri ini," jelas Aji tidak terpengaruh pendapat Rina.

"Dasar idealis. Kamu itu terlalu naif dan keras kepala. Kamu itu tidak tahu diri dan situasi. Kamu itu hanya mau menulis cerpen yang bisa membuatmu puas dan bangga. Kamu hanya mau menulis cerpen yang bisa membuatmu bermasalah dan tersingkir. Kamu tidak sadar bahwa cerpen yang akan kamu tulis hanya akan membuatmu gagal dan menyesal," sindir Rina.

"Dasar oportunis. Kamu itu terlalu pragmatis dan pengecut. Bahkan kamu tidak punya idealis, Rin. Kamu hanya mau menulis cerpen yang bisa membuatmu aman dan nyaman. Kamu hanya mau menulis cerpen yang bisa membuatmu populer dan sukses. Pun kamu menulis cerpen hanya untuk kekayaan dan kekuasaan," balas Aji tak kalah sengit.

Mereka pun beradu argumen dan saling menyalahkan. Mereka tidak bisa mencapai kesepakatan dengan baik. Pada akhirnya mereka berpisah dengan perasaan marah yang membara di dada masing-masing.

Selain dengan Rina, Aji juga mengalami konflik dengan Pak Budi, seorang dosen yang juga anggota partai yang sedang berkuasa. Pak Budi memiliki kepentingan politik yang berbeda dengan Aji. Ia lebih pragmatis dan oportunis dari Rina. Ia juga seorang cerpenis. Namun, cerpen yang ia tulis hanya untuk membesarkan nama dan partainya. Pak Budi berusaha untuk mempengaruhi Aji untuk menulis cerpen yang sesuai dengan harapannya.

"Aji, kamu sudah selesai menulis cerpen untuk lomba itu?" tanya Pak Budi.

"Belum, Pak. Saya masih dalam proses revisi,"

"Revisi apa lagi? Kamu, kan, sudah menulis cerpen yang bagus dan menarik. Kamu juga sudah menulis cerpen yang sesuai dengan tema dan kriteria lomba?” ucap Pak Budi mempertanyakan.

"Maaf, Pak. Saya merasa cerpen saya belum sesuai dengan hati dan pikiran saya. Saya merasa cerpen saya belum sesuai dengan idealisme yang saya bangun,” kata Aji sedikit tidak percaya diri.

"Apa maksudmu? Kamu, kan, sudah menulis cerpen yang sesuai tema dan kriteria, yang tentunya juga bisa membuat saya bangga,” ulang Pak Budi coba meyakinkan.

"Maaf, Pak. Saya tidak setuju dengan cerpen yang telah saya tulis. Saya juga tidak setuju dengan tema dan kriteria lomba yang telah ditentukan, pun terhadap keinginan Bapak," ujar Aji.

"Apa yang tidak kamu setujui? Tema dan kriteria lomba itu, kan, sudah jelas dan logis. Harapan dan keinginan saya terhadap cerpen kamu itu, kan, sudah masuk akal dan wajar?" Pak Budi kembali mempertanyakan pendapat mahasiswanya itu.

"Saya tidak setuju dengan tema lomba yang mengharuskan saya menulis cerpen yang mendukung dan memuji pemerintah. Saya tidak setuju dengan kriteria lomba yang mengharuskan saya menulis cerpen yang tidak mengandung kritik dan sindiran terhadap pemerintah yang berkuasa. Apalagi terhadap keinginan Bapak agar saya memuji partai yang Bapak ikuti, saya tidak mengindahkan sama sekali," tegas Aji.

"Dasar anak muda! Sok idealis!" sindir Pak Budi sambil lalu.

Aji merasa bingung dan gelisah dengan semua itu. Ia mulai meragukan tujuan awal menulis cerpen. Ia sadar bahwa menulis cerpen itu tidak sebebas dan sejujur yang ia kira. Kenikmatan menulis cerpen hanya angan belaka. Namun, ia tidak mau menyerah begitu saja. Ia ingat bahwa ia masih punya idealisme yang selalu ia pegang erat.

Pada akhirnya, ia memutuskan untuk tetap menulis cerpen sesuai keinginan hatinya. Ia berusaha untuk tidak terpengaruh dan terjebak oleh tekanan dan godaan yang ada. Ia berusaha untuk tidak mengikuti dan memenuhi saran dan masukan yang tidak sesuai dengan prinsip dan gayanya. Ia berusaha untuk tidak mendukung dan memuji anjuran dan rayuan yang tidak sejalan dengan nilai dan keyakinannya. Ia berusaha untuk tidak menyerang dan mencemarkan ancaman dan pemerasan yang tidak berdasar dan tidak adil.

Aji menulis cerpen yang bertemakan perubahan politik dalam sudut pandang mahasiswa. Ia menulis tentang bagaimana seorang mahasiswa yang awalnya apatis dan acuh terhadap politik, menjadi sadar dan peduli terhadap politik. Ia menulis tentang bagaimana seorang mahasiswa yang awalnya pasif dan diam terhadap politik, menjadi aktif dan bersuara terhadap politik. Ia menulis tentang bagaimana seorang mahasiswa yang awalnya takut dan ragu terhadap politik, menjadi berani dan yakin terhadap politik.

Dengan cerpen yang ia tulis, ia merasakan kepuasan dan kebanggaan yang besar. Ia merasakan bahwa ia telah menulis cerpen yang sesuai dengan hati dan pikirannya. Ia merasakan bahwa ia telah menulis cerpen yang efektif dan bermanfaat bagi pembaca dan juri. Meski dengan kesadaran penuh, ia telah siap jika bakal dibenci oleh siapa pun, bahkan hilang.

