Iklan Layanan

Cuplikan

Jarang Terdengar, Mete Menjadi Potensi Tersembunyi di Wringinanom

 

(Foto: pixabay.com)


lpmalmillah.com - Desa Wringinanom yang berada di Kecamatan Sambit terkenal sebagai sentra industri genting. Hal ini bisa dilihat sepanjang jalan di desa ini. Pendistribusiannya juga telah menjangkau berbagai daerah, bahkan hingga luar Ponorogo. Namun, di balik itu ternyata masih tersimpan potensi lain dari desa ini yang belum banyak diketahui oleh khalayak. Salah satunya perkebunan mete yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

Perkebunan tersebut terletak di kawasan Perhutani Wringinanom. Sebelumnya, kawasan ini merupakan hutan belukar yang tidak terlalu terawat. Kemudian sekitar 4 tahun yang lalu, Perhutani dan pemerintah setempat menanaminya dengan tanaman mete.

Selain karena dulu sempat menjadi hutan belukar, ada alasan lain di balik penanaman pohon mete di Wringinanom. Adanya penanaman mete ini juga berhubungan dengan penghijaun yang dilakukan Perhutani. “[Penanaman pohon mete] membantu Perhutani agar hutan tetap bisa hijau, harus ditanami penghijauan,” ungkap Kadirin selaku ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Pemilihan pohon mete ini juga didasarkan pada inisiatif warga sekitar. Penanamannya yang hanya satu kali dan bisa menghasilkan buah terus menerus juga menjadi alasan dalam pemilihan pohon mete. “Dulu [penanaman mete] inisiatif dari masyarakat sini. Kemungkinan pertimbangannya karena jangka panennya yang panjang. Tanamannya juga cukup ditanam sekali dan berbuah terus,” ujar Jarmani, masyarakat yang turut menjadi penggarap mete. 

Jarmani juga mengatakan dulu sebelum adanya program penanaman mete, ada penanaman kopi yang pada akhirnya tidak tumbuh karena tanahnya tidak cocok di Wringinanom. Hal tersebut seperti yang dialami oleh Bonari. Ia juga mengungkapkan bahwa dulu pernah ditanami kopi tapi tidak ada yang tumbuh. “Saya pernah menanam ada [sekitar] 100 biji tapi tidak tumbuh dan akhirnya mencoba menanam mete ternyata berhasil ditanam hingga sekarang,” ungkap orang yang sekarang menjadi penggarap mete tersebut. 

Karakteristik tanah yang kering dan suhu cuaca di Wringinanom juga menjadi faktor keberhasilan penanaman pohon mete di desa ini. “Karena suhu tropis, dingin tidak panas juga tidak. Suhunya  cocok dengan mete,” ujar Suroso selaku bendahara LMDH.

Kadirin juga mengatakan mete memiliki kelebihan bisa ditanam walau di lahan kurang subur pun mete dapat tumbuh. Benih mete juga mudah dicari. Selain dengan membeli, benih mete juga bisa diperoleh dengan cara mencari buah mete yang sudah tua. Biji tersebut kemudian diairi nanti akan tumbuh dengan sendirinya.

Perkebunan mete yang terletak di Desa Wringinanom ini menjadi lahan yang paling luas se-Kecamatan Sambit. Luas lahan mete tersebut sekitar 300 hektar. Ada kurang lebih 400 penggarap lahan perkebunan mete yang berasal dari Desa Wringinanom. Dari lahan tersebut, pembagian lahannya disesuaikan dengan kemampuan dan kemauan. “[Penggarapan lahan] menyesuaikan kemampuan dan kemauan, rata-rata minimal 2 kotak,” ucap Kadirin.

Kemudian, sistem penggarapan lahan yang diterapkan juga disesuaikan dengan kemampuan penggarap. Hal ini disebabkan adanya kesibukan lainnya. “Karena orang-orang memiliki kesibukan masing-masing. Jadi kalau dipikir-pikir tidak akan mampu tenaganya,” jelas Suroso.

Walaupun terletak di lahan yang kering, kualitas mete yang dihasilkan Wringinanom tergolong baik. Bahkan hasil panen dalam satu tahunnya bisa mencapai 2 ton. Proses pemanenannya pun bisa dilakukan 3 hari sekali dalam jangka 1 bulan. Dalam masa panen, setiap harinya bisa menghasilkan 1-3 kilogram mete, tergantung dengan luas lahan penggarap. Pemanenan mete juga tergolong mudah tinggal menunggu buah mete jatuh lalu dipetik bijinya.

Biji mete yang telah dipetik kemudian dijemur dan dijual ke pengepul setempat. Jika dalam masa panen yang bagus setiap penggarap bisa menjual 1 karung mete per harinya. Selain itu, mete merupakan golongan kacang-kacangan yang dikenal dengan harga jualnya yang cukup tinggi. Suroso mengatakan rata-rata harga mete per kilogram biasanya Rp 18.000,-. Jika dalam masa panen, mete yang bagus bisa mencapai Rp 25.000,- per kilogram bahkan bisa lebih. 

Komoditi mete tidak hanya dijual ke distributor di daerah Ponorogo saja. Pemasaran dari mete juga sudah menjangkau beberapa daerah di luar kabupaten, seperti Wonogiri dan Sidoarjo. Kadirin mengungkapkan bahwasannya pemasaran mete di Wringinanom bagus dan mudah. “Mete pemasarannya bagus, pemasarannya juga tidak sulit,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Mistun yang juga seorang penggarap mengatakan bahwa dengan adanya pembudidayaan mete di Wringinanom dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarganya. “Ya, dari mete itu juga sangat membantu perekonomian saya,” ujarnya.

Tak hanya Mistun, Kadirin pun mengatakan sejak kawasan hutan itu ditanami mete dapat mendongkrak perekonomian masyarakat Wringinanom. Terakhir, selaku ketua LMDH, Kadirin memiliki harapan agar jaringan pemasaran mete di Wringinanom bisa lebih luas dan bisa mengoptimalkan pengolahan serta pemanfaatan mete agar tidak dijual bijinya saja. Mengingat pohon mete memiliki berbagai manfaat di dalamnya.


Penulis: Robiah

Reporter: Robiah, Rizki, dan Anas

No comments

Komentar apapun, tanggung jawab pribadi masing-masing komentator, bukan tanggung jawab redaksi.