Iklan Layanan

Cuplikan

Pelestarian Gong Gumbeng: Berbagai Upaya Dilakukan, Pemerintah Kurang Memperhatikan

(Foto: Retno)

lpmalmillah.com - Tidak hanya kesenian Reyog, Ponorogo juga memiliki kesenian lain yang tak kalah menarik. Pun kesenian yang tidak terlalu banyak orang yang mengetahuinya. Kesenian tersebut adalah Gong Gumbeng. Kesenian ini terletak di Desa Wringinanom, salah satu desa terluas di Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo. Kesenian Gumbeng ada di daerah ini terhitung sejak tahun 1837 M dibawa oleh abdi dari Kerajaan Mataram bernama Irabiri.

Istilah Gong Gumbeng berasal dari plesetan bahasa Jawa ‘bumbung’ yang kemudian oleh warga sekitar disebut Gumbeng. Kata Gumbeng sendiri juga bisa dikatakan 'mubeng'. “Mubeng memiliki makna dengan alat sederhana itu bisa membuat gending lagu sedemikian rupa,” ujar Darmanto, salah satu pemain Gong Gumbeng, ketika diwawancarai kru LPM aL-Millah (19/05/2023).

Dibandingkan dengan gong yang dikenal oleh masyarakat umum, Gong Gumbeng memiliki beberapa keunikan. Jika pada umumnya gong dikenal sebagai alat musik yang terbuat dari lempengan besi, Gong Gumbeng tidak. Gong Gumbeng merupakan seperangkat alat musik yang terbuat dari bambu wulung. Bahan dan proses pembuatan harus sesuai agar bisa mendapatkan irama yang tepat. 

Melansir dari warisanbudaya.kemdikbud.go.id, kesenian Gong Gumbeng terdiri dari beberapa bentuk instrumen. Pertama, Gumbeng yang terdiri seperangkat angklung yang berjumlah 15 potong dari yang kecil sampai yang besar. Kedua, Gong Bonjor yang terbuat dari bambu ori dengan ukuran besar dan kecil. Ketiga, Kendang Batangan. Keempat, Siter.

Meskipun kesenian Gong Gumbeng ini sudah ada sejak dulu, tapi eksistensinya masih bertahan sampai sekarang. Untuk tetap menjaga keutuhannya, terdapat beberapa upaya perawatan yang dilakukan. Seperti mengelap bilah-bilah bambu untuk menghilangkan debu yang menempel. Pengecatan ulang juga dilakukan agar warna dari alat musik tersebut tidak pudar.

Lebih lanjut, demi menjaga kesenian ini supaya tidak hilang, para pemain Gong Gumbeng juga melakukan latihan rutin. Latihan tersebut dilaksanakan di pendopo depan rumah Gunarto, tempat di mana Gong Gumbeng disimpan. Latihan dilakukan setiap malam Jum’at Kliwon. Namun, saat ini kegiatan tersebut terhenti sejak Covid-19 datang. Meskipun demikian, dalam jangka waktu yang akan datang, latihan akan tetap dilaksanakan.

Tak hanya dengan latihan rutin, kesenian ini juga dipentaskan setiap acara bersih desa yang dilaksanakan pada hari Jum’at terakhir bulan Selo di Telaga Mantili Dirja. Kegiatan ini diikuti oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, dan masyarakat setempat. Gong Gumbeng akan dimainkan setelah prosesi bersih desa dilakukan dengan diiringi oleh Tari Tayub.  

Latihan dan pertunjukan Gong Gumbeng juga diikuti oleh pemuda desa. Mereka turut antusias dalam melestarikan Gong Gumbeng melalui beberapa kegiatan. “Kita juga ikut serta dalam latihan Gumbeng itu dan ikut dalam penampilan saat upacara bersih desa dengan berada di barisan,” ujar Predianto, ketua karang taruna Desa Wringinanom.

Sebagai bentuk pelestarian lain, Gong Gumbeng juga dikenalkan kepada siswa SD-SMP melalui ekstrakurikuler karawitan. “Untuk musik dari seni Gumbeng kita kenalkan kepada generasi penerus supaya tidak punah, melalui SD [Sekolah Dasar] dan SMP [Sekolah Menengah Pertama],” ujar Darmanto.

Kesenian Gong Gumbeng sendiri juga pernah diikutsertakan dalam ajang Pekan Budaya Jawa Timur. Selain itu, biasanya ditampilkan pada bulan Agustus dan diundang pada acara Grebeg Suro. Berbagai bentuk pelestarian sudah dilakukan. Namun, pemerintah desa belum memberikan dukungan penuh untuk memaksimalkan pengembangan. Hal ini terlihat dalam penyelenggaraan bersih desa yang kurang meriah. Seperti dengan penggunaan tumpeng imitasi untuk menyemarakkan acara. “Kita pernah membuat beberapa tumpeng palsu untuk menyemarakkan acaranya,” ujar Darmanto.

Di sisi lain, Gong Gumbeng sendiri juga kurang mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Perhatian yang diberikan selama ini hanya sebatas pada pengakuan dan apresiasi dalam bentuk pemberian piagam penghargaan bahwasannya di Desa Wringinanom terdapat kesenian Gong Gumbeng.


(Piagam Penghargaan Gong Gumbeng)

Darmanto mengharapkan kesenian ini mendapatkan perhatian lebih dari pihak pemerintah. “Sebenarnya kesenian ini diperhatikan, tetapi harapan saya lebih ditambah lagi perhatiannya entah itu diberi baju komunitas atau yang lainnya,” ungkapnya. 

Masyarakat desa setempat juga mengharapkan kesenian Gong Gumbeng ini memiliki penerus, sehingga bisa tetap ada dan tidak punah. “Harapan saya kesenian Gong Gumbeng di desa ini ada penerusnya, anak muda ikut serta dalam kebudayaan ini sehingga tetap ada dan bisa dikenal banyak orang,” ujar Painem, salah satu masyarakat Desa Wringinanom.


Penulis: Retno

Reporter: Retno, Munir, Erick, Renata, dan Wanda

PJTD 2023


No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.