Iklan Layanan

Cuplikan

Tingkat Kehadiran PBAK Online: Hit and Run Diwajarkan

 

    lpmalmillah.com - PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) bagi para mahasiswa baru di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo kali ini dilaksanakan dengan metode berbeda. Grand design PBAK tahun ini dilaksanakan secara online atau menggunakan live streaming Youtube akibat pandemi Covid-19. Dengan pelaksanaan PBAK yang secara online, mekanisme kehadiran pun berbeda.

    Ketua PBAK, Ahmad Zainal Abdin menjelaskan terkait mekanisme presensi untuk peserta online. “Mekanismenya, bahwa mahasiswa baru harus mengikuti PBAK melalui link Youtube yang disampaikan melalui pendamping kelompok. Kemudian dia nanti menuliskan di live chat Youtube dengan menulis NIM kemudian di screenshoot dan dikirim ke WA Grup,” jelasnya.

    Senada dengan Abdi, Ahmad Damar Samlani selaku ketua DEMA IAIN Ponorogo mengungkapkan jika mahasiswa baru sudah bertanggung jawab dengan presensinya. “Kita lebih memudahkan dengan cukup komen di live streaming Youtube. Alhamdulillah sudah banyak yang bertanggung jawab dalam artian mereka juga komen kemudian di screenshoot itu pun juga sudah dianggap hadir,” ujar Damar.

    Jika peserta online melakukan presensi di live chat dan di WhatsApp, presensi peserta offline dengan tanda tangan langsung. Ma’shum Bahrain, salah satu peserta PBAK offline mengungkapkan terkait dengan presensi peserta offline. “Absensinya dengan tanda tangan dua kali, di kertas yang diedarkan panitia,” jelasnya.

    Sementara itu, bagi peserta PBAK yang tidak mengikuti kegiatan PBAK belum ada kejelasan tindak lanjutnya. Siska Rahayu, salah satu pendamping kelompok dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FATIK) menjelaskan bahwa belum ada konsekuensi yang jelas dari ketidakhadiran peserta. “Konsekuensi tentang ketidakhadiran belum jelas, ketidakhadiran memungkinkan tidak mendapatkan sertifikat,” jelasnya.

    Presensi kegiatan online, pasti tak luput dengan fenomena hit and run atau setalah mengisi kehadiran, para peserta meninggalkan PBAK online. Menanggapi peristiwa ini, Abdi menegaskan bahwa hal itu menjadi hak dari mahasiswa. “Ndak apa-apa, ketika mereka hit and run ya kita tidak bisa berbuat apa-apa. Andai kata mereka semua hit and run ya itu hak mereka. Karena tidak semua mahasiswa dapat memegang HP pada jam yang telah ditentukan,” tegasnya.

    Menurut Putri Maharani, salah satu pendamping kelompok dari Fakultas Ushuludddin Adab dan Dakwah (FUAD), hit and run tersebut kembali kepada masing-masing mahasiswa. “Kalau hit and run itu kembali lagi ke mahasiswanya, kalau mereka benar-benar butuh pasti dia akan mengikuti dari awal sampai akhir,” jelasnya.

    Sebagai tindak lanjut dari fenomena hit and run yang dapat mengurangi esensi dari PBAK sebagai ajang untuk mengenalkan budaya kemahasiswaan, akan dimaksimalkan dalam pengenalan budaya akademik dan kemahsiswaan di wilayah jurusan. “Ya sedikit ada gambaran pasca PBAK kita lebih tekankan di wilayah HMJ, di situ kan wilayahnya lebih kecil kalau PBAK kan se-wilayah IAIN nah itu bisa kita tindaklanjuti untuk perkenalan akademik dan kemahasiswaan didalam agenda osjur,” ujar Damar.

    Selain dimaksimalkan dalam wilayah jurusan, pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan juga melalui proses pembelajaran online menggunakan e-learning. “Harapannya nanti sudah perkuliahan dengan menggunakan e-learning, sebelum masuk e-learning harus masuk website IAIN Ponorogo yang disitu ada profil pimpinan dan lain  sebagainya. Ya mereka akan mengenalnya lewat itu,” tambah Abdi.

    Berkaitan dengan metode PBAK yang dilaksanakan secara online kali ini, sinyal menjadi salah satu kendala, sehinga membuat peserta PBAK online merasa kurang nyaman. Hal ini seperti yang diungkapkan Rizki Agus Khudhori, salah satu peserta PBAK online. “Kurang nyaman, karena pertama masalah sinyal kemudian terlalu lama menunggu. Jadi banyak yang gak mood,” ungkapnya.

    Pelaksanaan PBAK online ini mendapat tanggapan dari peserta PBAK, Ma’shum Bahrain, menurutnya pelaksanaannya cukup membosankan. “Awalnya seru, tapi pas udah masuk sesi tiga dan sesi empat mulai membosankan. Suaranya juga nggak jelas, terus materinya juga nggak bisa aku pahami,” terangnya.

    Pelaksanaan PBAK online kali ini, menurut Abdi cukup menjadi tantangan. “PBAK online kali dari sisi pelaksanannya memang betul-betul menjadi tantangan, karena kita mau ndak mau harus menggunakan teknologi dan terkendala oleh situasi dan kondisi. Karena kita mau ndak mau harus disampaikan secara online,” jelas Abdi.

 

Penulis: Hanif

Reporter: Afri, Hanif, Ika

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.

banner