Iklan Layanan

Cuplikan

“KEGALAUAN” MEDIA DI ERA DIGITAL




Judul Buku:
BLUR —Bagaimana Mengetahui Kebenaran Di Era Banjir Informasi—
Penulis:
Bill Kovach dan Tom Rosenstiel
Penerjemah: 
Imam Shofwan dan Arif Gunawan Sulistiyono
Penerbit:
Dewan Pers
Tahun Terbit:
2012
Tebal:
XI+225

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya di abad ke-21 ini, masyarakat telah memasuki era globalisasi. Era yang juga disebut sebagai era digital ini memberikan pengaruh dan perubahan di berbagai  lini kehidupan. Pola hidup masyarakat perlahan namun pasti terus berubah. Kemajuan internet pun semakin mendorong masyarakat untuk hidup secara instan. Contoh kecil adalah sistem online yang booming akhir-akhir ini telah menjadi trend  di masyarakat. Begitu pula halnya dengan konsumsi media, juga mengalami perubahan. 

Melalui Blur, Bill dan Tom ingin menyampaikan perubahan konsumsi media yang berubah setiap tahunnya. Dalam buku ini dpaparkan bahwa jika sebelumnya media didominasi oleh media elektronik (televisi dan radio) lalu media cetak (koran dan majalah), maka kini bisa dipastikan konsumsi media terbanyak ada pada media online. Di era yang serba cepat ini, masyarakat banyak mendapatkan informasi dari internet —biasa dikenal mbah google—. Melalui internet masyarakat bisa mengakses berbagai macam informasi, mulai dari berita, kesehatan, fashion, olahraga dan lain-lain sambil mengerjakan aktivitas utama —misalnya bekerja. 

Dengan memasuki dunia internet tentunya kita akan dihadapkan pada perubahan pola produksi dan penyebaran informasi. Sekarang ini produksi berita tidak hanya monopoli wartawan, semua pihak dapat memproduki berita, bahkan warga biasa yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan dalam bidang jurnalistik, dan posisinya seakan sama dengan wartawan profesional. Di samping sisi positif dan kemudahan yang mengiringi perkembangan media, di sisi lain masyarakat juga dihadapkan pada suatu pertanyaan bagaimana dengan kualitas dan kebenaran informasi yang beredar. Karena infromasi yang beredar belum tentu diproduksi oleh wartawan yang bertugas memilih dan memilah informasi bagi kita.

Biil yang telah lama menggeluti media cetak, menjelaskan bahwa di era digital ini kita dihadapkan pada terancamnya eksistensi dari media cetak (baca: media tradisional). Terancamnya media cetak dikarenakan media cetak kalah cepat dengan media online, sebab memang media cetak lebih mengedepankan verifikasi dibandingkan kecepatan. Selain itu iklan juga beralih memilih media online dengan dalih jangkauannya lebih luas. Hal ini menyebabkan media-media beralih untuk merambah ke media online yang lebih efisen dan lebih murah biaya produksinya.
[next]
Era serba cepat dan instan, mendorong media berkompetisi untuk menyampaikkan informasi paling cepat. Akibat yang ditimbulkan adalah informasi yang disampaikan tidak akurat, tidak berimbang, bahkan seolah informasinya terpotong karena tidak ada verifikasi yang mendalam. Informasi — termasuk berita hoax— yang disebarkan di media dinilai hanya bermodal cepat, sehingga hasilnyapun tidak dapat dipertanggungjawabkan. Selain perubahan pola penyajian berita, masalah yang tidak kalah penting adalah ketika sebuah organisasi media dalam menyajikan informasi  ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan yang tidak berkaitan dengan kepentingan publik, bahkan memanipulasi informasi yang membodohi publik demi kepentingan golongan mereka.

Dengan keadaan media informasi yang demikian, Bill dan Tom menyampaikan pertanyaan, bagaimana konsumen berita menyikapi keadaan tersebut, mengetahui kebenaran, dan mengetahui yang sebenarnya terjadi?

Di sinilah Bill dan Tom memberikan pemaparan atas pertanyaan-pertnyaan tersebut. Sesuai dengan judulnya, dalam buku ini kedua jurnalis tersebut menuntut konsumen berita, agar menjadi wartawan sekaligus editor bagi dirinya sendiri. Di sisi lain  Blur merupakan panduan  untuk memilah dan memilih informasi di era yang disebut dengan banjir informasi ini.