Editor: Cantrisah

Kartini Sekarang Berbeda dengan Kartini yang Dulu

Jumat, April 21, 2023

(Gambar: www.serbakuis.com)

Cerpen oleh: Cantrisah


Selamat memperingati Hari Kartini!

Habis Gelap Terbitlah Terang!

Perempuan Punya Kebebasan!

Aku membaca setiap tulisan di pamflet hari ini dengan saksama. Begitu banyak instansi, bahkan orang-orang yang secara khusus memperingati Hari Kartini ini dengan menggebu lewat pamflet-pamflet mereka. Bahkan, tak sedikit temanku sendiri yang mengunggah lima pamflet sekaligus di akun media sosialnya, dengan ucapan yang sama persis. Tak lain karena ia mengikuti banyak organisasi, tentu saja.

Meski tidak aku mungkiri bahwa kelima pamflet itu memiliki desain yang menarik, tapi dengan isi yang sama, apakah tidak cukup hanya mengunggah satu pamflet saja? Ah, manusia memang suka berlebihan. Serakah. Namun, kemudian ada sisi lain yang membuatku berpikir lebih luwes.

"Ya, mungkin mereka sedang menunjukkan loyalitas di organisasi yang tengah mereka geluti," ucapku impulsif pada diriku sendiri.

Aku mematikan ponselku. Beranjak dari kamar untuk menuju ke ruang keluarga, di mana ada ibu dan adik perempuanku yang terlihat sedang sibuk dengan beberapa serakan pakaian zaman baheula.

"Sedang apa?" tanyaku basa-basi.

"Memilihkan pakaian untuk adikmu. Besok harus mengenakan pakaian adat. Memperingati Hari Kartini katanya," jelas ibu dengan tangan yang sibuk menyibak beberapa tumpuk pakaian.

"Zil, yang ini saja mau?" tanya ibu kepada Zila dengan nada sedikit frustasi. Kelihatannya mereka sudah melakukan kegiatan ini agak lama, sampai ibu dibuat berkeringat di beberapa lengkung wajahnya.

"Ibuu, itu terlalu mencolok. Ibu ingin lihat anaknya sendiri seperti ondel-ondel?" sewot Zila. Dia masih duduk di bangku sekolah menengah. Aku paham jika penampilan masih menjadi hal penting menurutnya. Ya, masih fase remaja. Itu wajar.

"Memang besok akan ada agenda apa sampai harus memakai pakaian adat?" tanyaku penasaran sambil ikut memilah pakaian yang cocok untuk adikku satu-satunya itu.

"Tidak ada. Hanya disuruh memakai pakaian adat saja, sebagai ganti seragam." Aku mengernyit, agak bingung dengan maksud Zila.

"Memakai pakaian ini dan sekolah seperti biasa? Hanya begitu saja?" tanyaku bermaksud memastikan.

"Iyaa, Kak Tyas. Hanya begitu saja," jawab Zila lalu menggembungkan pipinya. Ia benar-benar sebal. Pakaian yang cocok tak kunjung ketemu.

"Gurumu aneh," ucapku sarkas. Namun, malah dibalas anggukan oleh Zila.

"Aku setuju," ucapnya enteng.

"Seharusnya mereka membuat kegiatan yang bisa membangkitkan lagi semangat Kartini untuk generasi sepertiku. Apapun itu, terserah mereka konsepnya akan bagaimana. Tapi tidak dengan menyuruh anak didiknya memakai pakaian adat sebagai seragam dan bersekolah seperti biasanya. Itu hanya akan menghasilkan foto-foto dan capek saja. Benar kan, Bu?" Ibu membalas protes Zila dengan anggukan.

"Ibu kira, makin berkembang teknologi, gurumu juga makin berkembang pengetahuan dan inisiatifnya. Nyatanya sama saja pemikirannya dengan guru ibu dulu. Pemikirannya segitu-gitu saja," tambah ibu tak kalah menyebalkan.

"Kau tidak mengatakannya pada gurumu, Zil?" Ya, setidaknya jika Zila protes, itu tidak hanya sekadar di mulut kecilnya saja.

"Kamu yakin mereka akan mengacuhkan aku, Kak? Aku pernah mendebatnya dalam pelajaran yang salah ia sampaikan saja, ia tak mau mendengarkan. Apalagi soal peringatan seperti ini, aku yakin mereka akan menganggap muridnya ini sok tahu.” Zila benar, beberapa hari yang lalu ia sempat cerita kejadian itu padaku. Mengeluh akan gurunya yang tidak mau berdialog interaktif dengan muridnya.

"Sudah, tidak perlu dilanjutkan lagi. Lebih baik kamu bantu adikmu mencari pakaian yang cocok, Yas." Ibu menengahi pembicaraanku dengan Zila. Memutuskannya agar tidak berkelanjutan lebih buruk lagi.

"Ini saja, cocok dengan pakaian Kartini di lukisan-lukisan ruang kelasmu," ucapku sambil menyodorkan baju putih tulang ke depan Zila. Gadis remaja itu tertawa. Ia menempatkan baju yang kurekomendasikan tadi di depan tubuhnya seraya berkata.

"Dan dengan rambut yang disanggul, kurasa aku sudah cocok dipanggil Kartini Milenial," celetuk Zila sambil menaik-turunkan alisnya untuk menggoda. Aku dan ibu tertawa melihat kelakuan perempuan kecil kami. Tepat saat ini, aku menemukannya, kurasa Kartini sekarang memang berbeda dengan Kartini yang dulu.

