Iklan Layanan

Cuplikan

Hikayat Mata Air Penyelamat

ilustrasi


Cerpen: Krisna

Sendang Beji merupakan sebuah sumber mata air pada zaman Kerajaan Kediri Kuno. Tempat ini digunakan sebagai tempat pemandian khusus yang diperuntukkan bagi keluarga kerajaan. Di Sendang Beji terdapat kolam yang disusun dari batu bata. Selain kolam, juga terdapat patung-patung yang letaknya berada di pinggir sendang tersebut. Salah satunya adalah Dwarapala, sebuah arca berukuran besar dengan raut muka yang menakutkan, dengan mata melotot, bertaring panjang, sambil berlutut dengan memegang sebuah gada, senjata tumpul dari kelapa bundar yang ditancapkan pada sebuah batang dengan duri di atasnya. Dwarapala adalah simbol penolak bala.

Hanya kalangan keluarga kerajaan saja yang boleh mandi di sendang, sedangkan masyarakat biasa yang bukan bagian dari kerajaan, dilarang mandi di sendang tersebut. Bilamana melanggarnya, maka akan mendapatkan hukuman langsung dari pihak kerajaan.

Ada salah satu anak dari Raja Kediri yang sering menggunakan sendang ini untuk mandi. Dia bernama Raden Bimasena. Bimasena merupakan seorang yang tegas dan bijaksana. Dari kebijaksanaannya itu ia sangat disegani oleh warga sekitar. Tak hanya rakyatnya, Raden Bimasena juga sangat dihormati oleh kalangan kerajaan bahkan dari kerajaan-kerajaan lain. Salah satu bukti kebijaksanaannya adalah ketika ia berhasil menangani sengketa tanah makam yang telah lama tidak dapat terselesaikan.

Suatu hari, ada seorang penjual rempah-rempah yang sangat keras kepala bernama Dewani. Ia sudah mengetahui peraturan bahwa rakyat biasa atau bukan dari kalangan Kerajaan Kediri dilarang mandi di Sendang Beji. Namun, penjual rempah ini memilih untuk melanggar peraturan tersebut. Ia merasa bahwa sendang tersebut adalah milik semua orang dan tidak ada alasan untuk membatasi aksesnya.

Di sisi lain, Raden Bimasena diiringi prajurit kerajaan yang dipimpin senapati sedang dalam perjalanan menuju Sendang Beji untuk mandi. Ketika sampai di sana, ia melihat penjual rempah sedang mandi di sendang yang seharusnya hanya digunakan oleh keluarga kerajaan. Bimasena merasa heran dan terkejut setelah melihat perilaku yang dilakukan penjual rempah tersebut. Sedangkan senapati, segera mendekati penjual rempah tersebut dengan wajah murka dan menegurnya.

“Apakah kau tidak tahu bahwa sendang ini hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan?” tanya senapati dengan suara yang tegas.

Penjual rempah itu tersenyum sinis. “Aku tidak peduli dengan peraturan itu. Sendang ini adalah milik semua orang, termasuk aku!” jawabnya tak kalah lantang.

Mendengar jawaban itu, Raden Bimasena yang masih berada di atas kudanya merasa dilema. Di satu sisi, ia harus menjaga peraturan dan martabat kerajaan. Namun di sisi lain, ia juga merasa bahwa sendang ini seharusnya dapat dinikmati oleh semua orang dan tidak hanya dari keluarga kerajaan saja. Sebagai keluarga kerajaan, ia merasa harus menjaga peraturan dan sebagai seorang pemimpin, ia merasa harus memakmurkan rakyatnya.

Senapati yang geram dengan tingkah rakyat jelata kurang ajar itu segera memberikan pelajaran kepada penjual rempah tersebut. Kemudian senapati mengutus seorang prajurit untuk mengamankan si penjual rempah tersebut untuk dijebloskan ke dalam sel tahanan sebelum kemudian diberikan hukuman sebagaimana aturan yang berlaku.

Penjual rempah itu merasa kebingungan dan takut setelah seorang prajurit mengikat kedua tangannya dan membawanya untuk dijebloskan ke dalam penjara. Ia merasa bahwa hal itu sudah keterlaluan. Namun ia tetap diam, karena takut akan mendapatkan hukuman yang lebih berat. Raden Bimasena yang menyaksikan semuanya, merasa prihatin dengan keadaan rakyat di sekitar sendang. Ia sadar bahwa mereka juga membutuhkan akses air yang cukup untuk keperluan irigasi dan sanitasi.

Warga desa hidup serba kesusahan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka harus mengambil air dari sumber mata air yang berada di sebuah bukit yang jauh dengan berjalan kaki dari desa. Oleh sebab itu, ia bermaksud mengubah fungsi Sendang Beji agar bisa dimanfaatkan rakyatnya. Malam itu, ia berdiskusi dengan senapati kepercayaannya.

