Iklan Layanan

Cuplikan

Warna Hidup Aryo


 (Sumber Gambar: picsart)

Cerpen Oleh: Denies

Angin berembus kencang sore itu. Rokok yang terselip di sela-sela jari Aryo sudah padam. Di sebelahnya duduk seseorang yang begitu berjasa di dalam hidupnya. Mungkin tanpa adanya orang itu, dia tersesat di jalanan. Tak punya arah tujuan untuk pulang. Hilang semua rasa kecuali rasa senang dan marah, hingga orang-orang sering menyebutnya gila. Aryo pernah berada di posisi dimana dia diasingkan dan dibenci banyak orang. Hingga keluarganya sendiri menyebutnya itu aib.  

Dulu di umur yang masih muda, yakni 10 tahun ia ditampar kenyataan bahwa orang tuanya harus berpisah. Ia terima itu dengan ikhlas. Tak apa orang tuanya tidak bersatu, tapi rasa kasih sayang mereka terus mengalir. Namun lagi-lagi dia dijatuhkan dengan angan-anganya itu. Ibu yang entah berada di mana, dan ayah yang terus menghujaminya dengan perkataan tajam juga tindak kekerasaan. 

“Anak pembawa sial, ibumu pergi gara-gara kamu. Anak tak tahu diuntung.” Begitulah kira-kira kata-kata yang sering Aryo dengar. 

Makanan sehari-harinya kala itu hanyalah suapan harapan bahwa ia akan baik-baik saja. Namun nyatanya, jiwanya tidak kuat untuk terus merasa baik-baik saja. Setiap hari suara-suara aneh muncul di benaknya. Mengusiknya untuk melukai tubuhnya sendiri, bahkan mengakhiri hidupnya. 

Rasa marah sering menguasai dirinya. Hal-hal sepele selalu ia permasalahkan. Hampir setiap hari ia selalu membanting barang yang ada dirumahnya. Tak hanya itu, jika dia sedang kambuh ayahnya malah memukulinya dengan ikat pinggang, bukannya menenangkannya. Bekas cambukan ikat pinggang masih tercetak jelas di belakang punggungnya. Juga ada luka sayatan silet memenuhi lengannya. 

Hingga saat itu ia memilih kabur dari rumah yang layaknya penjara baginya. Dengan kaos oblong dan celana pendek, ia berada di jalanan sendiri tanpa uang sepeser pun. Tatapan ketakutan orang-orang sudah sering ia terima. Ia tak memiliki rasa malu akan tatapan orang-orang itu, karena rasa pedulinya sudah hilang.

Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan orang yang sangat baik, yaitu Pak Jarwo. Pak Jarwo menemukannya berdiri di bawah lampu merah. Posisi di mana siapa saja yang berdiri di sana akan merasakan panas yang sangat menyengat kulit.

“Namamu siapa?” tanya Pak Jarwo yang saat itu masih menggunakan baju dinas. 

Aryo hanya diam dengan posisi yang masih sama. Berdiri memandangi warna lampu yang terus berubah. 

Pak Jarwo dengan wajah lelahnya itu sangat sabar menghadapi Aryo. Ia menepuk pundak Aryo pelan.

“Kamu mau merubah warna hidupmu seperti lampu itu tidak?” Pertanyaannya saat itu langsung membuat Aryo menganggukkan kepalanya.

Kedua sudut bibir Pak Jarwo langsung terangkat. Giginya pun terlihat saat itu. “Mau ikut saya?” tanya Pak Jarwo lagi. Matanya menatap lekat Aryo, walaupun dengan kondisi Aryo yang tak enak dipandang. Wajah kumel, rambut kusut kering, baju yang compang-camping, namun tetap saja Pak Jarwo masih berani mendekatinya.

Aryo yang saat itu hanya memandangi lampu merah, langsung menengok ke arah Pak Jarwo. “Kemana?” tanyanya.

“Ke tempat di mana kamu bisa berubah menjadi warna yang kamu mau. Seperti itu,” kata Pak Jarwo sambil menunjuk lampu yang awalnya merah menjadi hijau.

Aryo langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat. Senyumnya terbit di bibir keringnya yang pucat. Pak Jarwo langsung mengajak Aryo naik ke motornya.

Saat itu adalah awal mula Aryo menemukan titik terang di dalam hidupnya. Satu titik berwana putih di hidupnya yang sangat gelap.

Aryo dibawa ke rumah Pak Jarwo yang terletak di dekat kaki gunung. Hawa dingin langsung menusuk kulitnya kala itu, dikarenakan ia hanya memakai kaos oblong dan celana pendek.

Pak Jarwo menggiring Aryo masuk ke rumahnya. Rumah yang tak terlalu besar yang cukup untuk menampung orang-orang seperti Aryo.

