Iklan Layanan

Cuplikan

Jadi Pemberdayaan, Warga Tunagrahita Hasilkan Batik Ciprat

(Foto: Feona)



lpmalmillah.com - Tunagrahita merupakan suatu kelainan yang mengakibatkan keterbelakangan mental. Salah satunya dialami oleh beberapa warga di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Tunagrahita dapat dilihat ketika seseorang mempunyai kelainan pada kemampuan intelektual dan keterbelakangan mental. Kelainan ini bisa menyebabkan seseorang tidak dapat fokus, mengalami emosi yang tidak stabil, dan lebih suka menyendiri. Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, mereka juga tidak dapat melakukan aktivitas layaknya orang pada umumnya.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah Desa Karangpatihan kemudian mengupayakan pemberdayaan bagi masyarakat tunagrahita. Pemberdayaan para tunagrahita di Desa Karangpatihan ini berupa Rumah Harapan Mulya. Rumah pemberdayaan ini sebagai wadah peningkatan keterampilan bagi tunagrahita, dengan menghasilkan sebuah produk berupa batik ciprat. Produk ini menjadi salah satu kerajinan yang dapat memberdayakan warga tunagrahita di Desa Karangpatihan. “Batik ciprat [di Karangpatihan] mempunyai fungsi sebagai pemberdayaan bagi teman-teman disabilitas,” ucap Yuliana selaku Ketua Rumah Harapan Mulya.

Dalam proses pembuatan batik ciprat ini, para tunagrahita ditemani oleh seorang pendamping. Pendampingan dilakukan karena kondisi tunagrahita yang sulit untuk fokus dalam mengerjakan suatu aktivitas. Para pendamping tersebut telah dibekali pelatihan pembuatan batik terlebih dahulu di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita [BBRSBG] Temanggung, Jawa Tengah. Pelatihan ini membuahkan hasil guna membimbing warga tunagrahita dalam memproduksi batik ciprat. “Awal mulanya pelatihan ini berada di Temanggung. Ada saya, Pak Samuji, dan Pak Paimin [yang mengikuti pelatihan batik di Temanggung],” ungkap Kadiran selaku Kamituwo Dukuh Tanggungrejo, Desa Karangpatihan.

Hasil pelatihan tersebut menghadirkan kreativitas yang berbeda-beda pada tiap daerahnya. Hal ini juga yang menjadikan batik ciprat khas Ponorogo berbeda dengan batik dari daerah lain. Sesuai dengan keterangan Samuji selaku wakil dari Rumah Harapan Mulya. “Setiap wilayah binaan hasilnya berbeda-beda, tergantung pada kreativitas masing-masing [pendampingnya],” ucap Samuji.

Berbeda dengan pernyataan Samuji, Wati selaku admin dari Rumah Harapan Mulya mengatakan bahwa perbedaan yang lebih spesifiknya itu terdapat pada kain yang digunakan. “Orang-orang pasti ngeh kalau batik ini dari Karangpatihan atau bukan, tapi kalau lebih spesifiknya itu [kualitas] kain yang menjadi pembeda dari batik daerah lain,” ungkap Wati. 

Lebih lanjut, teknik pembuatan batik ciprat ini hanya menggunakan kuas dalam pengerjaannya. Penggunaan kuas itu terbagi menjadi dua posisi, yang pertama lurus memakai satu tangan, dan posisi kedua menyilang menggunakan dua tangan. Selanjutnya ada dua motif yang berbeda untuk menghasilkan sebuah corak batik ciprat. Ada motif memanjang dan motif bintik-bintik seperti gerimis. “Untuk yang satu tangan itu nanti langsung dicipratkan pada kain untuk motif yang memanjang, lalu yang satu ini [menunjuk motif] menggunakan dua tangan, yang kemudian tangan itu diketuk pada kain [untuk motif seperti bintik-bintik],” ucap Wati.

Motif kain batik yang dibuat oleh tunagrahita tersebut dapat menghasilkan corak abstrak. Corak ini digunakan oleh tunagrahita karena tidak sulit dalam pengerjaannya. Dengan begitu, pengerjaan batik ciprat dapat digarap oleh tunagrahita sendiri dengan pendampingan di Rumah Harapan Mulya. “[Pola] yang abstrak ini murni buatan dari tunagrahitanya dan didampingi oleh pendamping,” tutur Wati.

