Iklan Layanan

Cuplikan

Hai Covid-19

gatra.com
 

Cerpen oleh: Denies Dwi

Kertas di tanganku sudah kusut ketika tanda positif tercantum. Rasanya aku hilang harapan saat ini juga. Semua pikiran negatifku tentang orang-orang dan sahabat akan menjauhiku saat kukabari bahwa aku positif terkena Covid-19. Sudah banyak informasi mengenai penderita Covid-19 yang mulai dijauhi oleh orang-orang terdekat. Itulah ketakutanku sekarang.

Kulihat halaman rumah yang mulai sepi. Tadi siang ketika ambulans dan para polisi datang, tetanggaku sangat heboh. Mereka berbisik yang entah itu hal apa. Tapi dari ekspresi wajahnya, kuduga mereka terkejut akan hal itu.

Aku hanya pegawai biasa dan jarang untuk keluar rumah. Hanya kemarin saja ketika ada acara yang mengharuskanku untuk berkumpul. Apakah karena aku terkena virus ini? Aku hanya melanggar sekali larangan untuk berkumpul tetapi mengapa aku harus dinyatakan positif? Rasanya sangat menyebalkan. Bagaimana dengan yang sering berkumpul seperti itu? Apa mereka positif juga? Kalau boleh berharap, aku mengharapkan hal itu. Tidak adil rasanya jika mereka harus negatif sedangkan aku positif.

Notif pesan muncul di layar ponselku. Aku mentapnya, tidak berniat untuk membukanya. Tapi rasa penasaran mendominasi diriku. Dengan terpaksa aku melihat isi pesan itu.

Kuhembuskan napas lagi dan lagi. Kutampar pipiku dengan keras. Aku harap ini mimpi burukku saja dan dapat segera bangun.

“Cepat bangun Dinara!” Teriakku parau. Sungguh aku harap ini hanya mimpi. Air mataku meleleh. Tetap saja aku tidak bangun.

Apa ini yang dirasakan pasien positif Covid-19? Mereka pasti sangat ingin mengakhiri hidupnya seperti diriku sekarang. Dan pesan tadi adalah tamparan realita. Aku harus tinggal di rumahku selama dua minggu untuk mencegah penularan. Wah, rasanya dua minggu itu akan membunuhku. Aku hanya berdiam diri dan menangis sekarang sekitar 10 jam saja rasanya aku seperti tercekik. Lalu, bagaimana dengan dua minggu?

Pikiranku teringat akan berita di TV yang pernah aku tonton, itu tentang pasien Covid-19 yang meninggal karena bunuh diri dengan terjun dari rumah sakit tempat dia dirawat.

Lalu aku mengambil tali pita yang ada di dalam lemari. Apa ini hal yang harus aku lakukan? Tali itu sudah terpasang di depan pintu kamarku yang terbuka. Kuambil kursi riasku perlahan. Lelehan air mataku tidak mau berhenti. Tanganku bergetar. Apakah ini benar Tuhan? Apakah aku harus bertindak sejauh ini. Tatapan terkejut tetanggaku menghantui pikiranku. Tatapan mereka berubah, seakan-akan aku adalah parasit yang harus dihancurkan.

Aku semakin yakin untuk melakukan hal berdosa ini. Bukankah Covid-19 akan membunuhku juga jika aku tak melakukan hal ini? Tetap saja aku akan mati bukan?

Kakiku mulai naik ke atas kursi rias dan memandang tali itu. Semua orang akan bahagia jika aku mati. Itulah hal yang ada di pikiranku sekarang. Kepalaku sudah aku masukkan ke dalam tali itu. Aku tersenyum dan menggeser kursi rias sedikit-demi sedikit agar aku bisa tercekik.

Menakutkan rasanya.

Ponselku berdering sangat keras ketika ujung kaki sedikit lagi tidak berpijak di atas kursi. Hatiku sedikit lega. Aku turun dan menunda untuk mencekik leherku sendiri.

Tanganku meraih ponsel yang berada di atas lantai. IBU.