Sumbang Suara

Kamis, November 17, 2022

 


Gambar: id.pinterest.com

Puisi oleh: Vivia

Suara ini milikku

Nada-nada sendu dan teriak parau dariku

Goresan kata ini milikku

Caraku bersurat tentang gurat yang rumit

Gambar milikku ini bermakna

Guratan warna dengan kisah sulit di baliknya

Hanya ini milikku namun semua padamu

Wujud nyata dari seorang yang berkoar

Dengan ungkapan, nyanyian, dan lembaran

Agar kau tahu wujudnya luapan rasa

 

Hanya ini milikku, pada para penguasa

Hanya ini milik rakyat untuk penguasa

yang dijamin hukum negara, katanya

Rakyat boleh bersuara, lantang ataupun gumam

Gelap maupun terang, beramai atau seorang

Karena itu amanat undang-undang

 

Namun, kini ketakuan begitu nyata

Wabah bungkam dimana-mana, dari para penguasa

Tak bisa lagi bicara dengan suara

Tak bisa lagi menulis dengan kata

Tak bisa lagi gambarkan segala rupa

Karena diancam pidana, padahal tak sebabkan apa-apa

Mengapa?

 

Ketakutan begitu nyata

Hantu siang hari dimana-mana, menjelma apa saja

Bisa menyeret siapa saja

Si rakyat jelata, yang hanya ingin didengar suaranya

Tapi belum tentu para penguasa, yang tinggi tahtanya

 

Apa suara ini terlalu mengusik, berisik?

Lantas haruskah menjadi bisik?

Akankah penguasa mendengarnya?

Apa tulisan ini terlalu panjang, mengawang?

Lantas haruskah dipaksa hilang saja?

Benarkah itu menyelesaikan segalanya?

Apa gambar ini terlalu mengganggu?

Sehingga ingin dihapus selalu, jangan ada yang tersisa

Agar rakyat tahu, tak boleh ada celah untuk bersuara?

Lantas dengan apa rakyat bergumam?

Agar penguasa tahu, rakyat sedang menatap suram

 

Lantas, bagaimanakah kebebasan?

Apa hanya untuk para penguasa yang katanya mewakili suara

Lantas rakyat tak boleh, meski laranya nyata?

Hanya itu yang rakyat mampu, janganlah direnggut paksa

Hanya rintih riuhlah suara rakyat, janganlah dibungkam pula

 

Suara kami, jangan dihilangkan

Tulisan kami, jangan dihapuskan

Lukisan kami, jangan dimusnahkan

Kami lelah berdiam, kami jengah berkompromi

Dengan segala atur dan ancam

Bebaskan kami melukis warna negeri

Menggambar rupa bangsa ini

Dengan segala kisahnya, yang tak sempurna baiknya

Agar kebebasan bukan hanya gagasan

Dan kebebasan, jangan hanya gagasan

Tata Tertib Suka-Suka(?)

Jumat, Agustus 26, 2022


(Ilustrasi: Denies/Canva)

Cerpen Oleh: Miftah

  Suara ayam jago saling sahut-menyahut, menandakan fajar telah menyingsing. Sang fajar datang bersama seluruh pasukannya, mulai dari kokok ayam hingga sorot mata mentari yang terlihat di balik ufuk; tampak keceriaan sang langit dengan raut kuning mukanya. Tak ubahnya manusia yang bangun lalu bekerja ataupun melakukan aktivitas favoritnya, mereka juga bersiap bangun dari tidurnya dan memulai kesibukannya masing-masing. 

Pagi itu, Zaid bangun dari tidur nyenyaknya. “Aaaarrrrgghhh,” ucapnya sambil mengusap-usap kedua matanya. Dengan kedua bola matanya yang masih sayu dan mengantuk, ia melihat jam pada ponsel miliknya. 

“Aduh sial, ndadak bangkong neh,” katanya sambil bangun dan melemparkan sarung yang ia gunakan sebagai kemul. Dengan sigap, ia langsung bergegas menuju kamar mandi.

“Ya Allah, air pake habis lagi,” ucap Zaid dengan kesalnya. 

Mau tak mau, ia hanya mengusap wajahnya dengan sedikit air untuk menghilangkan kantuknya. Sesaat setelahnya, Zaid kemudian berganti baju sesuai dresscode; atasan putih, celana hitam dan berdasi. Tak lupa, dipadukan dengan sepatu pantofel pinjaman dari kawannya sebab hari ini ia akan mengikuti PBAK, Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan, katanya. Setelah terlihat cukup rapi, Zaid pun berjalan menuju kuda besi kesayangannya untuk berangkat ke kampus hijaunya.

“Mio, let’s go!” ucapnya sambil memacu motor matic-nya.

Zaid berangkat saat waktu sudah hampir pukul 05.00 WIB. Ia pun berkendara dengan kecepatan kilat. Zaid menarik gas dengan penuh, sampai hampir menabrak pasukan bebek yang sedang menyeberangi jalan raya. Akhirnya, sampai juga ia di kampusnya, Universitas Udal-udul, setelah 15 menit berkendara dengan kecepatan ngalap-alap.

Sesampainya di kampus, ia langsung disambut oleh panitia yang sudah berdiri tegap di samping gapura. “Ayo dek, segera masuk barisan sesuai kelompoknya masing-masing!” ucap panitia yang tak diketahui namanya. 

Zaid pun segera memarkirkan motornya dan menuju ke barisan paling ujung, berisi para mahasiswa yang juga terlambat seperti dirinya. Setelah kurang lebih 30 menit berdiri di barisan berbeda, Zaid akhirnya diperbolehkan untuk bergabung ke barisan diiringi tatapan bak singa yang hendak menerkam kijang oleh teman-teman sekelompoknya.

