Loading...

Buku “Rumah Lebah”: Bukan Sekedar Fiksi

foto: Riza


lpmalmillah.com- Jum’at (24/01/2020), telah diselenggarakan Bedah Buku Rumah Lebah oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (DEMA FATIK) dan Guerilla US Library. Kegiatan Bedah Buku ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan Gebyar FATIK 2020. Dimulai pukul 08.45 WIB, acara dipandu oleh Fandy Choirul Sholikin selaku moderator. Bedah buku ini langsung menghadirkan penulisnya, Ruwi Meita serta Wening Purbatin yang merupakan salah satu dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam sebagai narasumber. 

Novel Rumah Lebah karya Ruwi Meita ini merupakan buku dengan ide mandiri pertamanya yang bergenre thriller-psychology. Buku ini menceritakan tentang seorang anak perempuan yang tinggal di Jakarta, ia bernama Mala dengan karakter yang unik dan terobsesi dengan ensiklopedia. Mala merupakan anak yang sangat mudah menyerap informasi dan mampu berbahasa Spanyol secara otodidak. Mala selalu menceritakan enam orang lain yang tidak dapat dilihat oleh orang tuanya. Mala merasa orang-orang itu menerornya, sehingga pada prolog diceritakan bahwa Mala naik ke atas genteng dengan keadaan ketakutan. 

Akhirnya, orang tua Mala memutuskan untuk pindah ke Ponorogo dan memilih home schooling untuk Mala. Mala menjadi lebih tenang setelah pindah ke Ponorogo, hingga suatu waktu terjadi kasus pembunuhan yang melibatkan Nawai, Mama Mala. Ternyata, Nawai memiliki enam kepribadian yang hanya ditunjukkan pada Mala.

Ruwi mengatakan bahwa setiap manusia memiliki keunikan. Melalui buku ini, Ruwi ingin menyuarakan tentang kejiwaan dan mental illness. “Manusia itu punya keunikan. Saya ingin menyuarakan tentang kejiwaan dan mental illness yang terjadi di sekitar kita. Namun, kita sering tidak peka pada pengidapnya,” ujar penulis Patung Garam yang menjadi best seller di Malaysia ini.

Selanjutnya, Fandy mempersilakan Wening untuk menyampaikan pendapatnya mengenai novel ini. Menurut Wening, buku ini sangat menarik, sebab memiliki alur cerita yang tidak mudah ditebak. Menurutnya, buku ini patut dibaca karena bukan sekedar fiksi, tetapi juga mengandung edukasi. "Sayangnya, meski memiliki unsur psikologi yang tajam, penulis tidak mencantumkan kata-kata atau istilah yang bernuansa psikologi,” jelas Wening.

Setelah itu, acara dilanjutkan pada sesi tanya jawab. Dista Nur Melista, mahasiswi jurusan Perbankan Syariah menanyakan perihal temannya yang sempat ingin bunuh diri. “Kemarin teman saya bilang ada masalah dari keluarganya dan sempat ingin bunuh diri. Saya sebagai orang awam, bingung. Saya takut apa yang saya sampaikan justru mendorong atau malah menghambat dia. Lalu, bagaimana sikap yang harus dilakukan agar teman saya bisa lebih baik?” tanya Dista.

Menanggapi pertanyaan Dista, Ruwi mengungkapkan bahwa kita seringkali kurang peka dengan hal-hal tentang psikologi seseorang yang terjadi di sekitar kita. Padahal, sangat riskan jika kita melakukan tindakan yang salah dalam menanggapinya. “Sebenarnya, orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang ingin didengar tanpa kita harus menjadi orang yang toxic secara positif dan negatif,” jelas Ruwi. 

Ruwi juga menambahkan jika kita tidak memiliki kapasitas untuk memberi solusi, jangan memberi solusi. Ia menyarankan, cukup didengar saja kemudian meminta bantuan kepada pihak yang lebih berkompeten.

Menurut Wening setiap orang memiliki hidden area yang merupakan rahasia dari dirinya. Ketika rahasia-rahasia tersebut sudah tertumpuk, maka akan diluapkan menjadi niat untuk bunuh diri maupun menyakiti diri sendiri. Wening juga menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki self-inclusion yang tinggi akan menjadi seseorang yang selalu ingin diperhatikan. Sebaliknya, orang dengan self-inclusion yang rendah, maka ia akan cenderung cuek dan lebih menikmati hidup karena tidak membutuhkan perhatian berlebih.

Acara ini menuai pujian dari salah satu mahasiswa jurusan Tadris IPA, Atalla. “Acaranya bagus karena menjelaskan tentang psikologi. Jadi, jika ada orang-orang disekitar kita yang mengalami hal serupa, kita jadi tahu bagaimana cara untuk bersikap,” ujar Atalla. 

Senada dengan Atalla, Vina yang juga mahasiswi Tadris IPA merasa mendapat pengetahuan baru tentang psikologi melalui bedah buku ini. “Kegiatannya bagus karena kita jadi tahu bahwa setiap orang memiliki masalah yang dapat diselesaikan sendiri dan ada juga yang harus diselesaikan dengan bantuan orang lain,” ungkap Vina.

Atalla juga berharap kegiatan ini dapat diadakan secara berkelanjutan. “Menurut saya, mungkin kegiatannya bisa diadakan lagi karena seru dan bagus pembahasannya,” ujar Atalla.

Di akhir acara, Fandy mengungkapkan tujuan diadakannya bedah buku adalah untuk meningkatkan minat baca dan menulis di kalangan mahasiswa IAIN Ponorogo. “Budaya literasi di Ponorogo sangat minim. Dilihat dari mahasiswa, kecenderungan membaca dan menulis sangat minim. Mereka lebih suka menulis makalah karena tuntutan. Tapi, kepenulisan yang mempresentasikan pemikirannya, itu jarang,” ungkap Fandy.

Fandy juga berharap literasi di IAIN Ponorogo dapat lebih berkembang lagi melalui kegiatan-kegiatan serupa. “Saya berharap tradisi baca, tulis, dan diskusi tidak hanya pada saat perkuliahan. Tapi, itu bisa menjadi budaya dan kebiasaan kita setiap hari sehingga dapat meningkatkan intelektual,” ujarnya.


Reporter: Titah, Rohma

Slider 1794718196250231358

Post a Comment

emo-but-icon

Home item

Follow by Email

ADS

Popular Posts

Random