Loading...

" Ramadhan "





Oleh: Lohanna Wibbi Assidi

Ramadhan!
Aku selalu menantimu
Sama seperti dulu
Dulu waktu aku masih seumur jagung
Masih sama, aku menantimu dengan riang gembira 
Penuh senyum di bibirku

Ramadhan!
Kau masih sama seperti dulu
Pengajarku akan derita lapar para si miskin
Pengajarku untuk selalu memberi pada sesama
Kau selalu membimbingku menahan nafsu badan ini
Nafsu birahi,nafsu congak  
Nafsu bermata hijau melihat duwit, nafsu suka menggunjing
Kau selalu mengajariku untuk menahannya

Ramadhan!
Berapa lama kau bersama para menteri,
Para DPR,
Para para petinggi negara lainnya
Setahun, dua tahun atau mungkin banyak-banyak tahun
Kau juga selalu mengajarinya
Ajaran yang sama seperti yang kau berikan padaku tiap kau datang
Tapi, dikemanakan ajaran yang kau berikan itu?
Dibuang ke sampah,
atau ke kali, aku tak tahu,
Setengah abad mungkin, kau mengajarinya,
Tapi hilang entah kemana,
Mata mereka selalu hijau karena duwit
Ingin selalu memilikinya

Ramadhan!
Kau yang salah
karena cuma sebulan  saja kau mengajarinya
Menemaninya memerangi nafsunya
Atau mereka yang salah
karena membuang selalu ajaranmu

Ramadhan!
Andaikan kau lebih lama
Tiga bulan atau empat bulan mungkin
Kau akan mengajari mereka, menemani mereka menahan nafsunya
Pastilah tak ada korupsi
Tak ada lagi rekening gendut
Tak ada lagi perut gendut penuh duwit

Ramadhan!
Tapi, itu andaikan saja,
Andaikan yang sungguh muskil
Sama muskilnya korupsi hilang pada negeri ini

Ponorogo, 29 Juni 2016

Fiksi 4115907130998010238

Post a Comment

emo-but-icon

Home item

Follow by Email

ADS

Popular Posts

Random