“Lama amat sih, Zid?” Tanya Amar selaku ketua kelompok.

“Ya mangap, eh maaf. Aku tadi bangkong, hehe,” ucap Zaid sambil plengah-plengeh.

“Emang dasar kebo sih!” ucap Yuli ikut-ikutan menimpali.

“Sudah, sudah. Sekarang kalian semua sudah lengkap? Kalau sudah, ayo kita berangkat menuju tempat acara pembukaan!” ucap Kak Aldi, pendamping kelompok Zaid.

Ternyata setelah sampai di tempat, acara pembukaan sudah hampir dimulai. Di panggung acara, terlihat beberapa jajaran birokrat kampus yang disegani. Saat seluruh mahasiswa baru mendapatkan tempat duduknya, acara pembukaan pun dimulai sebagaimana mestinya.

Zaid mengikuti acara demi acara dengan duduk, memperhatikan dengan malas, terkesan tak butuh dengan apa yang disampaikan. Bahkan, beberapa kali ia teklak-tekluk. Selama itu pula ia berpikir, “Kapan sih acara ini selesai? Huuuaahuuuhh….”

Sepanjang hari diisi dengan materi yang seolah tak kunjung selesai. Lalu, ia melihat beberapa kawannya berlalu-lalang di sekitar gedung fakultas. Mereka berjalan-jalan dengan santai, seolah-olah tak memikirkan pentingnya PBAK. Zaid pun mengajak kawannya yang bernama Ali untuk meninggalkan tempat acara, menuju kantin yang letaknya tak jauh dari lokasi acara. 

“Tahu gini, dari tadi kita di sini,” ucap Ali pada Zaid.

“Iya, nih. Dari tadi bosen dengerin materi. Paham juga kagak,” timpal Zaid.

Mereka pun berbincang-bincang berdua sampai adzan zuhur berkumandang sambil menikmati segelas kopi di kantin. Sadar sudah masuk waktu sholat, mereka segera bergeser menuju masjid untuk menunaikan ibadah wajib. Setelah selesai, mereka pun kembali ke kantin seperti sebelumnya tadi.

Pada saat yang bersamaan, Amar, ketua kelompok dari Ali dan Zaid, menyimak materi dengan seksama. Sejak pemberangkatan di pagi hari sampai detik ini, ia sangatlah tertib. Berangkat tepat waktu, memakai atribut lengkap, bahkan sekarang ia pun masih menyimak materi sambil mencatat di pada notebook miliknya. Tak sengaja, ia melihat kedua kawannya malah asyik mondar-mandir nggak jelas di kantin. “Enak banget ya mereka? Bisa asal pergi dari tempat materi. Aah, tapi, biarlah. Aku kan disini niat cari ilmu yang bener,” batinnya.

Entah mengapa, Ali dan Zaid memutuskan untuk kembali ke tempat materi. Rasa bosan yang tadi telah pergi entah kemana saat berhadaapan dengan kopi, kini mulai mereka rasakan kembali. Untuk mengusirnya, mereka pun bermain Mobile Legend bersama, sebuah kegiatan unfaedah yang dilakukan di saat acara penting. Materi demi materi pun berlalu begitu saja, tanpa ada satu pun yang membekas dalam pikiran mereka. Seolah, PBAK tak berarti apapun buat mereka.

“Kita PBAK buat apa, sih? Paham juga kagak. Kita juga udah kenal sama Rektor, Dekan, dan yang lain, kan?” ucap Ali.

“Gimana mau paham, kamu aja main HP sama ke kantin,” ucap Zaid.

“Lagian, kita juga udah kuliah. Pastinya kan udah paham sama apa yang ada di kampus,” ucap Ali.

Ketika acara hampir selesai, mereka disuguhi tampilan pentas seni oleh beberapa organisasi kampus. Mereka pun hendak pergi meninggalkan kampus karena jam sudah menunjukkan pukul 16.25 WIB sesuai dengan rundown, jam segitu seharusnya acara sudah selesai. Ketika di dekat gerbang, mereka dicegat oleh salah seorang panitia.

“Ayo kembali, Dek!” ucap panitia yang tadi pagi.

“Sudah jam 16.25 WIB, lho, Kak. Kan harusnya udah selesai?” ucap Zaid dengan polosnya.

“Ini kan imbas dari agenda kita yang molor sejak tadi pagi,” jawabnya lagi.

Mereka pun terpaksa kembali ke tempat acara tadi dengan letih, lesu, dan rasa malas. Di sisi lain, Amar secara tiba-tiba menerima panggilan telepon dari Ayahnya. Beliau menanyakan mengapa ia belum pulang juga saat jam sudah menunjukkan hampir pukul 17.00 WIB. Padahal, pagi tadi ia pamit dan bilang akan pulang pukul setengah lima sore. 

Tiba-tiba, ketika acara hendak selesai dan diserahkan kepada panitia fakultas, ada seorang panitia di atas panggung yang berucap, “Besok lagi, saat acara, jangan ada yang pegang HP!” sambil sekilas melirik Amar yang duduk di barisan depan.

“Loh, tadi si Ali sama Zaid saja mondar-mandir nggak jelas sambil main game nggak ditegur. Giliran aku angkat telfon doang, kok salah?” gumam Amar kesal.