“Aku merasa sendang ini seharusnya tidak hanya dinikmati oleh keluarga kerajaan saja, Senapati. Mengapa tidak kita mengubahnya menjadi sumber air bersih untuk rakyat sekitar? Rakyatku butuh air yang cukup untuk memenuhi petak-petak sawah mereka, agar bisa tumbuh subur dan ranum. Barangkali air sendang juga menjadi sumber penghidupan yang paling rakyatku inginkan,” ujar Raden Bimasena pada Senapati.

Senapati mengangguk paham dengan usulan Raden Bimasena, akan tetapi ia merasa niat baik tuannya itu akan sulit dilaksanakan. “Kendati demikian, bagaimana dengan peraturan dari kerajaan, Raden? Apakah kita bisa mengubah peraturan tersebut?” tanya Senapati.

Raden Bimasena tersenyum. “Aku akan membicarakannya dengan raja. Aku yakin raja akan setuju jika ia mengetahui manfaat yang bisa didapat dari keputusan ini,” jawabnya.

Setelah Raden Bimasena berbicara dengan Senapati, ia kemudian segera mengajukan permintaan untuk mengubah fungsi Sendang Beji kepada Raja Kediri. Dengan langkah mantap, Bimasena masuk ke aula kerajaan lalu bersimpuh sambil menundukkan kepala. Salam penuh hormat ia sampaikan kepada sang ayah sebelum mengutarakan maksud hatinya.

“Salam hormat Raja. Semoga kesejahteraan mengalir dalam kehidupanmu.”

“Hamba menghadap dengan maksud melakukan permohonan khusus. Kiranya demi kesejahteraan rakyat Kediri, Sendang Beji tidak hanya dinikmati oleh keluarga kerajaan saja. Tampaknya cukup egois apabila tidak membaginya dengan rakyat Kediri yang membutuhkan sumber air murni untuk menyokong persawahan dan penghidupan mereka,” ucap Bimasena.

Raja Kediri terlihat agak ragu dengan permintaan tersebut. “Kau tahu sendiri Raden Bimasena, rakyat biasa tidak diperkenankan untuk menggunakan sendang itu, Putraku. Jika kita mengubah aturan itu, bagaimana dengan martabat keluarga kerajaan?”

Raden Bimasena menjawab dengan tegas, “Rajaku, Raja Kediri ayahku, hamba mengerti bahwa sebelumnya hal yang demikian merupakan peraturan yang harus dijaga, tetapi rakyat sedang membutuhkan bantuan kita. Mengubah sendang menjadi sumber air bersih untuk rakyat Kediri, akan memberikan dampak yang besar bagi mereka dan ini akan memperkuat hubungan baik antara kerajaan dan rakyat. Hamba percaya hal ini juga akan membuat keluarga kerajaan lebih dihormati.”

Mendengar kata-kata tersebut, Raja Kediri akhirnya setuju untuk mengubah fungsi Sendang Beji. “Baiklah, aku akan menyetujuinya. Namun, kau harus memastikan bahwa air dari sendang tersebut tetap bersih dan terjaga dengan baik,” titah Raja Kediri.

“Kami akan membentuk sebuah komite khusus untuk menjaga dan mengelolanya, Raja. Hamba sendirilah yang akan memimpin komite tersebut,” jawab Bimasena berusaha meyakinkan ayahnya.

“Baiklah jika kau bersedia bertanggung jawab menjaga sendang. Aku izinkan kau mengubah fungsi sendang, Raden Bimasena. Kelola dengan baik, karena kau mengerti sanksi yang akan kau dapat jika membuatnya berantakan,” pesan raja.

Raden Bimasena merasa senang dan bersyukur atas keputusan ayahnya. “Terima kasih, Raja. Hamba akan memastikan bahwa sendang tersebut terjaga dengan baik dan memberikan manfaat yang maksimal bagi rakyat sekitar,” ucapnya.

Setelah diputuskan oleh Raja Kediri, sendang Beji pun resmi diubah fungsi menjadi sumber air bersih untuk rakyat sekitar. Rakyat boleh mengambil air dari sendang itu setiap mereka membutuhkan. Penjual rempah Dewani pun diampuni dan dibebaskan oleh Raden Bimasena dan ia diberikan kesempatan untuk bergabung dengan komunitas rakyat yang bekerja untuk mengelola dan menjaga kebersihan sendang tersebut.

Ketika masyarakat sekitar mengetahui adanya perubahan tersebut, mereka merasa sangat gembira dan berterima kasih kepada Raden Bimasena dan Raja Kediri. Dari sinilah warga mulai dapat menggunakan air dari sendang dan lingkungan menjadi sehat. Suatu keputusan kecil yang Raden Bimasena buat, membawa perubahan besar bagi kehidupan rakyat Kediri. Ternyata, peraturan yang mengikat di masa lalu, bisa berubah menjadi sebuah manfaat jika digunakan secara bijaksana.







No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.