“A… A… Takut Ayah. Pergi…” Saat itu Aryo memberontak ingin pergi dari hadapan rumah itu. Pikirannya langsung mengarah kepada seseorang yang menakutkan dimasa lalunya.

“Kenapa takut Ayah?” tanya Pak Jarwo heran.

Aryo melihat sekelilingnya dengan gusar. “Ayah suka pukul-pukul begitu,” katanya dengan suara lirih. Ketakutan. 

Pak Jarwo menarik Aryo untuk melihat matanya. Menenangkan Aryo hanya dengan mata teduhnya itu. “Tidak ada Ayah. Banyak makanan di dalam. Banyak warna yang kamu mau seperti tadi.” 

Aryo masih belum bisa diam, tubuhnya bergerak gelisah. Napasnya naik turun, tak teratur.

“Ayo, masuk. Kita cari warna yang kamu inginkan,” kata Pak Jarwo dengan suara yang pelan dan halus.

Aryo dengan terpaksa menurut digiring masuk ke dalam.

Setelah masuk ke dalam rumah itu ia disambut dengan suara teriakan yang begitu keras. Aryo takut dan langsung berdiri di belakang Pak Jarwo. Menarik baju lelaki yang umurnya sudah separuh abad itu.

“Tidak ada Ayah. Percaya saya,” ucap Pak Jarwo berusaha menenangkan Aryo.

Seorang wanita berhijab keluar dari salah satu sumber suara teriakan tadi. Matanya terkejut ketika mendapati suaminya membawa pulang seorang anak yang berumur sekitar 15 tahun itu.

“Lagi, Pak?” tanya wanita itu sambil mengembuskan napasnya. Lelah. Hal itu yang sering ia rasakan. Merawat seseorang dengan gangguan jiwa itu bukanlah hal yang mudah. Rasa sabar dan ikhlas adalah kunci. Namun, adakalanya ia merasakan kesabarannya hilang dan rasa putus asa dalam merawat mereka. Dirumahnya itu sudah ada tiga orang dengan gangguan jiwa, dan kini ia malah melihat sang suami membawa orang baru lagi.

Pak Jarwo menganggukkan kepalanya membalas perkataan sang istri. “Lihatlah, Bu. Dia masih sangat muda untuk menjadi seperti ini. Dia masih harus merasakan kebahagiaan di dunia yang fana ini, Bu,” Pak Jarwo menjelaskan dengan wajah tenang dan berusaha meyakinkan sang istri. Ia tahu istrinya itu kelelahan merawat orang-orang seperti Aryo. Tapi, entah kenapa hatinya selalu tertarik ketika melihat orang-orang seperti itu di jalanan. Bukan rasa kasihan, namun rasa ingin membantu untuk pulih dan menemukan warna kehidupan mereka kembali.  

Bu Sulis, sang istri menarik napas. Wajahnya lesu. “Ya sudah, Pak. Tidak apa-apa,” putusnya saat itu, walaupun dengan setengah hati.

“Lillah, Bu. Insya Allah, lelah Ibu dibalas sama Allah,” kata Pak Jarwo.

Bu Sulis hanya menganggukkan kepalanya dan pergi dari hadapan keduanya.

Hari-hari berlalu seperti hari biasanya. Namun, hari-hari itu terkadang menenangkan Aryo. Hal yang paling Aryo sukai adalah mewarnai. Setiap satu minggu sekali Pak Jarwo mengajaknya untuk menggambar dan mewarnai. 

Aryo juga suka bercocok tanam. Ia menanam sayur mayur di sebelah rumah Pak Jarwo. Menyenangkan saat melihat sayur itu tumbuh dengan baik. Meski, kadangkala ia juga kambuh kembali. Ketika ia melihat cutter, suara-suara yang dulu mengganggunya muncul kembali. Ia sering membenturkan kepalanya ke pintu ataupun tembok dengan keras. Bahkan kepalanya pernah dijahit karena banyak mengeluarkan darah. 

Kini dia tersenyum mengingat bagaimana ia sembuh dan memiliki warna hidupnya kembali. Di depannya ada Pak Jarwo, sosok yang sangat berjasa. Menyelamatkan dirinya dari dunia yang begitu gelap.

“Wah, jika tak ada Bapak, mungkin saya masih berdiri di hadapan lampu merah,” katanya sambil menyeruput kopi yang sudah mulai dingin.

Pak Jarwo terkekeh. “Jadi, saya pewarna di hidup kamu?” tanyanya.

Aryo tertawa keras. “Mungkin, bisa disebut seperti itu.”

Di sore itu Aryo terus bersyukur bisa mendapatkan warna di hidupnya. Rokok yang tadi mati ia hidupkan kembali. Ia lalu tersenyum tipis, bahwasannya masih banyak warna yang harus ia temukan. Warna yang ia miliki sekarang hanyalah sebagian kecil dari perjalanannya.

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.