Iklan Layanan

Cuplikan

Surat Kecil untuk Ibu

kompas.com

Cerpen oleh: Ika

10 April 2020

Ibarat kata, tiada pertemuan tanpa adanya perpisahan. Sama halnya dengan tiada kata datang tanpa adanya kata pamit. Aku tiada pernah membayangkan, hari-hariku akan sama seperti hari-hari sebelum adanya kehadiranmu. Tetapi, semesta selalu memiliki rencana indah untuk setiap manusia yang dikehendakinya.

Ibu, aku sekarang sudah kuliah. Mengejar cita-cita menjadi guru di salah satu perguruan tinggi di Ponorogo. Seperti yang Ibu mau. Aku tahu ini semua akan sulit. Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga. Jangan sedih, Bu.

Ibu, aku percaya, suatu hari nanti, kita akan bertemu dan bersama kembali. Kita akan meneruskan kisah indah yang kurasa belum selesai ini. Aku percaya kepada semesta, karena aku yakin semesta tidak pernah ingkar janji.

***

Sudah menjadi takdirnya semesta selalu mengaminkan setiap do'a yang dirapalkan oleh penghuninya. Sama seperti hari ini, langit mendung sepertinya turut berkabung dengan apa yang terjadi hari ini.

Dituliskannya aksara-aksara indah, Rahma berharap ia mampu melepas rindu kepada ibunda yang sudah pergi satu tahun yang lalu. Dituliskannya dengan begitu rapi, dengan diksi-diksi yang indah. Kali ini, Rahma memilih menuliskan aksara terakhirnya tersebut melalui berlembar-lembar kertas.

Setelah berhasil menenangkan gejolak hati yang turun naik. Akhirnya, berhasil juga Rahma menyelesaikan suratnya tersebut. Setelah kata-kata 'salam rindu: Rahma putrimu' air mata tak bisa lagi bergelayut manja pada kelopak mata. Melainkan telah berlarian di atas kedua pipi kesumbanya.

Dilipatnya beberapa lembar kertas tersebut rapi-rapi, hingga membentuk sebuah kotak kecil. Ya, kali ini Rahma memilih bantuan sepeda berwarna biru, Rahma memutuskan mengantarkan surat itu.

"Mau kemana Nak, cuaca sedang mendung begini?"

"Mau beli sesuatu dulu, Pak."

"Mau diantar sama Bapak?"

"Emm... tidak perlu Pak, hanya sebentar." Jawaban yang palsu. Bukan, bukan karena sebentar, melainkan Rahma tidak ingin Bapak tahu kemana ia akan pergi kali ini.

Sampailah ia di pinggir jalan yang terbilang sepi, matahari mengintip dari dahan-dahan yang daunnya mulai berguguran. Rahma turun dari sepeda.

"Bismillah...," ucapnya lirih.

Ia menggenggam surat itu. Ia berjalan menelusuri gundukan-gundukan tanah yang tertutupi rumput. Sampai akhirnya ia berhenti. Ia bersimpuh dan menengadahkan tangan seraya berdo'a. Ia menatap nanar batu nisan yang ada di depannya.

Siti Kharisma. Lahir: 13-04-1965 Wafat: 10-04-2019

Ibunda wafat tiga hari sebelum hari bahagianya di mana umurnya bertambah. Namun takdir tidak ada yang tahu. Sang Ibunda pergi karena penyakit kanker. Hidup memang penuh misteri. Sosok yang ia cintai dengan sepenuh hati, harus pergi selamanya.

"Selamat ulang tahun Bu. Aku rindu denganmu," ucapnya pilu.

Kaki langit yang seharusnya berwarna keemasan, kali ini justru sebaliknya harus puas hanya dengan warna abu-abu. Warna abu-abu yang pilu. Sama seperti daun yang gugur. Rahma juga ingin ikhlas. Ia letakkan surat itu bersama taburan bunga mawar di atas makam Ibunda. Rahma tahu, surat itu tidak akan pernah dibaca oleh Ibunda. Tapi ia yakin, malaikat di sana telah memberi tahu jika sang putri merindukannya.


No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.

banner