Loading...

Kampus Kamuflase

Oleh Anisa Aini
 Pagi ini aku datang ke sebuah kantor universitas. Aku harap bisa diterima di universitas tersebut dan bisa bekerja dengan skill-ku dalam bidang teknik.

Aku mengetuk pintu.

“Silahkan masuk..mencari siapa?”

“Saya mencari Pak Harianto,beliau ada?”

“Oh begitu..silahkan duduk dulu,Pak Rofi ya?”

“Iya pak..” jawabku agak gugup.

 Dia mengambil posisi duduk lebih dekat denganku daripada sebelumnya.
“Besok anda sudah boleh mulai bekerja di sini, untuk bagiannya nanti akan saya beritahukan lewat WhatsApp

 Aku termenung mendengar kata-kata tadi, berusaha mememahami apa yang dimaksudkannya. Aku tetap diam sampai ia mulai memperhatikan kebingunganku,ia membenahi posisi duduknya menjadi lebih santai.

“Anda Pak Rofi kan? Yang mau melemar pekerjaan?”

“Iya pak,saya juga perlu bertemu Pak Harianto..”

“Iya pak,saya Harianto..lamaran kerja bapak saya terima.” Katanya sambil tersenyum dan menyodorkan tangan. Aku buru-buru menyalaminya dan menganggukkan kepalaku.

“Besok silahkan datang lagi sekitar jam 7 pagi, sekarang bapak boleh pulang untuk mempersiapkan tugas besok pagi”

“Oh iya pak,besok saya akan datang lagi. ” Kataku dengan pasti.Aku undur diri dari ruangan tersebut.

 Pada pagi hari pertama bekerja.

“Pak Rofi ya?” seorang laki-laki setengah baya mengagetkanku dengan pertanyaannya.

“Iya pak,maaf dengan siapa ya?”

“Saya Udin, pekerja kebersihan di sini. Bapak pekerja baru bagian prasarana kan?”

“Iya pak, hari ini saya mulai bekerja di sini.”

“Oh ya pak,tadi saya mendapat pesan dari Pak Harianto untuk memberi tahu tugas bapak disini. Jadi, setiap hari bapak harus mengecek semua prasarana yang ada dikampus dan mencatat jika ada kekurangan dan kerusakan. Jika bapak bisa membenahinya sendiri bapak bisa menggunakan alat-alat digudang belakang ruang dosen. Tapi kalau tidak bisa bapak bisa memberi tahu Pak Harianto dan nanti beliau akan meminta orang untuk membantu bapak.”

“Oh baik pak,saya akan melaksanakan tugas sebaik-baiknya.”

 Aku mulai mengelilingi setiap sudut kampus ini. Mulai dari lantai satu sampai lantai empat terdapat prasarana yang harus aku cek satu persatu. Aku mengira bahwa pekerjaan ini akan cukup mudah jika dilihat dari depan gedung yang begitu mewah,tetapi aku salah besar. Hampir semua prasarana yang ada dikampus ini butuh perbaikan. Tidak hanya itu, bahkan ada beberapa fasilitas yang rusak total dibiarkan tidak terawat dan mulai berkarat, seperti kipas angin rusak, kran kamar mandi yang bocor, kaca jendela yang pecah dan lain-lain. Aku miris melihat keadaan kampus yang sebenarnya. Bagaimana mungkin cover gedung yang luar biasa megahnya ternyata penuh dengan prasarana yang yang tidak pantas disebut prasarana? Aku menggeleng-gelengkan kepalaku setelah melihat ruangan ekstrakurikuler mahasiswa yang penuh dengan sampah dan kotoran tikus.

 Aku menengok ke sebelah kanan,terdapat ruang kelas mahasiswa semester satu. Seorang mahasiswa memperhatikanku disana, ia menghampiriku perlahan-lahan.

“Selamat siang pak! Bapak pekerja baru ya? Sepertinya saya beum pernah melihat bapak disini” Katanya sambil tersenyum dan menganggukkan kepala.

“Iya,saya memang pekerja baru bagian prasarana.”

“Ohh jadi bapak bagian prasarana! Kebetulan sekali pak,saya sudah dari dulu ingin mengutarakan pendapat saya tentang prasarana dikampus ini. Dulu ketika awal masuk kuliah saya kira kampus ini penuh dengan fasilitas yang memadai,dilihat dari mewahnya gedung ini sangat tidak mungkin sekali prasarana yang seharusnya menjadi penunjang dalam belajar malah sama sekali tidak dapat digunakan.”

