Iklan Layanan

Cuplikan

Benteng Tua

trevel.kompas.com

Puisi Oleh : Nrohma


Cericis burung sawah memenuhi semesta. 

Di balik benteng tua, 

Kulihat pohon flamboyan Yang mulai berguguran di musim kemarau. 

“Indah” sorakku. 

Bunga-bunga merah flamboyan memenuhi rumput hijau.

Seakan mewarnai rumput itu sendiri. 

Burung merpati terbang begitu langkahku terdengar.

“Indah” sorakku.

Mereka terkoyak lalu terbang indah di dalam benteng.

Benteng tua saksi sejarah tanpa aksara.

Dinding benteng megah satu abad lalu, kini seperti dinding rapuh tak bernyawa.

Hanya menyisakan keindahan kuno, tanpa legenda maupun mitos.

Aku berjalan menyusuri setiap jalan, tapi yg tersisa adalah dinding yang terkelupas dan rapuh.

Hanya tumbuhan merambat yang silih berganti memeluk Benteng tua.

Muda-mudi asyik menghias bingkai potretnya.

Tanpa bertanya apa, mengapa, dan bagaimana.

Kisah-kisah kuno seperti terbang bagai angin yang menyapa angan-anganku.

Aku tersandar dalam diriku, menarik nafas membawa pikirku.

Seakan aku ingin menarik pena dan merajut hasrat.

Angka abad delapan belasan seperti figura kuno yang menjadi bukti.

Tapi kini seperti objek foto muda-mudi.

Angin musim kemarau menyapu rerumputan dalam Benteng.

Kupejamkan mata berharap aku terilhami kisah kuno tanpa cerita. 

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.

banner