Dalam pembuatannya, tidak semua tunagrahita dapat menghasilkan batik ciprat ini. Sebab, hanya beberapa tingkatan saja yang mampu membuatnya. Dalam penyebutan tingkatan ini, masyarakat Desa Karangpatihan mempunyai istilahnya sendiri. Hal ini karena warga desa sendiri kurang memahami istilah-istilah ilmiah. “Karena kita kurang memahami [istilah ilmiah], akhirnya kita itu memberi nama sendiri kelas-kelas [tingkatan] itu,” papar Samuji.

Tingkatan tunagrahita di antaranya ada tingkat ringan, tingkat sedang, dan tingkat berat. Tingkatan ringan itu yang dapat beraktivitas dan bekerja, tapi lamban dalam menerima pesan. Tingkatan sedang sudah mengenai fisik, berupa ada yang tidak bisa mengatakan dan mendengarkan sesuatu, tapi masih bisa berkegiatan. Yang terakhir yaitu tingkatan berat, tunagrahita dalam melakukan kehidupannya harus membutuhkan bantuan orang lain. 

Dari tiga tingkatan di atas yang masuk dan bisa membuat batik itu hanya tunagrahita tingkat ringan saja. Tingkatan ini tergolong masih bisa untuk beraktifitas normal tanpa bergantung pada orang lain. Kendati demikian, saat tunagrahita diberikan pelatihan pembuatan batik, harus dilakukan secara berulang-ulang dan ada penekanannya. Hal ini disebabkan tunagrahita mempunyai kelainan intelektual dan keterbelakangan mental, sehingga membuat para tunagrahita tidak mudah fokus. Maka dari itu, pengulangan dan penekanan sangat diperlukan dalam hal ini. “Mereka itu bisa untuk diajari tapi ada pengulangan dan penekanan dalam mengajari proses pembuatan batik ini,” tutur Samuji.

Pengerjaan batik ini tidak dilakukan setiap hari, mereka hanya memproduksinya saat ada pesanan saja. Terkait penjualannya, produk ini telah menembus ke pasar mancanegara. “Kemarin penjualan itu hingga ke Malaysia dan USA. Malah yang di USA itu tiga bulan sekali mereka memesan batik, lalu dikirim ke sana untuk dibuat pameran. Biasanya 10–15 kain sekali belinya,” ujar Wati. 

Para pelanggan tertarik untuk membeli karena melihat situs website dari batik ciprat Karangpatihan dan beberapa artikel yang memuatnya. “Konsumen dari luar negeri tertarik pada website dan artikel yang membahas tentang batik ini, lalu mereka datang ke sini untuk membeli,” tambah Wati.

Pemasaran produk batik ini, dilakukan pada website dan Instagram. Dalam akun Instagramnya, @batikciprat.karangpatihan ditampilkan postingan terakhir yang menunjukkan tanggal 2 Oktober 2023 lalu, dan belum ada postingan terbarunya hingga berita ini dipublis. Wati menjelaskan penyebab dari kurang aktifnya akun media sosial. “Ada penyebab utama hal tersebut dapat terjadi. Pertama, mereka [pengurus] sudah repot sendiri. Kedua, setiap penjualan kita selalu habis, jadi tidak ada stok foto dan juga tidak ada postingan terbaru di Instagram,” jelas Wati.

Terakhir, Yuliana mempunyai harapan terkait batik ciprat ini. Ia berharap bahwa batik ciprat dapat dikenal dalam berbagai daerah. Karena batik menjadi salah satu pemberdayaan pada disabilitas dan juga berkarya. “Untuk batik ciprat yang pastinya, besar harapan kami batik ciprat bisa dikenal di berbagai daerah. karena batik ciprat itu menjadi salah satu pemberdayaan, yang mana nanti dengan dikenalnya batik ciprat itu bisa membuat teman-teman disabilitas itu bisa berkaya lebih lagi,” tutur Yuliana.


Reporter: Feona, Arfiansyah, Zahra, Rohid

Penulis: Feona


No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.