“Saya sendiri tidak tahu kenapa kampus ini begitu buruk fasilitasnya. Selama saya bekerja sebagai pekerja prasarana di beberapa sekolah sebelum ini, saya belum pernah melihat prasarana yang benar-benar memprihatinkan kecuali disini. Mungkin dengan keadaan yang seperti ini saya bisa melaporkannya kepada atasan saya. Saya sendiri juga tidak sanggup jika memperbaikinya sendiri.” Kataku penuh belas.

“Benar kata bapak, prasarana dikampus ini memang tidak memadai.Semoga dengan bapak bekeja di sini bapak dapat memperbaiki prasarana agar dapat digunakan oleh semua mahasiswa.”

Aku mengangguk menerima pendapatnya.Tidak lama kemudian mahasiswa itu undur diri dan memasuki kelasnya. Aku segera menuju ruang Pak Harianto.

“Silakan masuk!”

“Selamat siang Pak Hari,” kataku datar.

“Siang pak..ada yang bisa saya bantu?” Katanya dengan santai.

“Begini pak, sebelumnya saya minta maaf jika kedatangan saya mengganggu bapak. Sesuai dengan yang bapak sampaikan kepada pekerja kebersihan,hari ini saya sudah mengecek semua prasarana yang ada dikampus ini,saya kira semua akan mudah pak.. tapi setelah melihat kenyataannya saya kaget bukan main, hampir semua prasarana yang ada rusak parah dan butuh perbaikan. Jadi, maksud saya datang kesini untuk meminta tenaga bantuan supaya fasilitas dikampus ini segera dapat diperbaiki dan dapat digunakan oleh mahasiswa.”

Hening.

 Suara tawa yang ditahan mulai terdengar. Pak Hari meletakkan kedua tangannya dibelakang leher. Matanya menerawang ke atas sambil tetap tersenyum.

“Ada apa pak? Apa ada yang salah?” Kataku selidik.

“Hmm..Bapak yakin ingin memperbaiki semua fasilitas dikampus ini?” Katanya dengan senyum mengejek.

“Tentu saja pak, itu kan sudah menjadi tugas saya.”

“Kamu kira memperbaiki semua fasilitas disini cukup dengan uang sepuluh juta??? Tidak pak! Butuh dana besar untuk memperbaikinya. Lagipula.. bapak ini kenapa capek-capek memikirkan mahasiswa yang belum tentu juga memikirkan bapak? Pokoknya kerja bapak disini hanya mengecek saja agar setidaknya kampus ini mempunyai pekerja yang lengkap dan anda mendapat gaji. Tidak usah repot-repot memperbaikinya segala!!!”

Aku tercengang mendengar kata-katanya yang sama sekali tiidak mementingkan soal prasarana yang sangat membutuhkan perhatian.

“Tapi pak,juga ada mahasiswa yang sependapat dengan saya. Kampus ini memang dari luar terlihat sangat megah, tapi fasilitas didalamnya ternyata sangat buruk. Jadi,apa tidak sebaiknya diperbaiki?”

“Sudahlah pak, tugas bapak hanya mengecek saja.. tidak usah ikut-ikut urusan mahasiswa. Soal kampus yang terlihat mewah itu memang sengaja dibuat untuk menarik mahasiswa agar banyak yang kuliah di universitas ini! Dan untuk masalah prasarana yang tidak memadai, memang itu merugikan bapak?? Tidak kan! Jadi, lebih baik bapak diam dan tidak usah ikut campur urusan kampus!”

Aku diam tertunduk merasa serba salah. Aku pikir beliau akan dengan senang hati memberikanku tenaga bantuan untuk memperbaiki prasarana di sini, tapi kenyataanya kampus ini hanya mementingkan kuantitas mahasiswanya saja tanpa memikirkan kenyamanan belajar yang tentunya berpengaruh pada keberhasilan mahasiswanya. Aku pikir apa yang aku lakukan benar, tetapi atasanku malah menyalahkan niat baikku. Aku dihimpit kebingungan, antara harus melanjutkan lagi permintaanku atau menyudahinya dan membiarkan fasilitas disini tetap tak berguna.

BRAKKK!! Suara pintu didobrak.

“Pak! Tolong temui kami dan dengarkan aspirasi kami!!” suara lantang seorang mahasiswa memecah suasana.

Suara ricuh ratusan mahasiswa mulai terdengar dengan jelas.Masih dalam keadaan kaget sekilas aku membaca spanduk yang diacung-acungkan ke atas.

“ADAKAN PERBAIKAN ATAU KAMPUS KAMI BUMI HANGUSKAN?”
Slider 3721030050656362853

Post a Comment

emo-but-icon

Home item

Follow by Email

ADS

Popular Posts

Random