Buku ini terdiri dari sembilan bab yang mencoba menjabarkan teknik yang ditawarkan oleh Bill dan Tom di swalayan informasi, yaitu ketrampilan skeptisme dan bagaimana ketrampilan skeptisme tersebut dilakukan. Blur dimulai dengan pertanyaan “bagaimana kita tahu media yang bisa dipercaya.” Bill dan Tom menggambarkan bahwa di era digitalterdapat banyak media, dan untuk mengetahui media yang dapat dipercaya keduanya telah menggambarkan secara detail.

Kita pernah mengalami ini, kalimat itulah bahasan yang dipaparkan di bab II. Pada bagian ini menceritakan hilangnya iklan yang pernah ada di media cetak dan beralih beriklan ke media online. Itu bukan hal baru karena sebelumnya pun media cetak pernah mengalaminya. Pada bab berikutnya penulis, menggambarkan cara skeptis sebagai ketrampilan verifikasi. Hal ini ditujukan agar masyarakat —terutma wartawan— memahami benar, bahwa dalam sebuah informasi haarus dicari fakta yang sesungguhnya. Hal tersebut dilakukan dengan terus bertanya hingga tak ada lagi pertanyaan yang muncul.
[next]
Berlanjut ke bab IV, penulis menggambarkan kelengkapan sebuah data. Dalam sebuah informasi data apa saja yang sudah ada dan data apa saja yang masih kurang. Dengan demikian akan mengetahui kekurangan data serta melengkapi hingga data yang sesungguhnya benar-benar diperoleh. Selanjutnya penulis membahas tentang sumber berita, dari manakah asalnya informasi tersebut. Dalam penggalian data tentunya dibutuhkan sumber informasi. Dalam bab ini penulis menjelaskan kriteria sumber yang dapat memberikan informasi serta sumber yang dapat dipercaya.

Penulis juga menjelaskan baahwa dalam sebuah informasi memerlukan bukti dan verifikkasi. Bukti dan jurnalisme verifikasi diterangkan pada bab VI. Berangkat dari pengalaman dan bakground penulis di media cetak, mereka menjelaskan dengan rinci setiap informasi yang didapatkan ada buktinya dan diverifikasi kebenaranny. Bab berikutnya masih berkaitan dengan bukti dari sebuah informasi. Akan tetapi lebih fokus pada pernyataan  yang seolah merupakan informasi mentah ataupun opini, harus benar-benar dibuktikan kebenarannya.

Buku yang ditulis dengan alur cerita yang apik ini juga mengutarakan cara menemukan hal yang terpenting dari sebuah informasi. Dengan gaya yang khas, penulis menceritakan dalam sebuah informasi terdapat hal yang terpenting, karena hal yang terpenting dalam sebuah informasi mampu mengembangkan bukti. Penulis menutup dengan wacana kebutuhan masyarakat di jurnalisme era baru. Di era digital yang banjir informasi, penulis mengharapkan pemberitaan mampu mengkombinasikan jurnalisme lama dengan jurnalisme era digital. Di mana wartawan dan konsumen harus cerdas dalam mengkomunikasikan informasi. Di sisi lain dalam penyampaian informasi juga diharapkan tetap menjaga esensi dan menjaga prinsip jurnalisme. Hal tersebut juga telah dituangkan ke dalam karya Bill dan Tom lainnya yang berjudul Sepuluh Element Jurnalisme.

Pada intinya buku yang diterbitkan oleh dewan pers ini memberikan wacana terkait wajah permediaan di era digital. Di era banjir informasi ini, masyarakat harus lebih selektif lagi dalam memilih media sebagai sumber informasi. Sebagaimana yang dijelaskan di atas, informasi semakin instan dan mudah untuk di dapat. Oleh karena itu, keakuratan datanya sangat dipertanyakan. Buku terjemahan ini hadir sebagai jawaban atas kegalauan media di era digital, dan diharapkan mampu memberikan wacana bagi masyarakat secara umum.

2 comments:

  1. Tampaknya, anggota Al millah jarang membaca ya...??

    Resensisinya cuma ini dan inipun sudah sangat lama sekali.

    ReplyDelete

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.