Datang Luka Bulan Lima

Jumat, Juni 10, 2022

 


(Gambar: kupastuntas.co)

Puisi oleh: Vivia

 

Pagi rasanya bukan pagi

Siang rasanya bukan siang

Ketika sore menjadi petang

Malam makin menghilang

Dan pagi kembali datang

Firasat yang pernah tiba menjadi nyata

 

Angin pagi datang membawa duka

Menyaksikan penggerak roda yang terluka

Dengan langkah yang tersiksa

Kaki ringkih penuh luka

Tak mampu merasa

 

Tak bisa lagi lembu sapi memberi

Hanya menanti sembari menahan diri

Menatap juragan dengan mata pengharapan

 

Udara siang meniupkan hawa dingin

Lembu semakin melemah terhempas angin

Bagai misteri

Angin membawa endemi

Air membawa racun

Tanpa penawar, tanpa penangkal

 

Dalam semalam

Sekali embusan

Semua berubah tak bisa diubah

 

Tiga Rabu telah berlalu

Rabu ke empat bulan ke lima

Bagaimana hari selanjutnya?

 

Hari-hari selalu menanti

Malam-malam banyak meratap

Apakah wabah akan menyebar

Ataukah sakit akan memulih?

 

Ada seutas jalan

Namun tak sanggup mengikat

Masih menunggu uluran simpul penguat

Dari penguasa yang punya kuasa

 

Apakah wabah akan menyebar

Ataukah sakit akan memulih?

Apakah ternak akan musnah termakan wabah

Ataukah penangkal kan tercipta memulihkan luka?

Apakah wabah akan menyebar

Ataukah sakit akan memulih?


PJTD 2022

Tanpa Suara

Senin, Oktober 25, 2021

Cerpen Oleh: Diah A. Cantrisah

  “Sialan!”

Umpatan kembali keluar dari mulut kecil Tara. Gadis remaja yang baru saja masuk SMA itu, kembali dibuat kesal hari ini. Wajah kusutnya semakin menjadi-jadi saat kini ia terjebak hujan di halte depan sekolah barunya. Yah, Tara memang tidak suka hujan.

“Dosa apa, sih, gue di masa lalu sampai sial mulu dari tadi? Padahal, kan gue ga bejat-bejat amat selama hidup di bumi.” Tara kembali menggerutu kesal. Ia menghentakkan kakinya berkali-kali agar rasa dongkolnya ranap. Tapi, yang ada hatinya malah semakin muak.

“Hujannya bagus, ya, Bi?” Dengan secepat kilat hujan, Tara memalingkan wajahnya ke asal suara. Ia mendelik dan memandang sinis sekaligus jijik pada sesosok remaja laki-laki yang sedang bercengkerama dengan gadis kecil di sampingnya. Kedua manusia itu mengulurkan tangan mereka ke  tetesan air hujan yang mengalir dari atap halte.

“Dasar makhluk primitif! Hujan masih air! Kalo hujan duit baru lo bisa bilang bagus!” runtuk Tara dalam hati, tidak bisa menahan kekesalannya yang makin tersulut. Ia masih menatap tidak suka pada kedua makhluk Tuhan yang dirasanya sangat nista itu.

“Febi mau hujan-hujanan, ga?” Tara bisa melihat gadis TK itu tersenyum lebar dan mengangguk dengan semangat.

“Cih! Dasar bocah!” dengus Tara tertahan. Ia menghela nafas dalam, lalu menyudahi kegiatannya yang ternyata sangat tidak berguna itu.

Tara menatap hujan dengan malas. Ia lalu mengeratkan pelukannya sendiri pada tubuhnya yang mulai menggigil. Ia mengangkat tangan kanannya.

03.23 p.m.

“Stres!!” Baiklah. Mungkin hari ini Tuhan sedang berbaik hati karena ingin meningkatkan kadar kesabaran gadis itu.

“Yaa Allah, dua jam! Niat sekali, Gusti?!” Tara menggeleng dramatis sambil menatap heran langit yang masih kelabu.

“Ini pasti gegara gue abis sholat tadi langsung ngacir cari makan, alih-alih do’a dengan baik dan benar.” Tara bermonolog untuk kesekian kalinya, mengambil kesimpulan yang sesuai dengan cara kerja pemikirannya.

“FEBI, AWAS!!”

Baru saja Tara ingin kembali mengeluh, sebuah teriakan berhasil mengambil seluruh atensinya. Belum selesai Tara mengerutkan keningnya, tubuhnya langsung ambruk. Ia bisa merasakan nyeri di kepalanya yang mulai menjalar. Belum lagi badannya yang remuk karena sesuatu yang berat telah menindihnya. Tara masih memejamkan matanya untuk menahan rasa nyeri yang luar biasa.

“Lo, ga papa?” Sebuah suara berat sedikit menyadarkan Tara yang mulai pening. Ia bisa  melihat raut khawatir yang terpancar dari wajah laki-laki yang berjongkok di sampingnya. Tapi, Tara tidak peduli sama sekali. Ia berusaha untuk duduk. Saat laki-laki itu mencoba untuk membantunya, Tara dengan kasar langsung menepisnya.

“Ga perlu!” bentak Tara dengan kesal. Sudah cukup dengan kesialannya hari ini. Tara muak.

“Gue minta maaf buat adek gue. Maaf banget, dia ga sengaja.” Ucapan itu sukses membuat Tara memicingkan matanya. Ia lalu menatap tidak suka pada gadis TK yang sudah menyembunyikan badannya di belakang remaja laki-laki itu.

Tara memilih diam dan membersihkan tangannya yang kotor. Ia menghembuskan napasnya kasar. Bagus! Seragamnya kini sudah mirip dengan kubangan kerbau.