Nama itulah yang terlihat pertama kali oleh indera penglihatanku. Kakiku melemas. Aku menangis keras di atas lantai. Kudekap ponselku yang terus berdering. Sungguh aku ingin pulang dipelukan ibu. Tidak ingin tinggal di kota seberisik ini. Tidak ingin menjadi seorang pasien. Dadaku rasanya sesak. Hampir saja aku mati.

Kuangkat panggilan dari Ibu.

“Ibu..” Rengekku sambil mengadukan segala hal kepadanya. Beliau sudah tahu apa yang terjadi denganku. Awalnya ibu terkejut dan menangis pula bersamaku. Aku tahu bahwa aku sudah mengecewakannya. Lalu ibu segera menyuruhku untuk berwudhu dan meminta ampunan kepada Tuhan atas apa yang akan aku lakukan tadi. Ibu juga menyuruhku agar tetap tenang dan tidak melakukan hal bodoh seperti tadi. Aku sedikit lega ketika ibu mendukungku untuk sembuh, tidak meninggalkanku sebagaimana yang aku pikirkan tadi.

Setelah panggilan berakhir, aku beranjak untuk mengambil air wudhu. Kemudian mulai memohon ampunan kepada Tuhan. Tuhan begitu baik memberi kesempatan kepadaku untuk hidup. Padahal aku sudah sangat berdosa dengan tidak mensyukuri nikmat yang Dia berikan.

Setelah berdo’a aku mengambil ponsel. Banyak pesan masuk, tetapi aku takut membukanya. Pikiran negatif itu masih bersarang di pikiranku. Sebelum sholat tadi aku mengirim pesan kepada salah satu temanku, kukabari bahwa aku positif Covid-19. Setelah itu aku tidak ingin melihat balasan pesan dari temanku itu. Aku terlalu takut dengan reaksi mereka.

Aku beranjak ke ruang tamu untuk melihat kondisi depan rumah. Tetapi langkahku berhenti ketika sudah ada banyak makanan di ruang tamu itu. Aku terkejut. Siapa yang mengirimkan begitu banyak makanan untukku?

Lalu kulihat beberapa kertas yang terselip di makanan tersebut. Kuambil satu dan membacanya.

Assalamualaikum Mbak Dinara. Saya Bu Anis tetangga depan rumah embak. Mbak Dinara sing semangat yo. Jangan putus asa. Jangan didengerin ucapan sinis tetangga, mbak. Mereka cuma bisa begitu menghujat hal yang menurut mereka salah. Mbak Dinara tenang saja, sudah saya tutup mulut mereka dengan semur jengkol saya. Dan juga udah saya ceramahi. Mereka bodoh sih menghujat embak padahal lagi sakit. Eh, kok malah curhat. Ya sudah, saya kasihan kepada anak saya yang nulis surat ini. Di maem ya Mbak makanannya. Dijamin enak dan menyehatkan. 

Salam dari Bu RT,”

Sudut bibirku terangkat bersamaan. Air mataku masih mengalir. Ternyata masih ada yang peduli kepadaku. Seandainya aku benar-benar gantung diri apakah aku masih bisa merasakan kebahagian ini?

Kuambil ponselku dan membuka pesan-pesan yang berasal dari temanku. Walaupun itu sangat sulit dan menakutkan. Tarik napas, lalu buang. Aku sudah menatap banyak pesan yang masuk.

Aku terkejut ketika kebanyakan dari mereka mempedulikanku, ya walaupun masih tetap saja orang-orang yang menghujat dan meninggalkanku.

Aku bercerita tentang ketakutanku kepada mereka. Tetapi mereka malah memarahiku. Mereka bilang, aku anggap mereka teman atau bukan. Dan ada beberapa yang maklum akan keadaanku. Mereka menyuruhku untuk mencari informasi tentang Covid-19 dan terus berpikir positif.

Aku sangat lega ketika mereka menerimaku dan membantuku untuk berdiri lagi mengahadapi kenyataann yang ada di depan. Sungguh aku sangat bersyukur. Terima kasih Tuhan dan hai Covid-19.

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.

banner