Baru saja Tara mau berdiri, dua buah tangan mungil terulur di hadapannya. Tara menatap sinis gadis TK yang sedang menatapnya dengan senyum kikuk. Bocah itu menengadahkan kedua tangannya tepat di hadapan Tara, seperti meminta sesuatu.

“Apa?! Mau minta dui-”

“Febi mau minta maaf.” Bukan bocah itu yang bilang. Tapi, laki-laki yang kini Tara taksir adalah kakak kelasnya. Seragam mereka sama, tetapi badge mereka berbeda. Tara baru menyadari itu.

Tara mengalihkan tatapannya, bergantian melihat dua manusia yang  sudah basah  kuyup di hadapannya itu. Lalu berpaling, menatap lurus ke depan. Ia tersenyum kecut lalu menggeleng pelan. Sadar, ia meratapi nasibnya yang sangat sial hari ini.

Tara berniat bangkit, ingin segera enyah dari tempat ini. Namun, sebuah tangan besar menahan tangannya untuk menopangnya berdiri. Tara menatap laki-laki tadi dengan lelah.

“Apa lagi?” ucap Tara frustasi membuat laki-laki itu mengerutkan keningnya dan mengangkat alis kirinya.

“Lo belum maafin Febi.” sergah laki-laki itu membuat Tara tersenyum merendahkan. “Buat apa? Bahkan, dia aja sama sekali ga butuh.”

“Maksud lo?” Wajah Tara seketika datar setelah mendengar itu.

“Maksud lo ngewakilin dia ngomong apa? Bisu?”

Senyap. Tidak ada sahutan yang Tara dapat. Dan kini, laki-laki itu malah menatapnya tajam. Sangat tajam, hingga entah mengapa tiba-tiba Tara merasa risih dan…bersalah?

“Febi, ayo pulang!” ajak laki-laki itu datar. Namun, gadis TK itu masih bergeming di tempatnya. Ia menunduk dalam. Meski samar, Tara bisa merasaan tatapan sendu dari gadis kecil itu. Tara semakin risih.

Tak lama, gadis kecil itu mendongak. Ia menatap Tara dalam. Lalu, dengan cepat tersenyum. Gadis itu berbalik sebentar untuk mengambil board kecil yang ada di tasnya. Tepat di hadapan Tara, gadis kecil itu menulis pada board tadi dengan berjongkok. Bingung, Tara dengan segera menatap laki-laki di belakang gadis kecil itu. Namun, laki-laki itu malah memalingkan wajahnya dan tersenyum kecut.

Tara kembali memperhatikan gadis TK yang masih menulis di hadapannya dengan serius. Tara semakin merasa ada yang tidak beres.

Tak lama kemudian, gadis itu mendongak dan memberikan board kecil itu kepada Tara. Di saat yang bersamaan, Tara bisa melihat ada genangan air yang sudah berada di ujung mata bulat gadis kecil di depannya. Tara yakin, sekali kedipan saja genangan air itu akan hancur. Dan hal itu membuat Tara semakin merasa bersalah.

Dengan tersenyum manis, gadis kecil itu menggerakkan kedua tangannya. Membuat berbagai bentuk, yang Tara yakini semakin membuat hatinya teriris. Tara menunduk dengan rasa perih yang menggerogoti hatinya. Dan tanpa sengaja, Tara membaca sederet kalimat yang ditulis oleh gadis kecil tadi.

Tara diam. Di tempatnya, ia membeku dan tak bisa berbuat apapun hanya untuk sekedar membuat keadaan agar tidak semakin rumit. Tara kacau.

Merasa tidak ada tanggapan, gadis kecil tadi menyentuh pipi Tara dengan lembut. Ia tersenyum ketika Tara menatapnya penuh.

“Tara Nandini. SMA Dirgantara. Murid baru kelas satu. Gue harap otak dan hati lo ga bisu buat ngingetin elo tentang hari ini.”

Tara kaku. Kalimat yang baru saja ia dengar semakin menampar keras diri dan batinnya. Tidak menunggu lebih lama lagi, laki-laki itu segera menarik dan membawa adiknya enyah dari tempat tersebut.

Tara kembali menunduk dalam diam. Otaknya berperang hebat dan hatinya hancur menahan perih yang semakin menggerogotinya. Netranya kembali menatap sederet kalimat yang kali ini membuatnya tidak mampu lagi menahan tangis.

FEBI BISU. MAAF, KAK : )

Sungguh, bagaimana bisa ia sebodoh ini?!


Kotak Kosong Si Penyelamat

Selasa, April 06, 2021

waspada.co.id


Cerpen Oleh: Denies
 

Adin, anak rantau yang tidak tau bahwa zaman sudah update. Zaman four-point O kata anak zaman sekarang menyebutnya. Sekarang dia duduk melamun menatap layar HP pintarnya. Dahinya berkerut-kerut sedari tadi. 

“Ini buat naon sih? Bingung saya ini.” Tanyanya. Tangannya sibuk menggaruk rambutnya yang kusut semacam sapu ijuk, kaku. Makin kusut saja itu rambutnya.

Si Asep, teman seperjuangan merantau ke tanah Jawa itu menertawakan Adin. Badan yang berisi itu bergoyang-goyang. “Elah, gitu aja kagak tahu lu.”

Adin menyisir rambut sapu ijuknya itu ke belakang. “Tahu, tapi nggak tahu ini buat apa? Pemilihan apa? Presiden? Gubernur? Apa DPR?” Tanyanya sambil menunjuk layar HP-nya. Jangan tanya seberapa tidak update-nya dia mengenai berita.

Asep berdecak. Matanya melirik rambut si Adin yang semakin kusut. “Begini nih. Ini tuh pemilihan ketua dan wakil ketua beserta anggota organisasi di kampus, ada tingkat fakultas sama tingkat institut.”

Adin meletakkan HP-nya di pangkuan Asep. “Saya nggak tahu begituan. Belum dapat tuh saya infonya. Mending saya golput deh, nggak paham apaan ini teh. Ini siapa saja juga tidak kenal, visi misinya juga tidak tahu.” Katanya.

“Jangan golput, dong! Hak mahasiswa ini untuk memilih calon yang tepat. Mending keramas dah lu mah, lurusin tuh pikiran, biar dapat tu ape namanya ilham? Pencerahan? Nah, pencerahan. Siape yang bakal lu pilih nanti. Kusut macam kanebo kering gitu wajah lo.” Saran Asep.

Setelah berkata seperti itu, Adin berpikir mungkin ada benarnya mengikuti saran si Asep untuk keramas, lurusin pikiran. Alhasil rambut yang awalnya seperti sapu ijuk itu berubah menjadi kelimis bak dipoles dengan semir sepatu. Dia sudah bersiap untuk memilih siapa pun yang bakal muncul di layar HP-nya. Pokoknya dia mengikuti hati nuraninya saja walau tidak tahu siapa dan untuk apa dia memilih. Lalu, dia kembali ke tempat si Asep, orang Betawi dengan nama Sunda itu.

“Gimane-gimane? Lu udah nentuin sape tuh yang bakal dipilih?” Tanya Asep. Matanya melihat penampilan Adin yang sudah berubah. Kalau kata orang, glowing si Adin sekarang.

Lalu muncullah jiwa-jiwa pemberi petuah milik Babe Asep. Memang kata orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. “Nih ye gua kasih tau, entu yang bakal dipilih bakal nentuin gimana masa depan kampus kita nanti. Jadi harus bener milihnya, makanye jangan golput.” 

Adin mengangguk semangat. “Pake hati saya nih milihnya. Hati saya mah nggak usah diraguin lagi,” jawabnya sambil menepuk dadanya bangga.

Asep tentunya percaya saja ke Adin, mungkin karena keramas itu yang menyebabkan dia glowing bukan hanya di wajah namun di otak juga. “Iye, gue percaya dah ama lu. Pokoknya pilih yang bener awas kalau kagak.” 

Adin menjawab dengan sikap hormatnya. Dibukalah itu website pemilihan, sekarang zaman canggih. Jadi, memilih secara online lewat website kampus, tidak perlu susah payah masukin jari kelingking ke tinta ungu atau datang ke TPS.

Setelah membuka website untuk memilih calon pemimpin, dahi Adin mulai berlipat lagi, dibikin pusing. “Ihh saya nggak paham ini apaan Asep. Ini kumaha? Kok ada yang lawannya kotak kosong?”

Asep membuang napas. Memang harus punya stok kesabaran yang banyak menghadapi bujang Sunda satu ini. “Ya udah gini aje. Kalau lu kagak yakin sama calonnya, pilih kotak kosong. Gampangnya gitu tuh.” Jelas Asep. Tangannya ingin menarik rambut kelimis Adin agar berantakan seperti tadi. Dia pikir setelah keramas pikiran si Adin menjadi terbuka, ternyata sama saja tidak ada perubahan.

“Owalah gitu ya. Ai kamu nggak bilang dari tadi.” Balas Adin sambil terkekeh.

Semakin menyebalkan saja sosok Adin itu di mata Asep. “Iye kan Din, gua udah bilang barusan ke elo. Bikin esmosi ae lu mah.” 

“Kenapa lawannya kotak kosong, nggak seru ah lawan kotak kosong mah.” gumam Adin. Bibirnya berucap, tapi tangannya sibuk menari-menari di layar hp. 

“Tanya yang di atas sono dah, gue kagak tau ape-ape.” Balas Asep. Dia pun ikut memilih saat itu juga.

Adin sangat fokus ke dalam pemilihan itu. Pokoknya pilih sesuai hati nurani saja. Layar HP-nya terus bergulir ke bawah. Sampai pada pemilihan terakhir, senyum Adin semakin melebar. Setelah itu dia menepuk bahu Asep. “Terimakasih lo Sep, atas saranmu tadi, jadinya saya nggak golput. Kotak kosong emang penyelamat dunia.” Katanya

Asep terdiam sebentar. “Lu kagak golput kan?”

Adin menggelengkan kepalanya. “Saya kan pilih kotak kosong, berarti nggak golput dong.”

“Kagak begitu juga, Din! NAPA LU MILIH KOTAK KOSONG OI?” Ini Asep yang salah memberikan penjelasan atau Adin sengaja memilih kotak kosong karena hampir semua calon yang bisa dipilih hanya satu calon saja.

Adin melihat ke Asep sambil cengegesan. “Saya tidak yakin sama calonnya. Tapi hati saya yakin dengan kotak kosongnya. Saya percaya ke hati dari pada ke mata. Calonnya menjanjikan, memang. Tapi kalau hati saya suruh milihnya kotak kosong, ya mau nggak mau memilih kotak kosong lah. Hal itu nggak bisa disebut golput kan? Tetap saja suara saya sah karena dihitung ke kotak kosong.” 


Misi dan Ambisi

Jumat, April 02, 2021

 

geotimes.co.id

Oleh: Sayidah Rohmah


Di atas podium mereka melakukan aksi
Dengan kata-kata yang disisipi janji
Disampaikan dengan penuh ambisi
Apakah seperti itu visi misi?

Dengan kecurangan untuk mewujudkan,
Dengan kebohongan untuk memperebutkan
Demi menghamba sebuah kekuasaan
Apakah seperti ini panggung demokrasi?

Padahal,
Tak perlu curang untuk mewujudkan
Tak perlu bohong untuk memperebutkan
Hanya untuk sebuah kursi jabatan

Masih banyak jalan kebenaran
Tuk dapatkan posisi yang diinginkan
Karena,
Demokrasi untuk kepentingan bersama
Bukan untuk ambisi semata

Medan Politik

Sabtu, Maret 27, 2021

 

law-justice.co

Oleh: Zaki

Politik adalah medan pertempuran
Di medan ini, bukan pedang senjatanya
Bukan pula senapan
Apalagi tombak dan parang
    
Di medan ini,
Pejuangnya bersenjatakan ucapan
Janji manis yang menggiurkan
Namun juga menyesatkan

Di medan ini,
Segala cara dihalalkan
Mengesampingkan rasa kemanusiaan
Demi tahta dan jabatan
    
Karena di medan ini,
Para pejuangnya adalah pesilat
Pesilat lidah yang gila hormat
Sangat rendah meski nampak bermartabat

“Hari Penuh Tanda Tanya”

Rabu, Maret 17, 2021

Sumber gambar: publicdomainvectors.org 
 
 Cerpen oleh: Sayidah Rohmah

     Senin pada suatu hari itu merupakan hari yang tak biasa bagiku. Sebagai mahasiswa baru, antusiasku memuncak saat mendengar akan ada acara satu tahun sekali. Dengan sangat bersemangat, kumabil jas hijau semu yang berada dideretan warna-warna lainnya, jas almamater yang baru kudapatkan sebagai identitas mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi. Almamater pun sudah melekat erat dibadanku, dengan mengendarai motor matic tibalah aku pada tempat acara yang kutuju.

    Ketika kumasuki ruangan, ternyata masih sepi dan sunyi. Hanya ada beberapa panitia yang sedang bersiap-siap, padahal aku sudah tiba sesuai jadwal acara. Sebenarnya aku masih tak terlalu paham ini acara apa, tetapi dengan antusis aku yakinkan diri untuk mengikuti acara yang katanya “sebuah acara pembukaan pesta demokrasi” yang entah tak kumengerti. Yang ada dibenakku hanyalah ini acara tahunan, dan aku harus ikut itu.

    Sembari menunggu acara yang tak kunjung dimulai, kusempatkan diri untuk keluar ruang acara untuk menghirup udara segar. Sambil menghirup udara segar, di dalam hati aku terus bertanya-tanya “Kok sepi ya? Yang lain kemana ya? Apa teman-teman yang lain gatau kalau ada acara ini? Masa gaada pemberitahuan sih?” batinku. Tiba-tiba dari arah depan ada seseorang yang nampak berlari menghampiriku.

    “Sin, aduh gimana ini aku telat. Kok kamu gak masuk ruangan? Acaranya belum mulai?” ucap Rara dengan napas terengah-engah.
    “Belumlah, bosen banget nungguin dari tadi belum mulai-mulai,” balasku.
    “Masuk aja yok, sambil ngadem. Soalnya panas banget siang-siang begini motoran cuma buat kesini” ucap Rara.

    Seperti acara resmi pada umumnya, pembukaan pun diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Memasuki inti acara, panitia pun menyampaikan informasi tentang pemilihan pemimpin-pemimpin baru yang akan diadakan secara online. Labih lanjut, panitia juga menjelaskan pemilihan tahun ini menggunakan konsep yang berbeda dari tahun lalu. Entah tahun lalu seperti apa, aku pun juga tidak tahu.

    Lama-kelamaan aku mulai merasa bosan mendengarkan ceramah yang panjang lebar dan tak kumengerti. Kini, acara yang bagiku sangat spesial menjadi acaranya sangat biasa saja, padahal sebelum mulai aku sudah antusias. Untuk menghilangkan rasa bosan aku pun mulai mengajak ngobrol Rara.

    “Ra, kok bosenin sih… ini gaada Reog atau Gong pembukaan gitu?” tanyaku.
    “Haaaa…  gatau Sin aku malah jadi ngantuk,” balas Rara.
    “Padahal kan ini acara pembukaan pesta demokrasi buat pemilihan serentak di kampus setahun sekali, seharusnya dibuat upacara pembukaan yang istimewa gitu kek,” ucapku.
    “Iya juga ya, padahal baru acara pembukaan aja udah ngebosenin gimana nanti pas acara inti pemilihannya?” ucap Rara.
    “Bener Ra, padahal aku udah antusias lo dari tadi pagi,” ucapku.

    Menit demi menit berlalu, rasa bosan terus menghantuiku. Dengan santainya Rara justru sudah tertidur pulas, mungkin sekarang dia sudah sampai alam mimpi. Akhirnya waktu yang dinanti pun tiba. Acara telah berakhir. “Ternyata begini saja acaranya” batinku. Padahal aku sudah berekspetasi terlalu tinggi, acara yang hanya setahun sekali ini dibuka dengan meriah dan menjadi acara yang istimewa.

    Sembari menuju parkiran untuk mengambil motor dan pulang ke rumah, fikiranku selalu dipenuhi tanda tanya dan aku sendiri pun tidak tahu apa jawabannya. “Padahal dari tadi aku antusias, bagaimana dengan teman-temanku yang tidak antusias dan gak tau menahu tentang acara ini? Padahal kan ini pesta demokrasi setahun sekali, Apakah seperti ini demokrasi di kampusku?”.